Artikel Sosial Terpopuler
-
Pemilu di Mata Petani
Kurnia JR, 14-06-2009 (468 hits) -
Lingkungan Hidup dan Perdamaian
Marsya Christyanti, 18-02-2010 (410 hits) -
Yesus, Muhammad, dan Perdamaian
Andrey Thunggal, 18-02-2010 (396 hits) -
Pemulung untuk PEMILU
Meyrien Janevine, 14-06-2009 (387 hits) -
Mengantri Kebutuhan Hidup atau Gaya Hidup?
Emmanuel Jefferson & Fanny Surjana, 08-04-2010 (353 hits) -
Antara Paranoid dan Apatisme
Handi Cokrojoyo, 10-01-2010 (341 hits) -
Internet dan Suara Politik Rakyat
Kurniawan Adi Saputro, 07-12-2009 (339 hits) -
Imigran Gelap Mengejar Mimpi di Philadelphia
Irene Sulaiman, 14-06-2010 (262 hits) -
Belajar dari Dr. Martin Luther King Jr.
Emmanuel Jefferson, 20-01-2010 (246 hits) -
Pelacuran Intelektual - Ironi Nasionalisme
Joshua Agusta, 25-07-2010 (193 hits)
| Kekerasan |
|
Artikel ini ditulis oleh Lea Yulianna, ibu dari Meyrien Janevine. Untuk melihat artikel lain yang ditulis oleh Meyrien Janevine, bisa meng-klik nama Lea Yulianna. Kekerasan di Indonesia sepertinya sudah marak dan menjadi hal yang biasa belakangan ini. Masih segar di dalam ingatan kekerasan yang terjadi Minggu Malam tanggal 30 Mei di Jalan Lingkar Luar Barat Duri Kosambi, Jakarta. Kejadian dipicu oleh serempetan antara mobil dengan sepeda motor diikuti cekcok mulut, kemudian pengroyokan yang menyebabkan salah seorang yang merupakan anggota ormas di Jakarta meninggal. Akibatnya, terjadilah pembalasan dengan pembakaran puluhan tempat penjualan kayu bekas di Rawa Buaya. Kekerasan sebelumnya terjadi tanggal 23 Mei di Mojokerto Jatim menjelang pemilihan PILKADA setempat. Puluhan mobil dan perkantoran pemerintah dibakar dan dirusak oleh massa yang tidak puas dengan hasil pilihan yang didapat. Seminggu sebelum itu, tanggal 14 Mei juga terjadi kekerasan di Terminal Peti Kemas didaerah Koja ,Jakarta Utara. Bentrokan terjadi antara Satuan Polisi Pamong Praja (SATPOL PP) yang berjumlah 3000-an dengan massa yang menolak penggusuran makam Mbah Priok yang akan digunakan untuk terminal container. Massa menyerang dengan menggunakan berbagai senjata tajam, bom Molotov dan batu-batu. Mereka melawan dengan sengit, menyebabkan tiga orang Satpol PP tewas di tempat kejadian. Belum yang terjadi diluar pulau Jawa, seperti pertikaian antara suku di Kwankilama Papua atau pun kerusuhan yang belum lama ini terjadi di Batam, Sampit, Poso. Tidak jarang juga tawuran antar pelajar atau supporter sepakbola dan kejadian-kejadian lain yang hampir setiap harinya terjadi diseantero Nusantara. Bila memikirkan semua itu, miris rasanya hati. Terpikir sepertinya kita sudah bukan merupakan satu kesatuan bangsa Indonesia lagi. Masing-masing membawa ke-egoannya dengan mengatas namakan suku, agama, bahkan kelompok ormas yang sepertinya juga sudah merupakan kesatuan tentara-tentara kecil lengkap dengan pangkat komandan, baju seragam, pentungan dan latihan-latihan bela dirinya. Padahal kalau di pikir-pikir yang dihadapi kelak bukanlah musuh orang luar melainkan saudara setanah air. Belum lagi kesenjangan ekonomi yang menyebabkan orang lebih mementingkan urusan perut sendiri dibandingkan kesejahteraan orang lain. Banyak orang yang gampang diajak bergabung dengan mereka yang dianggap bisa membela kepentingan mereka dalam menyelesaikan masalah-masalah dibandingkan harus berurusan dengan aparat hukum yang mereka anggap lambat atau tidak adil. Saya jadi ingat akan perkataan bekas wakil presiden kita Jusuf Kalla yang di ucapkan dalam sambutan memperingati hari lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni dalam acara seminar restorasi Nasional Demokrat. Beliau mengatakan “Sepertinya sekarang apabila terjadi pengrusakan atau pembunuhan yang dilakukan oleh sekelompok orang maka aparat tidak berdaya mengambil tindakan-tindakan, jadi tak ada seorangpun yang dapat dijadikan tersangka.” Wah bagaimana jadinya kalau kelemahan dan celah hukum dalam hal ini di manfaatkan sekelompok orang untuk melakukan kejahatan dengan cara berkelompok atau beramai-ramai? Menurut saya semua masalah berpangkal pada ketidak jelasan penegakan hukum di negeri kita, dimana banyak orang-orang yang seharusnya dihukum sepantasnya. Contohnya seperti koruptor-koruptor kelas berat yang malah sering kali hukumannya lebih ringan dibandingkan rakyat biasa yang mencuri ayam. Bukankah hukum yang ditegakkan seharusnya adil dan tegas tanpa memandang bulu yang bersalah? Sungguh kita tidak pernah mengharapkan bangsa kita yang dulu terkenal santun dan ramah berubah menjadi bangsa barbar, negeri kita yang begitu indah dan makmur menjadi negeri preman. Semoga Tuhan melindungi bangsa kita. ---- Image credit: http://www.sxc.hu/photo/1006530 |

