Artikel Sosial Terpopuler

  1. Pemilu di Mata Petani
    Kurnia JR, 14-06-2009 (472 hits)
  2. Lingkungan Hidup dan Perdamaian
    Marsya Christyanti, 18-02-2010 (414 hits)
  3. Yesus, Muhammad, dan Perdamaian
    Andrey Thunggal, 18-02-2010 (401 hits)
  4. Pemulung untuk PEMILU
    Meyrien Janevine, 14-06-2009 (391 hits)
  5. Mengantri Kebutuhan Hidup atau Gaya Hidup?
    Emmanuel Jefferson & Fanny Surjana, 08-04-2010 (359 hits)
  6. Antara Paranoid dan Apatisme
    Handi Cokrojoyo, 10-01-2010 (345 hits)
  7. Internet dan Suara Politik Rakyat
    Kurniawan Adi Saputro, 07-12-2009 (341 hits)
  8. Imigran Gelap Mengejar Mimpi di Philadelphia
    Irene Sulaiman, 14-06-2010 (270 hits)
  9. Belajar dari Dr. Martin Luther King Jr.
    Emmanuel Jefferson, 20-01-2010 (248 hits)
  10. Pelacuran Intelektual - Ironi Nasionalisme
    Joshua Agusta, 25-07-2010 (198 hits)

Arsip Sosial

Imigran Gelap Mengejar Mimpi di Philadelphia
Irene Sulaiman    14-06-2010  
( 6 Votes )
  

Sejak pindah dari Lawrence, KS ke Philadelphia, PA, saya melihat begitu banyak perbedaan di antara dua kota itu. Dari yang tadinya sesama orang Indonesia hanya beberapa gelintir, sekarang orang Indonesia seakan berjubel. Apalagi di Philadelphia dilengkapi oleh warung-warung makanan Indonesia yang berlimpah di sini. Sungguh tidak bisa menyangka kalau makan pagi-pun bisa mendapatkan nasi uduk dan sambel. Benar-benar seperti di Indonesia.

Suasana Philadelphia lain sekali dari kota-kota pelajar seperti Tucson, AZ ataupun Lawrence, KS.  Orang Indonesia yang saya kenal kebanyakan terbagi dari 2 kategori: pelajar atau yang sudah bekerja. Tetapi, orang-orang Indonesia yang di Philadelphia kebanyakan adalah pekerja yang tidak mempunyai surat izin kerja. Selama saya sebulan di sini, semakin banyak pengetahuan tentang kehidupan imigran gelap ini.

Kebanyakan yang berniat berkerja gelap di sini saat meminta visa di Konsulat Amerika Serikat beralasan bahwa mereka akan berlibur untuk dapat visa turis B-1 atau B-2, yang lalu mereka lewati batas waktu tempo visanya. Karena mereka tidak mempunyai dokumen imigran yang sah, mereka tidak punya Social Security Number (SSN) yang merupakan kartu untuk memberikan status lazim untuk orang yang ingin bekerja secara legal. Karena kebanyakan dari pekerja ini tidak mempunyai SSN, banyak sekali dari mereka yang akhirnya bekerja di pabrik, bergaulnya dengan sesama orang dari Tanah Air juga. Karena hanya bertemen eksklusif dengan orang Indonesia saja, biarpun sudah di sini lebih dari 5 tahun, Bahasa Inggris mereka juga masih kurang bagus. Ada pula orang Indonesia yang tadinya imigran gelap dan akhirnya diberikan kewarganegaraan Amerika Serikat akhirnya menjadi agen untuk mempekerjakan orang Indonesia yang tidak ada surat. Agen-agen ini juga mempunyai risiko yang cukup tinggi karena mereka juga bisa tertangkap oleh yang berwajib. Saat itu terjadi, pekerja gelap ini tinggal mencari agen lain, yang sepertinya tidak susah dicari di Philadelphia.

Sebenarnya, orang-orang yang datang ke Amerika untuk mencari impian hidup enak di Amerika ini (American dream kata ngetop sesama imigran dari seluruh dunia) kehidupannya sangat berat. Pada dasarnya, kebanyakan pabrik menyediakan fasilitas mobil untuk mengantar dan menjemput. Susahnya tidak mempunyai surat izin bekerja dan SSN, Surat Ijin Mengendarai-pun (SIM) tidak punya. Akhirnya, pekerja gelap ini kemana-mana menggunakan transportasi umum dan pabrik menyediakan mobil antar jemput agar bisa cepat mengumpulkan mereka untuk bekerja.

Pekerja gelap ini umumnya dibayar dengan gaji minimum. Jika bekerja di pabrik, mungkin tarifnya sekitar $5/jam. Saat lembur, mereka tidak diberikan insentif untuk dibayar lebih, tentunya tidak mendapatkan asuransi kesehatan ataupun jiwa.

Kegigihan bekerja merekapun patut diancung jempol. Banyak orang Indonesia di sini bekerja 7 hari dalam seminggu dan mengambil shift kerja dobel, jadi mereka bisa bekerja 16 jam sehari! Jam istirahat di pabrik itu paling 2 jam, jadi total waktu yang dihabiskan bekerja 18 jam. Mereka tidur mungkin hanya 4 jam saja. Jadi jadwal mereka setiap harinya kira-kira seperti ini: dijemput jam 5 pagi, pulang tengah malam, tidur tengah malam, jam 4 pagi sudah bangun lagi untuk mandi, jam 5 pagi dijemput untuk berangkat bekerja. Itulah kehidupan mereka setiap harinya. Ada salah satu temanku yang menyeletuk bahwa ada tante-tante warga Indonesia keturunan Cina yang bukan saja bekerja shift dobel, masih bisa membuat bacang lagi!

Memang banyak orang Indonesia di Philadelphia yang berjualan bacang, nasi (yang lalu dikirim ke toko-toko kelontong khas Indonesia), kue-kue untuk uang tambahan sampingan. Terkadang saya bingung bagaimana caranya pekerja gelap ini bisa bekerjanya shift dobel, 7 hari dalam seminggu dan masih sempat-sempatnya berjualan makanan pula.

Untuk pekerja gelap yang kerjanya bukan shift dobel, si pemilik pabrik suka semau sendiri saja. Jika orang-orang bule yang kerja shift sebelumnya belum selesai mencapai kuota produksi barang untuk hari itu, pekerja gelap itu kemudian ditelpon hari itu juga untuk masuk kerja tengah malam. Banyak dari pekerja Indonesia ini akhirnya kesal karena diberikan pemberitahuannya singkat sekali dan sama sekali tidak dibayar uang lembur. Tapi ada juga orang Indonesia lain malah marah-marah jika tidak dikasih jam kerja lebih ataupun shift dobel!

Akhir-akhir ini di Philadelphia ada kejadian gempar yang dikarenakan oleh seorang bapak Indonesia yang baru berumur 40 tahunan meninggal di kamar mandi jam 3 pagi saat dia sedang mandi. Sepertinya dia sedang bersiap-siap untuk berangkat bekerja, tetapi malahan meninggal karena kena serangan jantung. Bapak ini juga salah satu dari mereka yang kerjanya 7 hari seminggu dan shift dobel.

Anehnya lagi, teman-teman di sini tidak kaget mendengarkan kabar ini. Ternyata banyak sekali orang Indonesia lainnya yang meninggal karena kerja yang melewati daya tahan fisik mereka. Teman-teman juga bilang kalau orang-orang yang bekerja 7 hari seminggu dan ber-shift dobel makannya juga tidak bener. Mereka memilih menyantap makanan yang murah-murah, jadi tidak heran jika banyak yang meninggal. Berita ini mungkin sedikit heboh karena yang meninggal masih muda.

Terkadang saya berpikir seberapa kecil orang menganggap nyawa mereka demi uang.  Ada teman yang berkomentar, "Dia itu perginya naek Eva Air, pulangnya pakai guci." Bukan Gucci, merek jam terkenal itu, tetapi guci untuk menaruh abu jenasah mereka. Ironisnya, untuk membakar jenasah biayanya bisa sampai $7,000, jadi bekerja sekeras apapun, gajinya hanya untuk membakar dirinya sendiri.

Dulu saya sempat berpikir mengapa orang Indonesia yang menjadi imigran gelap ini berpikiran pendek. Mengapa mereka mau bekerja seperti kerja rodi? Sampai kapan badan mereka bisa tahan? Mengapa mereka tidak kerja dan sekolah saja, jadi bisa menginvestasikan dirinya sendiri untuk masa depan? Kalau sudah sampai di negeri jiran, bawalah pulang ilmu dari negeri tersebut. Bukankah lagi marak-maraknya kuliah online jaman sekarang ini? Tapi pertanyaanku langsung ditepis oleh salah seorang temanku yang bilang bahwa dengan gaji yang sangat minimal, $5 per jamnya, 8 jam sehari, itu paling hanya menghasilkan $250/minggu, bagaimana mereka bisa bayar uang sekolah? Yang tidak bisa dipelikan lagi, banyak dari pekerja gelap ini Inggrisnya sangat pas-pasan. Karena mereka di sini hanya bekerja dan hidup dalam lingkungan yang itu-itu saja, mereka juga tidak mendapatkan banyak informasi lain untuk memperbaiki hidup mereka. Mereka tidak mengetahui kelas online, mau mendaftarkan diri untuk masuk sekolah juga bingung sendiri. Akhirnya mereka malahan terus terbelenggu dengan hidup susah yang mereka tahui, yaitu terus bekerja sekeras mungkin. 

Di samping cerita soal pekerja gelap yang meninggal karena kerja (ataupun mereka yang terkena kecelakaan di tempat kerja dan tidak bisa ke dokter, lagi-lagi karena tidak mempunyai SSN), di sini juga lumayan umum mengetahui bahwa orang Indonesia yang kalau bukan selingkuh, diselingkuhi.  Mereka jauh dari keluarga, yang semuanya di Indonesia, di sini bertahan hidup saja sambil mengirimkan uang ke Indonesia. Ada juga yang bukan karena jauh dari keluarga, tapi karena jalan dengan orang lain. Sampai-sampai Romo gerejsaya bilang, "Tadinya datangnya kemari barengan sebagai suami istri, eh sekarang suaminya sudah gandeng istri orang, si istri sudah gandeng suami orang." Ah, kehidupan seorang imigran seperti semakin dipersulit dengan komplikasi sosial masing-masing.

Selain masalah kerja, perselingkuhan, ada juga banyak kasus orang Indonesia yang kesepian. Banyak dari mereka mencari jodoh yang masih muda dan belum menikah. Ada yang sudah 10 tahun di sini, sekarang dia berumur 31 tahun dan merasa sangat kesepian. Kehidupnya hanya dihabiskan di pabrik saja dan karena sudah menjalani rutinitas yang sama, alhasil dia menjadi kurang percaya diri. Mungkin karena rasanya sudah kehilangan kontak dengan dunia luar selain kerja. Selama 10 tahun terakhir itu, di saat dunia terus berganti, dia sendiri tidak berkembang, bekerja dengan orang yang sama, melsayakan pekerjaan yang sama saja, dan disekelilingi orang yang itu-itu saja.

Saya tidak mau menjelek-jelekan individu-individu yang jasanya tidak dikenal oleh banyak orang, termasuk keluarganya sendiri. Terbukti orang-orang Indonesia ini berkeyakinan kuat, bermental baja, dan tak gampang menyerah. Mereka adalah orang yang mengejar the American Dream, orang yang tidak memperdulikan dirinya sendiri demi persepsi kehidupan enak atau untuk memberikan kehidupan yang lebih untuk suami/istri dan anak-anak. Menurutku, itu adalah sosok pahlawan dalam setiap dari diri mereka yang patut dipuji (meskipun saya kurang setuju dengan cara mereka menyiksa dirinya demi uang). Oleh karena itu, saya turut kagum. Kuharap mereka akhirnya akan mendapatkan American Dream yang mereka impikan. Jika tidak, kuharap anak cucu mereka turut menghargai hasil kerja keras mereka.

Comments
Add New
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.