Artikel Serba-Serbi Terpopuler

  1. Sehari Mengunjungi Kota Cirebon
    Melisa Giovani, 21-06-2009 (632 hits)
  2. Serba-Serbi Situs Pertemanan Sosial
    Winny Pratiwi dan Melisa Giovani, 26-09-2009 (604 hits)
  3. Resensi Film: The Fall
    Setra Yappi, 29-11-2009 (600 hits)
  4. Thanksgiving
    Melisa Giovani, 12-11-2009 (549 hits)
  5. Salatiga
    Meyrien Janevine, 31-10-2009 (548 hits)
  6. Hitam ataupun Putih
    Handi Cokrojoyo, 26-06-2009 (474 hits)
  7. PHK
    Meyrien Janevine, 17-08-2009 (404 hits)
  8. Halloween
    Melisa Giovani, 03-11-2009 (364 hits)
  9. Taichi
    Lea Yulianna , 28-05-2010 (240 hits)
  10. Malang - Kota Pelajar yang Sejuk
    Ephy Hae Tada, 11-07-2010 (209 hits)

Arsip Serba Serbi

Resensi Film: The Fall
Setra Yappi    29-11-2009  
( 3 Votes )
  
Poster film The FallSebuah karya film apik yang tak terdeteksi oleh radar konsumer berjudul The Fall layak mendapatkan perhatian kita anak bangsa pecinta seni perfilman dan budaya. Kualitas pengambilan gambar dan alur cerita yang segar memang patut diacungi jempol. Film ini kaya akan unsur-unsur budaya yang dibawakan dengan nuansa realisme abstrak, mistik, dan klasik, termasuk pembawaan secuil rasa budaya dan keindahan Indonesia. Tokoh-tokohnya berkarakter kuat dan terkesan berlebihan, tetapi terlihat sangat sedap di layar. Dengan segala pernak-perniknya, tidak heran jika film ini membutuhkan empat tahun untuk pemolesannya. Harga yang dibayar untuk DVD-nya tidak akan sebanding dengan kepuasan mata dan hati.

Alur cerita berevolusi di sekitar dua tokoh utama, dua pasien di sebuah rumah sakit era tahun 20-an. Seorang pria lumpuh dengan masa lalu yang menyedihkan dan anak gadis berumur 5 tahun yang cerdik dan ingin tahu. Sang pria, Roy Walker, sibuk mencari cara untuk mengakhiri hidupnya sepanjang film setelah melakukan stunt film yang gagal. Ia lumpuh karena jatuh dari jembatan, dan dari sini hidup jadi tak berarti lagi terutama setelah aktor lawan jenis di film yang sama, yaitu wanita idamannya, menikahi aktor pengganti Roy. Roy yang sedang depresi menemukan cara yang kekanak-kanakan untuk menyelesaikan misinya, yaitu menggunakan teman kecilnya, si Alexandria. Gadis cilik ini mencadu cerita fiksi Roy yang disajikan dengan spontan tiap kali ia mengunjungi Roy. Lucunya cerita itu pun mengalir sesuai keinginan mereka berdua, silih berganti semau mereka. Harga yang harus dibayar si Alexandria adalah menukar identitasnya menjadi pencuri cilik yang membawakan Roy dengan obat-obatan yang dapat mengakhiri nyawanya. Petualangan Alexandria di dunia nyata dan dunia fiksi membuat film ini begitu berbeda. Terlalu kompleks untuk menjadi film anak-anak biasa dan mencuri hati penonton dewasa

Cerita fiksi Roy dihidupkan di dalam film ini dengan adegan-adegan yang mencerminkan hidupnya dan apa yang sedang dipikirkannya. Ceritanya dimulai dengan lima tokoh masing-masing dengan karakter yang sangat unik: Charles Darwin dengan monyet kecil sebagai teman baiknya, ksatria berkulit hitam yang juga adalah pemanah handal, pria separuh baya pakar bahan peledak, pria India dengan kostumnya yang hijau semerbak dan senjatanya yang terkesan seperti pisau harta kerajaan atau keris, dan pendekar muda bertopeng. Semuanya punya satu misi, yaitu menghancurkan satu musuh yang sama yang digambarkan sebagai pangeran atau raja yang berkuasa tetapi licik. Siapa lagi kalau bukan aktor pengganti Roy yang juga adalah “penjahat” di dunia nyata. Awalnya pendekar muda ini diceritakannya seperti ayah si gadis kecil yang sudah meninggal. Semakin lama Alexandria membangun koneksi yang kuat dengan Roy, dan imajinasinya memilih untuk untuk menggantikan ayahnya dengan Roy. Maka cerita itu menjadi petualangan Roy yang mempertemukan tokoh pendekar bertopeng dengan wanita cantik yang akan diselamatkannya. Roy malah memilih untuk memakai salah satu perawat di rumah sakit itu untuk memerankan wanita ini, bukan wanita yang dicintainya. Mungkin karena sakit hati yang terlalu kuat. Cerita ini dibentuk (dipotong dan disambung) oleh perasaan dan imajinasi Roy dan Alexandria, sehingga masih banyak lagi bumbu-bumbu di cerita ini yang akan membuat penonton terkagum-kagum, tegang, ataupun tersedu.

Petualangan Roy menyibak keindahan keragaman di dunia: berbagai tempat dengan keindahan alamnya dan berbagai warna budaya. Indonesia dengan begitu banyak nilai budayanya, dari keanekaragaman yang terlestarikan, tidak terlewatkan. Tari Kecak dihadiahi dengan beberapa menit untuk memamerkan keunikan gerakan-gerakannya sebagai satu ritual mistis. Ritual ini adalah satu bagian penting dari cerita fiksi Roy di mana terungkap peta yang selanjutnya memimpin perjalanannya. Lengkap dengan pemandangan sawah terasering khas Bali sebagai latar belakangnya, adegan tari Kecak ini menampilkan penari-penari yang muncul dari kubangan lumpur lalu memberikan gerakan yang selaras dan nyanyian merdu yang mirip dengan paduan suara yang meriah. Tarian yang terkesan seperti ritual para pengikut aliran misterius ini mengagumkan dan sekaligus membuat bulu kuduk merinding. Unsur budaya lainnya seperti manusia primitif dengan pakaiannya yang minimal dan produk-produk budaya dari Cina dan India juga muncul. Cina dan India, di film ini, bermurah hati memaparkan pakaian-pakaian dengan desain modern, arsitektur, dan alat transportasi kuno. Satu-satunya wanita di cerita Roy mengenakan gaun merah dengan hiasan bunga bakung yang sangat berani. India menarik perhatian dengan cuplikan kisah hidup pria India yang kehilangan istrinya karena diculik pria lain dan syuting di sekitar Taj Mahal. Seni arsitektur dan tata lokasi sangat dihargai dalam proses syuting. Sangat nyata untuk siapapun yang memberi sedikit perhatian. Bangunan-bangunan, dari yang megah sampai perumahan, dari Eropa sampai Asia, dari interior sampai ekstriornya, diambil dari sudut yang memamerkan keindahannya. Tata lokasi yang dipakai film ini juga tidak main-main. Banyak adegan yang pengambilan gambar alamnya terlihat seperti kualitas foto yang tak bercela. Warna langit dan awan-awannya sempurna. Syuting di padang gurun ataupun di daerah pegunungan yang kering pun difokuskan pada unjuk kemegahan masing-masing lokasi. Tidak heran jika pembuatan film ini berlangsung selama empat tahun dengan segala kerumitannya. Terlalu banyak yang bisa digemari dari karya ini.

Selain mencuri dari kekayaan alam atau hasil budaya manusia, orang-orang di balik film ini sepertinya tak mau tinggal diam tanpa imaginasi yang melimpah. Aset paling berharga film The Fall terletak pada alur cerita Roy yang terhiasi dengan elemen-elemen fantasi yang mampu memuaskan sisi kekanak-kanakan penonton. Contohnya gajah perenang yang menyelamatkan kelima tokoh yang terasingkan, dan pohon kering yang ditinggali oleh manusia primitif. Ada juga ekspresi yang berani, contohnya kisah ksatria bertopeng di mana darah saudara laki-lakinya yang terbunuh oleh sang musuh dia resapkan ke kain putih panjangnya sekitar 50 meter yang digantung supaya menjadi monumen yang selalu mengingatkan dia akan dendamnya. Dari segi kostum, jubah para pasukan sang musuhlah yang paling menarik. Para pasukan ini nampak seperti penjagal dengan jubah abu-abu dan helm yang bentuknya melengkung seperti jam pasir, dan tangannya dilengkapi dengan pelindung yang mirip dengan sepatu kuda. Jika produk-produk imajinasi ini bisa dinilai, maka layak mendapat angka 9 dari 10 karena kepuasan dari penyajiannya yang tak disangka.  

Bagi yang tak sabar mengintip potongan-potongan film ini bisa mengunjungi situs ini. Visual bisa menggantikan seribu kata bukan? Selanjutnya, tidak sepantasnya kalau tidak memburu DVD film ini. Yang mencari rasa baru dan mencari kegiatan karena bosan, dua-duanya, akan menikmati. Penggemar film umum ataupun independen bisa mengacungkan sedikitnya satu jempol.
 
Comments
Add New
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.