Artikel Sosial Terpopuler

  1. Pemilu di Mata Petani
    Kurnia JR, 14-06-2009 (468 hits)
  2. Lingkungan Hidup dan Perdamaian
    Marsya Christyanti, 18-02-2010 (410 hits)
  3. Yesus, Muhammad, dan Perdamaian
    Andrey Thunggal, 18-02-2010 (396 hits)
  4. Pemulung untuk PEMILU
    Meyrien Janevine, 14-06-2009 (387 hits)
  5. Mengantri Kebutuhan Hidup atau Gaya Hidup?
    Emmanuel Jefferson & Fanny Surjana, 08-04-2010 (353 hits)
  6. Antara Paranoid dan Apatisme
    Handi Cokrojoyo, 10-01-2010 (341 hits)
  7. Internet dan Suara Politik Rakyat
    Kurniawan Adi Saputro, 07-12-2009 (339 hits)
  8. Imigran Gelap Mengejar Mimpi di Philadelphia
    Irene Sulaiman, 14-06-2010 (262 hits)
  9. Belajar dari Dr. Martin Luther King Jr.
    Emmanuel Jefferson, 20-01-2010 (246 hits)
  10. Pelacuran Intelektual - Ironi Nasionalisme
    Joshua Agusta, 25-07-2010 (193 hits)

Arsip Sosial

Sosial
Terjajah Dalam Kemerdekaan
Wiji Suprayogi   
05-09-2010
( 0 Votes )

Menyebalkan, tiba-tiba saya merasa tidak memiliki ikatan apa pun dengan kata kemerdekaan. Saya merasa hampa ketika tiba-tiba di bulan Agustus ini mendengar kata merdeka kembali sering diperdengarkan. Apakah saya benar-benar bisa merdeka? Itu yang tiba-tiba saya pikirkan ketika kembali mendengar kata: merdeka. Pengkotbah di Gereja meneriakkan kata merdeka berulang kali. Tapi tetap saya berpikir: kita ini terjajah, di mana pun dan kapan pun. Mungkin karena pada dasarnya kita terjajah sejak kecil.           

1.   Waktu SD banyak kasus penjajahan. Guru yang galak sehingga membuat takut. Pelajaran yang begitu banyak. PR yang menumpuk. Seragam yang membelenggu. Uang sekolah yang besar. Pelajaran hanya menghafal. Sulit menemukan rasa senang di sekolah. Bermain pun dibatasi.        

2.   Waktu SMP dan SMA bertambah lagi kasusnya. Uang gedung membesar lagi. Kebutuhan gaya hidup mulai muncul. Guru tetap galak. Seragam masih ada. Kakak kelas mulai malak. Kehidupan remaja mulai menekan. PR lebih banyak lagi. Masa depan terlihat suram. Sekolah kok ya nganggur. Mau kuliah tidak ada uang.

3.   Banyak yang merasa masa mahasiswa adalah masa yang memerdekakan. Tapi banyak hal terlarang dipelajari. Pengenalan kepada sistem-sistem membuka pikiran kalau kita terjajah secara ekonomi. Menentukan hidup sendiri juga kesulitan. Tuntutan hidup makin besar. Ada lagi yang terjebak narkoba dan tindakan haram lainnya. Bahkan untuk bersenang-senang kita dituntun gaya hidup yang katanya membebaskan. Dosen-dosen ternyata banyak yang membosankan. Tembok kuliah serasa membosankan. Ternyata ancaman menganggur makin nampak nyata

4.   Bekerja lebih repot lagi. Atasan menekan. Teman menekan. Kebutuhan menghimpit. Istri atau suami menjajah. Anak menuntut. Saudara-saudara menekan.

Kita tiba-tiba mendengar apa pun yang kita lakukan ditentukan oleh negara yang lebih maju. Mungkin semua terdengar melebih-lebihkan. Tapi pada kenyataannya menggunakan sabun pun kita diatur oleh iklan. Jam berkegiatan ditentukan oleh TV dan acaranya. Begitu keluar rumah kita sudah dibombardir iklan yang sangat sugestif sehingga tanpa sadar kita mengikutinya. Begitulah dalam dunia yang semakin global. Keputusan sekecil apapun sebenarnya dituntun kekuatan amat besar yang tersembunyi dan tak terkendali dan itu bukan Tuhan. Kekuatan ekonomi, kekuatan tata sosial, dan ketakutan kehancuran bumi. Semakin kita berlomba meningkatkan kesejahteraan semakin kita perlu menjajah orang lain. Supaya kita lebih sejahtera. Mungkin memang secara alamiah kita harus saling menjajah.


Ah mungkin saya berlebihan ya... tapi sejatinya kita perlu terus berpikir untuk terbebas dari penjajahan kebodohan dan kemalasan. Mungkin sekali karena kita ini bodoh dan malas, maka dijajah pun kita tidak terasa

(Tulisan ini pernah dimuat juga di glorianet.org)

 
17 Agustus, Sudahkah Kita Merdeka
Marlina Triesjayanti   
29-08-2010
( 1 Vote )

Pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan penuh perjuangan dan tumpah darah penghabisan, putra-putri Indonesia akhirnya berhasil merengkuh kemerdekaan. Namun, setelah enam puluh lima tahun berselang, sudahkah Indonesia mencapai kemerdekaan yang sebenarnya?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia1, merdeka berarti berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat atau tergantung pada pihak tertentu. Otak saya begitu tergelitik saat saya meresapi makna kata merdeka ini. Bertahun-tahun sudah Indonesia merdeka, namun ternyata, kemerdekaan yang kita nikmati hanyalah kemerdekaan semu. Kenyataannya, Indonesia masih belum benar-benar bebas dari pengaruh bangsalain.

Pengaruh besar bangsa lain terhadap kemajuan Indonesia terlihat pada tingkah laku generasi muda Indonesia. Sebagian besar dari mereka lebih bangga mengenakan produk buatan luar negeri daripada produk buatan dalam negeri. Sebagai contoh: batik semakin jarang muncul dalam acara-acara penting dibanding pakaian merek luar negeri ternama. Bahkan, jumlah warga negara Indonesia yang akhirnya meninggalkan identitasnya sebagai bangsa Indonesia pun semakin meningkat. Di berbagai tempat umum di Indonesia, percakapan antar sesama generasi muda dalam bahasa Indonesia yang bercampur dengan bahasa Inggris menjadi sesuatu yang biasa, bahkan dipandang hebat

Di sisi lain, banyak orang Indonesia berlomba-lomba untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Sayangnya, tidak sedikit dari bibit penerus Indonesia ini yang akhirnya memutuskan untuk tinggal di luar negeri dengan berbagai alasan. Padahal, Indonesia sangat memerlukan buah pikir sarjana-sarjana didikan luar negeri ini untuk meningkatkan perkembangan Indonesia di berbagai bidang. Fakta menyedihkan ini menandakan hilangnya jiwa nasionalisme generasi penerus bangsa.

Punahnya cinta tanah air pada generasi penerus Indonesia berdampak negatif pada kelestarian budaya Indonesia. Jumlah peminat seni dan kebudayaan Indonesia pun semakin menurun. Hal ini dapat dibuktikan dengan terbatasnya minat generasi muda Indonesia untuk menonton atau mempelajari seni asli Indonesia, misalnya menonton pertunjukan wayang golek. Kebudayaan asli Indonesia sering dipandang sebagai sesuatu yang kuno, bahkan memalukan. Padahal, kebudayaan adalah unsur penting pembentuk identitas bangsa, penentu ciri khas bangsa yang membedakan kita dari bangsa lain.

Cinta tanah air merupakan elemen penting penyusun dasar negara yang kuat. Dengan degradasi nasionalisme yang menerpa generasi muda saat ini, kelangsungan identitas bangsa Indonesia berada di ujung tanduk. Apalagi di era perdagangan bebas, dengan menipisnya kecintaan pada bangsa sendiri, Indonesia akan sulit untuk tetap berdiri kokoh saat diterpa hantaman produk luar negeri.

Nasionalisme seharusnya sudah dipupuk sejak kecil dengan mendekatkan diri pada budaya asli Indonesia. Cara mudah untuk memperkokoh identitas bangsa adalah dengan berbicara Bahasa Indonesia dengan benar, tanpa harus dibumbui bahasa asing agar terdengar intelek. Langkah lain yang dapat ditempuh adalah dengan menggunakan produk asli Indonesia dan mendalami budaya asli Indonesia. Nasionalisme menjadi nyata saat kita sebagai putra-putri Indonesia juga bangga dengan akar budaya kita sebagai bangsa Indonesia.

Kemerdekaan bukanlah sebuah pernyataan proklamasi yang dibacakan Bung Karno enam puluh lima tahun yang lalu semata, tetapi keberhasilan Bangsa Indonesia untuk memperkuat identitasnya, sementara di sisi lain, mampu melepaskan pengaruh bangsa lain. Kemerdekaan yang sejati hanya tercapai saat kita semua, sebagai bibit bangsa Indonesia dapat mempertahankan identitas negara, mencintai Indonesia, dan memberikan buah pikir kita demi kemajuan bangsa. Kemerdekaan sesungguhnya hanya dapat kita rengkuh saat kita mampu berkata kepada bangsa lain, “Saya orang Indonesia dan saya cinta Indonesia”.

 

1 Kamus Besar Bahasa Indonesia

 
Diskusi: Bahasa Indonesia Dalam Bahaya - Bagian 2 dari 2
Redaksi Waraskita   
26-08-2010
( 3 Votes )

Diskusi dibawah ini adalah bagian kedua dari diskusi antara anggota Keongmas menanggapi artikel The New York Times yang berpendapat bahwa bahasa Indonesia berada dalam bahaya. Diskusi bagian pertama dapat dilihat di-sini. 

 

IL: Aku sepertinya susah mempercayai bahwa masalah ini nyata. Pasti populasi pada umumnya lebih memilih bisa handal bercakap menggunakan Bahasa Inggris kebanding Bahasa Indonesia. Kenapa tidak? Toh memang lebih praktis buat masa depan dan dipakai waktu kerja. Tapi rasanya meragukan untuk menyatakan bahwa ada sebagian masyarakat yang tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali.


Apakah dari kita ada yang tahu secara pribadi orang Indonesia yang tidak bisa berbahasa Indonesia? Artikel ini tidak menyebutkan satu pun data statistik. Semua klaim yang diajukan bersifat anekdot. Bukan berarti otomatis artikelnya salah, tetapi kita harus berpikir mungkin penulis hanya menggambarkan persepsi dia pribadi. 


Kemungkinan besar, populasi yang digambarkan di artikel ini hanya kasus ekstrim. Kecuali populasi menengah ke atas Indonesia tiba-tiba melejit secara eksponensial, saya rasa kita tidak harus khawatir tentang masa depan Bahasa Indonesia. Jika keluarga melihat anaknya akan tinggal di Indonesia, orang tua pasti memastikan agar anaknya dapat hidup di Indonesia. Jika rencana mereka untuk keluar negeri, maka mereka juga tidak memupukkan Bahasa Indonesia ke anak. Semua menang. 


Kalau yang tentang Miss Indonesia, kita mesti bertanya: Apakah dia bisa menang Miss Indonesia walau dia tidak bisa Bahasa Inggris? Ataukah dia menang justru karena dia tidak bisa Bahasa Inggris? Ini fenomena yang MJ maksud, dan sifat seperti ini yang lebih merusak perkembangan sastra Indonesia. 


JT: Orang tua yang mengajarkan anaknya Bahasa Inggris, pasti tinggal dikota besar (Jakarta, Surabaya, dll). Andai mereka pernah ke daerah, mereka pasti mensyukuri adanya bahasa Indonesia. Apa mungkin kita perlu jadi se-ekstrim orang yang berdarah Meksiko di Amerika, yang benci benar dengan Spanglish (Bahasa Inggris dengan aksen Spanish)? Kalau ada orang yang campur Inggris dengan Spanish dalam satu kalimat, orang itu langsung diledekin habis-habisan. 


JS: Dari segi kenegaraan, fenomena ini bisa dilihat sebagai ancaman (walau masih dalam tahap sangat awal) karena salah satu pilar yang menopang persatuan Indonesia adalah Bahasa Indonesia. Kalau trend ini semakin meluas, maka berkurang satu hal lagi hal yang sama diantara penduduk Indonesia, dan siapa tahu ini akan menjadi satu daya pendorong semakin terpecahnya Indonesia?


Di sisi lain, Amerika sendiri sebetulnya tidak mempunyai bahasa resmi, tapi warganya selama ini masih cukup bersatu karena mereka mempunyai pengikat kuat di hal-hal lain, misalnya kesamaan latar belakang imigran, pegangan yang kuat terhadap prinsip-prinsip di Pernyataan Kemerdekaan Amerika Serikat. 


Anak saya sendiri yang belum umur 2 tahun berbicara dengan menggunakan campuran Indonesia dan Inggris dan sering kali menggunakan kedua bahasa dalam satu kalimat. Kami pikir praktisnya saja, yaitu bahwa bahasa itu pada akhirnya hanya suatu alat untuk menyampaikan pesan dari kepala kita kepada pendengar.


Jadi setuju sama MJ mengenai sebab fenomena ini terjadi: 1)karena krisis identitas/ketidakamanan, sebagai tambahan karena 2)kurangnya kecintaan kepada Bahasa Indonesia, 3)begitu semakin kuatnya pengaruh kultur barat yang memakai medium Inggris dalam penyampaian apa yang menjadi tren saat ini (Kultur barat di dekade terakhir semakin dikenal oleh rakyat Indonesia dikarenakan pengaruh film, musik, dan mudahnya akses Internet)


CS: Jadi menurut opini-opini di atas, saya coba rumuskan 1 pertanyaan mendasar:


"Bahasa sebagai alat untuk mengungkapkan pikiran (dan fungsional) atau bahasa sebagai budaya dan bentuk nasionalisme?"


Ketika bahasa dianggap sebagai alat untuk mengungkapkan pikiran, berarti kita mempersilahkan adanya Indo-lish (atau Engdonesia). Itu karena kita mau bahasa itu fungsional dan bisa diadaptasi sesuai situasi, tetapi kita masih memaki-maki orang yang tidak bisa cara pakainya atau menggunakan Bahasa Inggris dengan logat Indonesia. Jelas saja kita geli melihatnya karena kita pernah tinggal di Amerika. Toh orang India juga berbicara Bahasa Inggris yang berlogat kental dan mempunyai struktur kalimat yang salah? Apakah mereka juga punya masalah seperti kita?


Tapi apa maksud presiden kita bilang "Kita memakai bahasa yang satu, Bahasa Indonesia" sebagai bahasa persatuan. Apa itu artinya "Bahasa adalah budaya" yang sering kita dengar. Bahasa mendefinisikan budaya, bahasa mendefinisikan bangsa. Apakah ini masih bisa diaminkan di jaman globalisasi ini? Apakah ketika kita campur Indonesia dan Inggris, itu berarti kita tidak bangga memakai bahasa sendiri dan oleh karena itu kurang nasionalis? Apakah kalau setiap hari kita memakai bahasa Indonesia dengan baik dan benar, itu artinya nasionalis?


Opini-opini kita bertentangan kan?


Jika kita tidak menerima bahasa inggris, kita tidak maju-maju. Kalau menerima Bahasa Inggris, kemungkinan yang REALISTIS adalah terjadinya logat-logat tersendiri, yang terjadi seperti Singlish, Maylish, atau Indialish. Lalu yang realistis lagi terjadinya penggunaan Bahasa Inggris yang dikutip di media-media publik. Kita malah tidak suka saat itu terjadi. Kalau logat Inggrisnya sudah bagus, cara pakainya benar..  dibilang budaya kita luntur.


Jadi, apa yang harus kita pegang? Saya tidak mau menjawab, “Ya, harus seimbang diantara dua bahasa.”


AN: Mengenai kelas atas di Indonesia yang mengirimkan anak-anaknya ke sekolah international, aku rasa itu sebetulnya cara mereka mempersiapkan anak-anak mereka untuk globalisasi. Memang ironis karena banyak orang-orang yang tidak memikirkan bahasa sebagai warisan budaya dan oleh karenanya ada krisis identitas, tetapi ini juga dikarenakan ketakutan kalah bersaing dan ini pastinya dialami semua negara dimana Inggris bukan menjadi salah satu bahasa utama negara itu. Saat ini pun penggunaan Inggris sebagai bahasa internasional mungkin akan mulai berkurang dengan menguatnya Cina, setidaknya dikawasan Asia.


Mengenai pengalaman pribadi, sejak hampir 2 tahun pulang ke Indonesia, aku masih beradaptasi untuk berbicara Indonesia dengan benar. Karena saat di Amerika aku juga banyak bicara Indonesia dengan teman-teman, tidak ada masalah kalau berbicara secara informal. Yang jadi masalah itu waktu harus bicara secara formal seperti di kantor atau saat pidato di depan umum. Sepertinya banyak kata-kata yang jauh lebih menonjol dan berarti dalam Bahasa Inggris dibanding Bahasa Indonesia. Hal lain yang ironis adalah kadang aku malah tahu kata Inggrisnya dan tidak tahu apa versi Bahasa Indonesianya, bahkan perlu ke kamus.net.

Jadi apakah itu berarti nasionalisme seseorang diukur dari kemampuannya berbahasa ibu? Sepertinya relatif, tergantung apa alasannya. Aku rasa setidaknya temen-teman Keongmas tidak ada yang menggunakannya supaya kelihatan lebih keren.


Menurutku, bahasa itu berfungsi satu yaitu sebagai alat komunikasi dan justru karena fungsi inilah bahasa bisa menjadi alat persatuan. Jangan harap bersatu kalau mengerti saja tidak.

 

Beberapa hal hasil dari diskusi ini adalah:

  • Ada kecenderungan dimana seberapa bagian masyarakat mulai lebih memilih untuk belajar bahasa Inggris dikarenakan pentingnya untuk menghadapi kompetisi masa depan, khususnya globalisasi
  • Di bagian masyarakat tertentu yang lain, lebih memilih Bahasa Inggris karena dianggap keren, "cool", yang diakibatkan oleh arus informasi dan teknologi yang menggunakan bahasa Inggris sebagai media
  • Bahasa Inggris harus diterima dalam dunia pendidikan Indonesia, untuk menyiapkan generasi Indonesia yang siap ber-kompetisi dalam ajang International
  • Namun, Bahasa Indonesia harus tetap menjadi bahasa utama dan dipertahankan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai bagian integral dari budaya, identitas dan persatuan bangsa Indonesia
 

Mari kita teruskan diskusi ini.....

 
Diskusi: Bahasa Indonesia Dalam Bahaya - Bagian 1 dari 2
Redaksi Waraskita   
23-08-2010
( 1 Vote )

Diskusi dibawah ini terjadi di mailing list anggota Keongmas menanggapi artikel dari The New York Times yang berjudul “As English Spreads, Indonesians Fear for Their Language”. Keongmas sendiri adalah ibu dari project Waraskita. Artikel ini berpendapat bahwa bahasa Indonesia berada dalam bahaya dengan semakin banyaknya jumlah keluarga dari ekonomi menengah keatas yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang fokus kepada bahasa Inggris dan sedikit waktu untuk Bahasa Indonesia. Diskusi ini akan dibagi dalam 2 bagian, dengan hasil diskusi di bagian kedua. 


(Nama anggota ditulis dengan inisial)
IS: Aku tidak mengerti, kenapa Indonesia tidak bisa seperti India, dimana sebagian besar masyarakatnya bisa menggunakan bahasa Inggris dengan lancar. Kenapa kita harus memilih salah satu dari kedua bahasa ini. 

AN: Saya rasa sedikit berlebihan kalau bilang bahasa Indonesia dalam ancaman. Lebih dari 70% populasi Indonesia masih belum menerima edukasi yang cukup, apalagi pendidikan bahasa Inggris. Tapi saya setuju dengan IS, bilingual atau multilingual harus menjadi cara untuk menerima globalisasi, yang tak dapat dihindari.

EJ: Mungkin berlebihan, tapi bukankah lumayan sedih kalau ada anak yang lahir dan besar di Indonesia tetapi tidak bisa bicara Indonesia dengan lancar? Kita bisa lihat contohnya Miss Indonesia 2009, seorang warga Indonesia tetapi membutuhkan translator untuk Miss Indonesia?

Aku rasa orang tua memutuskan untuk mengirimkan anaknya sekolah di sekolah swasta yang menggunakan bahasa Inggris karena mereka tahu bagaimana bahasa Inggris itu penting dan sayangnya sekolah negeri tidak cukup bagus memberikan mata pelajaran bahasa Inggris. Tetapi untuk menolak atau cuek untuk mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama juga tidak dapat diterima. Pemerintah harus menerima kedua bahasa sebagai bagian dari kurikulum, tetapi jangan lupa kalau bahasa Indonesia adalah bagian penting budaya Indonesia yang menyatukan bangsa dari Sabang sampai Merauke. Setiap warga negara Indonesia harus menyadari hal ini. 

HC: Beberapa tahun dari sekarang mungkin bahasa Mandarin. Gimana menurut anda?

RO: Aku rasa pemerintah sudah melakukan pendekatan yang tepat dengan meregulasi pendidikan di Indonesia, bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dan Inggris sebagai bahasa kedua. Dalam skala lebih besar, hal ini tidak akan menjadi masalah karena hanya sebagian kecil dari populasi Indonesia yang dapat membiayai sekolah swasta. Memang memalukan jika seorang warga Indonesia, tinggal di Indonesia tidak dapat berbicara bahasa Indonesia. Jika mampu berbicara bahasa Inggris adalah hal yang baik, maka kelihatannya terlalu banyak hal yang baik juga tidak bagus. 

SY: Untuk aku, aku setuju dengan kata “terancam” karena Bahasa Indonesia sudah tidak diihat lagi sebagai identitas dengan bangga. Generasi muda lebih memilih bahasa Inggris untuk lebih kelihatan keren. Contohnya, status di Facebook, menulis kartu ucapan, tweeting, dll. Bahasa Indonesia mungkin dilihat sebagai hal yang tak terhindarkan dari budaya, tetapi anggota dari budaya itu sendiri mencoba untuk pindah ke hal yang lain. Fakta bahwa sebagian besar warga Indonesia tidak berbicara Bahasa Inggris dengan baik tidak berarti bahwa mereka bangga untuk menggunakan Bahasa Indonesia. 

Coba kalau kita lihat status di Facebook dengan bahasa Inggris yang kacau, kita akan berpikir “ngapain mereka make dari pertama”. Sebagian besar orang Indonesia yang punya Facebook, saya yakin, tidak punya teman yang hanya bisa berbicara Inggris. Kenapa mereka menggunakan Inggris? Sekali lagi, karena faktor “keren” “cool”. Jadi bahasa dari kehilangan identitas budaya: seorang yang lancar berbahasa Indonesia namun bangga menggunakan Inggris kacau. Ini hanya salah satu dari banyak hal yang aku tidak mengerti dari dunia ini. 

FS: Menurut aku, bahasa Indonesia tidak terancam sih, secara masyarakat keseluruhan. Tapi antara masyarakat menengah ke atas, kemungkinan besar akan punah, terutama kalau orang tuanya tidak peduli.

IS: Saya setuju sama FS, soalnya kebanyak orang menengah keatas yang aku tahu anak-anaknya sudah sekolah di NJIS, Gandhi, dll. Jujur saja kalau aku di Indonesia, aku mungkin melakukan hal yang sama, tapi kalau dirumah tetep pakai bahasa Indonesia dong. 

MJ: Menurut aku sih rasanya karena krisis identitas dan keamanan. Paling gregetan kalau ada orang yang nilai bahasa Indonesianya yang jelek di sekolah, lalu menyalahkan sekolah yang ngajarinnya tidak becus. Tetapi bangga kalau bahasa Inggrisnya bagus karena les di EF. 

Tapi, secara garis besar, memang pertanggung jawaban paling besar itu kepada Globalisasi. Banyak perusahaan internasional masuk di Indonesia. Pemerintah Indonesia yang kapitalisme mengijinkan mereka masuk supaya bisa meningkatkan perekonomian di Indonesia. Ditambah sarana internet, yang kebanyakan informasi yang tersedia adalah dalam bahasa inggris. 

EJ: Jadi, mungkin sebenarnya bisa digali lebih dalam lagi, kalau bahaya yang ditulis di artikel ini akan lebih pengaruh di kalangan atas atau masyarakat Indonesia pada umumnya?

Kalangan atas menyadari pentingnya Bahasa Inggris lalu berusaha dengan cara apa pun biar anaknya pintar Inggris tapi lupa apa artinya bahasa Indonesia. Kalangan bawah, bisa dapat pendidikan sedikit tentang Inggris saja sudah senang. Bahasa Indonesia mungkin mereka gunakan tiap hari, tapi mungkin sudah campur dengan bahasa gaul. Yang gawat yang ditengah-tengah, Inggris pas-pasan,tapi ngotot pake Inggris, dengan bahasa Indonesia yang mungkin jadi "males" pake.

Mungkin saatnya berpikir, gimana caranya supaya Bahasa Indonesia itu menjadi bahasa yang "asik" dan menaikkan lagi kesadaran masyarakat pentingnya Bahasa Indonesia dalam menjaga kesatuan negara kita.

HC: Kita di sini inggris2an kalau sama bule juga suka gagap.. Tapi kita menginggris karena sudah menjadi situasi. Kan tidak mungkin pakai bahasa Indonesia Indonesia atau Jawa pas ujian atau beli McDonald
Coba nawar bajaj ato hp di pasar grosir pake inggris. Kan tidak mungkin.
Coba nawar pisang di puncak pake betawi. Pasti diketok harganya.
Coba pake mandarin nawar playstation di singapura. Dikibulin langsung ama yang jual. Harus dialek hokkian.
Kita menyesuaikan terhadap situasi untuk mencapai hasil terbaik yang kita inginkan. Lebih dari itu hanyalah “barang mewah” 

SY: HC secara jelas melihat dari arah fungsionalitas!  Nah “barang mewah” itulah yang terjadi di Indonesia. Anak muda mau yang update. “Barang mewah” bukan lagi Bahasa Indonesia, tetapi bahasa orang lain. Sekarang kita tuduh-tuduh orang Malaysia curi budaya kita, lah kita sendiri malu atau malas sama Bahasa Indonesia, pake nginggris segala.

  

(Nantikan diskusi bagian kedua....pendapat pembaca akan sangat ditunggu) 

 
Pelacuran Intelektual - Ironi Nasionalisme
Joshua Agusta   
25-07-2010
( 2 Votes )

Mungkin potongan dari judul di atas cukup familiar di kalangan mahasiswa Universitas Indonesia, khususnya mereka yang terjun dalam dunia tulis-menulis. Ya, "Pelacuran Intelektual" merupakan salah satu artikel tulisan dari alm. Soe Hok Gie (1942-1969), alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Beliau merupakan salah satu alumni almamater saya yang saya kagumi, terutama dalam bidang tulis-menulis dan konsepsinya mengenai nasionalisme. Meninggal di usia yang sangat muda (27 tahun), beliau dapat memberikan pengaruh yang besar pada generasi muda Indonesia dengan tulisan-tulisannya yang sangat menggugah pikiran masyarakat untuk selalu berpikir kritis, tidak terkotak-kotak oleh tirani pemerintahan ataupun pembodohan dari kaum penjajah, baik dari dalam maupun luar negeri. Tulisannya yang kritis dan lugas selalu dengan lengkap menelanjangi kecacatan negara dengan kritik yang ia lontarkan kepada pemerintahan di zamannya. Artikel "Pelacuran Intelektual" tersebut merupakan salah satu karya beliau yang paling populer dan kritis dalam menyikapi nasionalisme. Diterbitkan di harian Sinar Harapan pada 21 April 1969, berikut adalah kutipan dari artikel tersebut: 

Ketika Rektor UI, Prof. Dr. Sumantri Brodjonegoro diangkat menjadi Menteri Pertambangan, saya datang padanya. Saya tanyakan mengapa ia mau diangkat menjadi menteri dan bekerja dengan bajingan-bajingan minyak, calo-calo modal asing dan pejabat yang korup dan sloganistis. Rektor menjawab bahwa hal-hal tadi juga disadarinya. "Tetapi kita punya dua pilihan jika kita melihat keburukan-keburukan yang terjadi di kalangan pemerintahan.Terjun ke dalam berusaha (dan belum tentu berhasil) memperbaikinya atau tinggal di luar sambil menantikan aparat tadi ambruk. Saya memilih yang pertama dengan segala konsekuensinya." 

Kutipan dari artikel yang beliau tulis ini melukiskan bagaimana seorang intelektual harus rela "melacurkan" intelektualitasnya, atau dengan spesifik dapat dikatakan sebagai konsepsinya, untuk terjun ke dalam pemerintahan yang busuk dan memperbaiki zaman. Pilihan yang berat, memang. Namun Prof. Sumantri dengan tegas menyatakan keinginannya untuk mengubah negara dan menerima segala konsekuensi untuk terjun ke lapangan pemerintahan. 
 
Pilihan yang diambil Prof. Sumantri sangatlah terpuji, dan hal inilah yang menggugah Soe Hok Gie, juga para pemuda-pemuda lainnya pada zaman itu, untuk ambil bagian dalam pemerintahan dalam rangka reformasi negara Indonesia, yang pada saat itu kondisinya berada pada titik nadir. 

Namun, terjadi sebuah ironi pada zaman ini. Apabila saya menginterpretasikan istilah "Pelacuran Intelektual" tersebut dalam konteks lain yang negatif, adalah bahwa mayoritas kaum intelektual zaman sekarang tidak memiliki konsepsi. Mengatasnamakan nasionalisme, mereka "melacurkan" dirinya untuk sebuah eksistensi belaka, agar memiliki suara dalam pemerintahan. Membenarkan yang bukan konsepsi mereka, dan lebih parah lagi, membenarkan yang salah. Sebagai contoh, di kampus, mahasiswa membuat karya tulis yang berlatar belakang ekonomi bermazhab liberal, namun di koran, mereka menulis artikel dengan berlatar belakang koperasi ataupun kerakyatan. Tidak punya pendirian, takut ditolak, dan mental "asal bapak senang". Itulah mentalitas intelektual zaman sekarang. Apakah hal seperti itu dapat dikatakan sebagai kaum intelektual? Apakah itu yang disebut nasionalisme? Saya rasa tidak. 

Seorang intelektual tidak akan merelakan konsepsinya hanya untuk kepentingan eksistensi belaka. Seorang intelektual hanya akan mengorbankan konsepsinya apabila ada hal lain yang lebih penting yang harus diperjuangkan, seperti Prof. Sumantri yang memperjuangkan rasa nasionalismenya. Beliau siap dicerca dan dimaki oleh seluruh sivitas akademika UI karena mau bekerja dengan "bajingan-bajingan minyak" tersebut. Namun ada hal lain yang perlu diperjuangkan, dan beliau mengorbankan dirinya untuk membela hal tersebut. Itulah nasionalisme. 

Pertanyaannya, dapatkah bangsa kita maju apabila kaum intelektual yang merupakan pilar pertahanan bangsa memiliki mental seorang calo modal asing? Tidak akan pernah. Jadi, kaum intelektual Indonesia, mari kita pikirkan hal ini. Janganlah kita melacurkan intelektualitas dan konsepsi kita untuk tujuan dan motivasi yang salah. Kaum intelektual adalah penyangga bangsa, dan sebuah penyangga tidak boleh bergeser dari tempat asalnya. Pikirkan yang terbaik untuk bangsa kita dan jangan pernah takluk terhadap iming-iming nama besar dan eksistensi, yang sudah merusak budaya bangsa kita sejak lama. 

Daftar Pustaka: 

    Badil, Rudy, Bekti, Luki Sutrisno (2010), "Soe Hok-Gie ...sekali lagi: Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya", Jakarta: KPG