Artikel Sosial Terpopuler
-
Pemilu di Mata Petani
Kurnia JR, 14-06-2009 (468 hits) -
Lingkungan Hidup dan Perdamaian
Marsya Christyanti, 18-02-2010 (410 hits) -
Yesus, Muhammad, dan Perdamaian
Andrey Thunggal, 18-02-2010 (396 hits) -
Pemulung untuk PEMILU
Meyrien Janevine, 14-06-2009 (387 hits) -
Mengantri Kebutuhan Hidup atau Gaya Hidup?
Emmanuel Jefferson & Fanny Surjana, 08-04-2010 (353 hits) -
Antara Paranoid dan Apatisme
Handi Cokrojoyo, 10-01-2010 (341 hits) -
Internet dan Suara Politik Rakyat
Kurniawan Adi Saputro, 07-12-2009 (339 hits) -
Imigran Gelap Mengejar Mimpi di Philadelphia
Irene Sulaiman, 14-06-2010 (262 hits) -
Belajar dari Dr. Martin Luther King Jr.
Emmanuel Jefferson, 20-01-2010 (246 hits) -
Pelacuran Intelektual - Ironi Nasionalisme
Joshua Agusta, 25-07-2010 (194 hits)
| Pelacuran Intelektual - Ironi Nasionalisme |
|
Mungkin potongan dari judul di atas cukup familiar di kalangan mahasiswa Universitas Indonesia, khususnya mereka yang terjun dalam dunia tulis-menulis. Ya, "Pelacuran Intelektual" merupakan salah satu artikel tulisan dari alm. Soe Hok Gie (1942-1969), alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Beliau merupakan salah satu alumni almamater saya yang saya kagumi, terutama dalam bidang tulis-menulis dan konsepsinya mengenai nasionalisme. Meninggal di usia yang sangat muda (27 tahun), beliau dapat memberikan pengaruh yang besar pada generasi muda Indonesia dengan tulisan-tulisannya yang sangat menggugah pikiran masyarakat untuk selalu berpikir kritis, tidak terkotak-kotak oleh tirani pemerintahan ataupun pembodohan dari kaum penjajah, baik dari dalam maupun luar negeri. Tulisannya yang kritis dan lugas selalu dengan lengkap menelanjangi kecacatan negara dengan kritik yang ia lontarkan kepada pemerintahan di zamannya. Artikel "Pelacuran Intelektual" tersebut merupakan salah satu karya beliau yang paling populer dan kritis dalam menyikapi nasionalisme. Diterbitkan di harian Sinar Harapan pada 21 April 1969, berikut adalah kutipan dari artikel tersebut: Ketika Rektor UI, Prof. Dr. Sumantri Brodjonegoro diangkat menjadi Menteri Pertambangan, saya datang padanya. Saya tanyakan mengapa ia mau diangkat menjadi menteri dan bekerja dengan bajingan-bajingan minyak, calo-calo modal asing dan pejabat yang korup dan sloganistis. Rektor menjawab bahwa hal-hal tadi juga disadarinya. "Tetapi kita punya dua pilihan jika kita melihat keburukan-keburukan yang terjadi di kalangan pemerintahan.Terjun ke dalam berusaha (dan belum tentu berhasil) memperbaikinya atau tinggal di luar sambil menantikan aparat tadi ambruk. Saya memilih yang pertama dengan segala konsekuensinya." Kutipan dari artikel yang beliau tulis ini melukiskan bagaimana seorang intelektual harus rela "melacurkan" intelektualitasnya, atau dengan spesifik dapat dikatakan sebagai konsepsinya, untuk terjun ke dalam pemerintahan yang busuk dan memperbaiki zaman. Pilihan yang berat, memang. Namun Prof. Sumantri dengan tegas menyatakan keinginannya untuk mengubah negara dan menerima segala konsekuensi untuk terjun ke lapangan pemerintahan. Daftar Pustaka: Badil, Rudy, Bekti, Luki Sutrisno (2010), "Soe Hok-Gie ...sekali lagi: Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya", Jakarta: KPG Image credit: http://www.sxc.hu/photo/1183643
|

