Artikel Serba-Serbi Terpopuler

  1. Sehari Mengunjungi Kota Cirebon
    Melisa Giovani, 21-06-2009 (632 hits)
  2. Serba-Serbi Situs Pertemanan Sosial
    Winny Pratiwi dan Melisa Giovani, 26-09-2009 (604 hits)
  3. Resensi Film: The Fall
    Setra Yappi, 29-11-2009 (600 hits)
  4. Thanksgiving
    Melisa Giovani, 12-11-2009 (549 hits)
  5. Salatiga
    Meyrien Janevine, 31-10-2009 (548 hits)
  6. Hitam ataupun Putih
    Handi Cokrojoyo, 26-06-2009 (474 hits)
  7. PHK
    Meyrien Janevine, 17-08-2009 (405 hits)
  8. Halloween
    Melisa Giovani, 03-11-2009 (364 hits)
  9. Taichi
    Lea Yulianna , 28-05-2010 (241 hits)
  10. Malang - Kota Pelajar yang Sejuk
    Ephy Hae Tada, 11-07-2010 (211 hits)

Arsip Serba Serbi

Serba-serbi
Sisi Lain Pulau "Laskar Pelangi"
Marcella Einsteins   
22-07-2010
( 1 Vote )
Terima kasih kepada Andrea Hirata yang telah menjadikan Pulau Belitung mulai dikenal banyak orang berkat novel “Laskar Pelangi” beserta filmnya. Tak heran jika Pulau ini kemudian dijadikan tempat tujuan wisata baru disamping Bali, Lombok, atau tempat wisata lain yang terkenal di Indonesia. Pulau kecil yang dulu hanya dikenal sebagai sebagai penghasil timah kini sudah menjadi ikon baru bagi kepariwisataan Indonesia. Berbekal pantai-pantai berbatu granit artistik yang indah, air laut yang jernih, dan pasir putih, Pulau Belitung siap bersaing untuk mendapatkan tempat di hati para wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
 
Saya lihat sudah banyak situs yang menyediakan paket wisata yang menawarkan fasilitas menarik untuk wisatawan yang berminat mengunjungi Pulau Belitung ini. Saya senang karena pulau dimana saya dibesarkan sekarang sudah menjadi lebih hidup. Alasan utama saya menulis artikel ini karena saya ingin membagi pengalaman dan pengetahuan tentang pulau yang indah ini yang tidak hanya dilihat dari sisi pantainya saja. Pulau Belitung juga memiliki banyak hal menarik yang sungguh disayangkan apabila dilewatkan.

Memang, semenjak suksesnya tetralogi novel karya Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi, banyak memberikan harapan baru bagi masyarakat dan pemerintah daerah yang begitu menggantungkan perekonomiannya melalui timah. Tampaknya hal ini juga dijadikan batu loncatan bagi para penghuni pulau seberang untuk merantau ke sana demi mendapatkan sesuap nasi. Pernah saya bertanya kepada seorang pedagang ketoprak yang berasal dari Pulau Jawa yang berjualan di dekat toko salah seorang teman saya, dia mengatakan kepada saya kalau dia baru 6 bulan pindah ke Pulau ini, dan dia sangat bersyukur sekali karena dalam waktu singkat tersebut, dia sudah bisa membeli motor meskipun dengan cara kredit.
 
Kawasan yang ramai terdapat pada jantung ibukota Belitung yaitu kota Tanjung Pandan, letaknya berpuluh-puluh kilometer jauhnya dari kota yang digunakan sebagai lokasi syuting film Laskar Pelangi. Tidak ada lagi pepohonan rimbun seperti dalam film tersebut. Di kota ini benar-benar sudah padat. Kebanyakan rumah penduduk di sana menyatu dengan tempat usaha mereka. Di tengah kota, ada sebuah taman indah yang terdapat sebuah monumen yang merupakan lambang dari Pulau Belitung, yaitu Ikan tertusuk parang. Parang disini melambangkan alat utama petani daerah. Di seberang taman ada bangunan beratap hijau. Orang menyebut bangunan tersebut “Jam Gede”, bangunan ini merupakan kantor timah dulunya. Menurut cerita orang tua saya, kantor timah tersebut bangkrut dan kemudian bangunan tersebut menjadi terbengkalai. Dan hal tersebut pun kemudian dimanfaatkan oleh pihak lain. Pada akhirnya mereka mengadakan suatu perjanjian kontrak tempat dalam jangka waktu berpuluh-puluh tahun lamanya untuk menjadikan bangunan tersebut menjadi sebuah department store pertama di pulau ini. Dan pada akhirnya, bangunan “Jam Gede” ini sekarang sudah berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan semenjak tahun 2002 dengan nama Barata Department Store.
 
Tak jauh dari taman juga terdapat sebuah tugu pahlawan yang pada dinding nya terdapat ukiran-ukiran yang menggambarkan perjuangan pahlawan melawan penjajah serta tulisan yang berbunyi “DI SINI KAMI TERSIKSA, DI SINI PULA SEMANGGAT PERJUANGAN KAMI KOBAR KAN”.
 
Saya meninggalkan pulau ini pada tahun 2006, ketika saya lulus SMP. Merantau ke Pulau Jawa untuk mencari Sekolah Menengah Atas yang mempunyai standar kualitas Internasional yang tidak terdapat di Pulau ini. Namun hal ini bukan berarti sekolah-sekolah di Pulau ini tidak berkualitas, hanya saja sekolah disana baru menerapkan standar nasional. Ketika saya mulai bersekolah di Surabaya, ada salah seorang teman saya bertanya demikian, “Pulau Belitung sudah terjangkau listrik belum sih?”. Entah pertanyaan itu sekedar bercanda atau dia sungguh-sungguh bertanya dengan kepolosannya. Saya tidak bisa menerka apa yang dibayangkan teman saya itu tentang Pulau Belitung sehingga ia dapat mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Bisa saja dia mengira Pulau Belitung ini merupakan pulau terpencil yang terisolisasi dari peradaban kota. Haha.. Pada kenyataannya, pulau ini sudah benar-benar maju. Pulau Belitung sudah banyak berubah. Pastikan pulau ini masuk sebagai daftar tujuan berlibur anda selanjutnya.
 
 ----
 
 
Malang - Kota Pelajar yang Sejuk
Ephy Hae Tada   
11-07-2010
( 2 Votes )

Kota apakah yang mendapat julukan kota pelajar di Indonesia? Banyak orang akan menjawab: "Yogyakarta." Jawaban ini memang sangat tepat. Namun, perlu diketahui bahwa selain Yogyakarta, ada juga kota pelajar lainnya, yaitu Malang. Bisa dikatakan bahwa Malang adalah kota pelajar ke-2 di Indonesia. Namun sayang sekali, masih cukup banyak orang yang tidak tahu realita ini. Lalu, apakah keistimewaan kota Malang ini sehingga bisa disebut sebagai kota pelajar atau pendidikan?

Kota Malang, adalah sebuah kota di propinsi Jawa Timur. Kota ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan Kota Surabaya, dan wilayahnya dikelilingi oleh Kabupaten Malang. Kota Malang dikelilingi oleh beberapa gunung, antara lain: Gunung Arjuno di sebelah Utara, Gunung Semeru di sebelah Timur, Gunung Kawi dan Panderman di sebelah Barat, Gunung Kelud di sebelah Selatan. Selain itu, Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur dan dikenal juga sebagai kota apel.

Ada beberapa hal yang membuat Malang layak di sebut sebagai kota pelajar di Indonesia. Pertama, letak kota dan iklim yang bersahabat. Kota Malang yang berada di dataran tinggi serta dikelilingi oleh gunung-gunung, membuat kawasan kota Malang memiliki udara sejuk dan hawa yang segar. Iklim seperti ini sangat cocok bagi para pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan di kota apel ini. Kalau di Jakarta atau Surabaya terasa sangat panas di siang hari, sebaliknya di Malang justru terasa sejuk. Udara yang sejuk dan segar ini merupakan kondisi yang sangat baik untuk menunjang proses belajar. Bisa jadi bahwa udara yang sejuk ini menjadi keunggulan Malang sebagai kota Pelajar yang tidak dimiliki oleh kota pelajar lainnya di Indonesia.

Kedua, sarana transportasi yang memadai. Kesulitan pergi ke kampus karena tak punya motor/mobil? Tidak perlu kuatir, karena di sini telah disediakan berbagai macam BMW kelas menengah (baca : Biru Muda Warnanya / angkot). Hanya dengan Rp 2.500 saja kita pergi ke kampus tanpa harus takut telat. Kampus atau sekolah yang ada biasanya terletak di lokasi yang cukup strategis sehingga ada rute angkot yang melewati daerah tersebut.

Ketiga, biaya hidup yang relatif terjangkau. Di Malang kita tidak perlu susah payah mencari tempat tinggal. Puluhan kos-kosan dan rumah kontrakan sudah disediakan di sekitar kompleks sekolah atau kampus bagi pelajar yang berasal dari luar kota. Selain itu biaya makan sehari-hari pun sudah disesuaikan dengan kantong mahasiswa/pelajar. Daerah sekitar kampus menjadi area yang subur bagi kos-kosan maupun rumah kontrakan. Sebagai contoh: biaya kos-kosan ada yang seharga Rp. 150.000/bulan. Selain murah, rumahnyapun bagus. Padahal kos-kosan yang seperti ini biasanya di Surabaya saja seharga Rp. 400.000/bulan. Pendek kata, biaya hidup di Malang bisa dijangkau oleh para mahasiswa yang studi di kota ini.

Keempat, terdapat banyak tempat pariwisata dan pusat perbelanjaan. Malang dikenal sebagai daerah tujuan wisata utama Jawa Timur. Hal ini tidak mengherankan karena memang ada berbagai tempat wisata menarik di Malang. Ada Gunung Kawi, yang terkenal sebagai tempat wisata spiritual; gunung Bromo, tempat yang diincar wisatawan untuk menyaksikan matahari terbit atau melihat upacara adat khas suku Tengger, ada Taman Ria Sengkaling, Air terjun Coban Rondo, Wendit Water Park, Candi Singosari, Rawa Indah, Tambak Asri, Sendangbiru, Museum Brawijaya, Taman Wisata Tlogomas, dan lain sebagainya. Banyak juga tersedia berbagai pusat perbelanjaan seperti Mall Malang Town Square (MATOS), Mall Olympic Garden (MOG), Plaza Dieng, dan sebagainya. Dengan demikian, tidaklah sulit untuk mencari tempat rekreasi di Malang. Pada saat akhir pekan atau hari libur, maka berbagai tempat wisata ini akan menjadi sangat ramai oleh pengunjung baik yang berasal dari Malang maupun dari luar Malang. Jadi, ketika stes atau "sumpek" karena tugas kuliah dan lain sebagainya, mungkin ada baiknya jika para pelajar ini menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat wisata ini untuk refreshing sejenak sebelum kembali mengerjakan banyak hal.

Kelima, memiliki sejumlah perguruan tinggi ternama. Mungkin bisa dikatakan ini adalah alasan utama mengapa Malang bisa dikategorikan sebagai kota pelajar. Beberapa universitas terbaik juga ada di kota Malang. Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang tetap menjadi terpopuler di kota ini. Selain itu untuk universitas negeri masih ada Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Untuk universitas swasta beberapa alternatif yang ditawarkan adalah Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Merdeka (Unmer) dan yang terbaru dan berkualitas adalah Universitas Machung. Ada Institut Teknologi Negeri (ITN) yang menjadi salah satu universitas unggulan kopertis 7 Indonesia, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Politeknik Kesehatan Malang (POLTEKES), Sekolah Tinggi Informatika & Komputer Indonesia (STIKI), dan masih ada banyak kampus lain di kota ini. Satu hal yang menarik ialah ternyata Malang juga menjadi pusat pendidikan yang bernuansa religius, dimana banyak sekali terdapat pondok pesantren, sekolah teologi, maupun seminari. Misalnya: Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (STT Sati), Sekolah Tinggi Teologi Salem, Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), dan lain sebagainya.

Setidaknya, kelima hal yang telah disebutkan sebelumnya benar-benar memenuhi kriteria yang yang harus dimiliki oleh sebuah kota pelajar. Sebagai kota pelajar, tidaklah mengherankan jika setiap tahun banyak mahasiswa yang berasal dari luar Malang datang dan menetap di Malang, terutama dari wilayah Indonesia Barat atau Timur seperti Sumatra, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Besar harapan bahwa dari kota pelajar inilah akan lahir generasi muda yang akan menjadi pemimpin yang berintegritas dan berdedikasi tinggi bagi bangsa ini. Dengan demikian, sebagai kota pelajar bukan sekedar kuantitas perguruan tinggi yang diperhatikan, tetapi juga kualitas pendidikan yang diselenggarakan.

Referensi:

http://hellgalicious.wordpress.com/2009/12/11/malang-kota-pelajar-ke-2/

http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Malang

http://adhimaswijaya.wordpress.com/2010/07/05/mengapa-malang-disebut-kota-pendidikan-di-indonesia/

Image: http://www.flickr.com/photos/d3v13/3595102797/

 

 
Taichi
Lea Yulianna   
28-05-2010
( 8 Votes )

Artikel ini ditulis oleh Lea Yulianna, ibu dari Meyrien Janevine. Untuk melihat artikel lain yang ditulis oleh Meyrien Janevine, bisa meng-klik nama Lea Yulianna. 

Taijiquan atau Taichi adalah sebuah seni bela diri dan senam kesehatan dari negara Tiongkok. Menurut legenda, Taichi diciptakan pada abad ke-12 oleh seorang pendeta Tao bernama Zhang Sanfeng dan dikembangkan oleh Chen Wang Ting. Dari situlah murid-murid generasi berikutnya memodifikasikan gaya "Chen" ini menjadi gaya “Yang” di abad ke-16, gaya “Wu” di abad ke-17, dan gaya “Sun” di abad ke-19. Hari ini, senam Taichi telah berkembang menjadi gaya populer yang lebih mudah di ikuti dan bermanfaat bagi kesehatan. 

Meskipun gerakan-gerakan Taichi tampak lambat dan sepertinya tidak menguras tenaga seperti senam aerobic ataupun cardio, senam Taichi bila dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menguras tenaga meskipun gerakannya low-impact. Maka dari itu, senam ini boleh dikatakan hanya diminati oleh orang yang sudah berusia agak lanjut. Jarang sekali anak-anak muda yang berminat karena disamping biasanya dilakukan sewaktu subuh sebelum matahari terbit, gerakannya juga kurang energik. Begitulah kata anak saya. 

Saya yang saat ini setiap hari melakukan senam Taichi bersama para peserta lain yang kebanyakan adalah Opa-opa dan Oma-oma, juga sering menyaksikan kejadian yang agak menggelikan, seperti beberapa peserta yang sambil menarik dan mengeluarkan nafas tetapi tidak bisa berhenti mengobrol. Sang pelatih hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena sudah menegur kami untuk tidak mengobrol selama latihan. Tapi tetap saja ada yang bandel. Tak jarang juga yang melakukan gerakan asal-asalan dan beristirahat atau pulang sebelum senam selesai, ditambah dengan orang-orang tua yang baru datang menjelang senam selesai. Walaupun jarang melihat mereka sampai berkeringat sedikit pun, keluhan tetap keluar dari mulut mereka, "Capek deh!" 

Yang paling seru adalah dimana Pak Pelatih berteriak "Selesai!" Seketika tampak kelegaan di wajah-wajah tua mereka. Mungkin lega karena hari itu Tuhan masih mengijinkan mereka untuk mengikuti senam karena ada beberapa peserta yang tiba-tiba sakit atau berhalangan datang karena faktor usia.

Setelah itu, Pak Pelatih mengajak peserta untuk bersama-sama meneriakkan "Hah hih huh heh hoh!" di ujung penutup dan dilanjutkan dengan bersalam-salaman. Setelah bubar, ada yang langsung berjalan pulang sambil bercakap-cakap, tetapi ada juga yang masih tinggal dan menggerombol dengan perkumpulannya untuk melanjutkan obrolan. Nah dari percakapan itulah mulai terkuak rahasia-rahasia kecil kehidupan mereka: ada yang membanggakan dan mensyukuri kasih sayang yang tetap mereka terima dari anak cucunya di hari tua mereka, ada juga yang berkeluh kesah tentang perlakuan anak-anak dan menantu-menantu mereka di sisa-sisa umurnya.

Yah itulah hidup yang tak pernah lepas dari ucapan syukur atau sekedar keluhan. Meskipun demikian, kita patut mengacungkan jempol untuk kegigihan mereka menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga.

 
Resensi Film: The Fall
Setra Yappi   
29-11-2009
( 3 Votes )
Poster film The FallSebuah karya film apik yang tak terdeteksi oleh radar konsumer berjudul The Fall layak mendapatkan perhatian kita anak bangsa pecinta seni perfilman dan budaya. Kualitas pengambilan gambar dan alur cerita yang segar memang patut diacungi jempol. Film ini kaya akan unsur-unsur budaya yang dibawakan dengan nuansa realisme abstrak, mistik, dan klasik, termasuk pembawaan secuil rasa budaya dan keindahan Indonesia. Tokoh-tokohnya berkarakter kuat dan terkesan berlebihan, tetapi terlihat sangat sedap di layar. Dengan segala pernak-perniknya, tidak heran jika film ini membutuhkan empat tahun untuk pemolesannya. Harga yang dibayar untuk DVD-nya tidak akan sebanding dengan kepuasan mata dan hati.

Alur cerita berevolusi di sekitar dua tokoh utama, dua pasien di sebuah rumah sakit era tahun 20-an. Seorang pria lumpuh dengan masa lalu yang menyedihkan dan anak gadis berumur 5 tahun yang cerdik dan ingin tahu. Sang pria, Roy Walker, sibuk mencari cara untuk mengakhiri hidupnya sepanjang film setelah melakukan stunt film yang gagal. Ia lumpuh karena jatuh dari jembatan, dan dari sini hidup jadi tak berarti lagi terutama setelah aktor lawan jenis di film yang sama, yaitu wanita idamannya, menikahi aktor pengganti Roy. Roy yang sedang depresi menemukan cara yang kekanak-kanakan untuk menyelesaikan misinya, yaitu menggunakan teman kecilnya, si Alexandria. Gadis cilik ini mencadu cerita fiksi Roy yang disajikan dengan spontan tiap kali ia mengunjungi Roy. Lucunya cerita itu pun mengalir sesuai keinginan mereka berdua, silih berganti semau mereka. Harga yang harus dibayar si Alexandria adalah menukar identitasnya menjadi pencuri cilik yang membawakan Roy dengan obat-obatan yang dapat mengakhiri nyawanya. Petualangan Alexandria di dunia nyata dan dunia fiksi membuat film ini begitu berbeda. Terlalu kompleks untuk menjadi film anak-anak biasa dan mencuri hati penonton dewasa

Cerita fiksi Roy dihidupkan di dalam film ini dengan adegan-adegan yang mencerminkan hidupnya dan apa yang sedang dipikirkannya. Ceritanya dimulai dengan lima tokoh masing-masing dengan karakter yang sangat unik: Charles Darwin dengan monyet kecil sebagai teman baiknya, ksatria berkulit hitam yang juga adalah pemanah handal, pria separuh baya pakar bahan peledak, pria India dengan kostumnya yang hijau semerbak dan senjatanya yang terkesan seperti pisau harta kerajaan atau keris, dan pendekar muda bertopeng. Semuanya punya satu misi, yaitu menghancurkan satu musuh yang sama yang digambarkan sebagai pangeran atau raja yang berkuasa tetapi licik. Siapa lagi kalau bukan aktor pengganti Roy yang juga adalah “penjahat” di dunia nyata. Awalnya pendekar muda ini diceritakannya seperti ayah si gadis kecil yang sudah meninggal. Semakin lama Alexandria membangun koneksi yang kuat dengan Roy, dan imajinasinya memilih untuk untuk menggantikan ayahnya dengan Roy. Maka cerita itu menjadi petualangan Roy yang mempertemukan tokoh pendekar bertopeng dengan wanita cantik yang akan diselamatkannya. Roy malah memilih untuk memakai salah satu perawat di rumah sakit itu untuk memerankan wanita ini, bukan wanita yang dicintainya. Mungkin karena sakit hati yang terlalu kuat. Cerita ini dibentuk (dipotong dan disambung) oleh perasaan dan imajinasi Roy dan Alexandria, sehingga masih banyak lagi bumbu-bumbu di cerita ini yang akan membuat penonton terkagum-kagum, tegang, ataupun tersedu.

Petualangan Roy menyibak keindahan keragaman di dunia: berbagai tempat dengan keindahan alamnya dan berbagai warna budaya. Indonesia dengan begitu banyak nilai budayanya, dari keanekaragaman yang terlestarikan, tidak terlewatkan. Tari Kecak dihadiahi dengan beberapa menit untuk memamerkan keunikan gerakan-gerakannya sebagai satu ritual mistis. Ritual ini adalah satu bagian penting dari cerita fiksi Roy di mana terungkap peta yang selanjutnya memimpin perjalanannya. Lengkap dengan pemandangan sawah terasering khas Bali sebagai latar belakangnya, adegan tari Kecak ini menampilkan penari-penari yang muncul dari kubangan lumpur lalu memberikan gerakan yang selaras dan nyanyian merdu yang mirip dengan paduan suara yang meriah. Tarian yang terkesan seperti ritual para pengikut aliran misterius ini mengagumkan dan sekaligus membuat bulu kuduk merinding. Unsur budaya lainnya seperti manusia primitif dengan pakaiannya yang minimal dan produk-produk budaya dari Cina dan India juga muncul. Cina dan India, di film ini, bermurah hati memaparkan pakaian-pakaian dengan desain modern, arsitektur, dan alat transportasi kuno. Satu-satunya wanita di cerita Roy mengenakan gaun merah dengan hiasan bunga bakung yang sangat berani. India menarik perhatian dengan cuplikan kisah hidup pria India yang kehilangan istrinya karena diculik pria lain dan syuting di sekitar Taj Mahal. Seni arsitektur dan tata lokasi sangat dihargai dalam proses syuting. Sangat nyata untuk siapapun yang memberi sedikit perhatian. Bangunan-bangunan, dari yang megah sampai perumahan, dari Eropa sampai Asia, dari interior sampai ekstriornya, diambil dari sudut yang memamerkan keindahannya. Tata lokasi yang dipakai film ini juga tidak main-main. Banyak adegan yang pengambilan gambar alamnya terlihat seperti kualitas foto yang tak bercela. Warna langit dan awan-awannya sempurna. Syuting di padang gurun ataupun di daerah pegunungan yang kering pun difokuskan pada unjuk kemegahan masing-masing lokasi. Tidak heran jika pembuatan film ini berlangsung selama empat tahun dengan segala kerumitannya. Terlalu banyak yang bisa digemari dari karya ini.

Selain mencuri dari kekayaan alam atau hasil budaya manusia, orang-orang di balik film ini sepertinya tak mau tinggal diam tanpa imaginasi yang melimpah. Aset paling berharga film The Fall terletak pada alur cerita Roy yang terhiasi dengan elemen-elemen fantasi yang mampu memuaskan sisi kekanak-kanakan penonton. Contohnya gajah perenang yang menyelamatkan kelima tokoh yang terasingkan, dan pohon kering yang ditinggali oleh manusia primitif. Ada juga ekspresi yang berani, contohnya kisah ksatria bertopeng di mana darah saudara laki-lakinya yang terbunuh oleh sang musuh dia resapkan ke kain putih panjangnya sekitar 50 meter yang digantung supaya menjadi monumen yang selalu mengingatkan dia akan dendamnya. Dari segi kostum, jubah para pasukan sang musuhlah yang paling menarik. Para pasukan ini nampak seperti penjagal dengan jubah abu-abu dan helm yang bentuknya melengkung seperti jam pasir, dan tangannya dilengkapi dengan pelindung yang mirip dengan sepatu kuda. Jika produk-produk imajinasi ini bisa dinilai, maka layak mendapat angka 9 dari 10 karena kepuasan dari penyajiannya yang tak disangka.  

Bagi yang tak sabar mengintip potongan-potongan film ini bisa mengunjungi situs ini. Visual bisa menggantikan seribu kata bukan? Selanjutnya, tidak sepantasnya kalau tidak memburu DVD film ini. Yang mencari rasa baru dan mencari kegiatan karena bosan, dua-duanya, akan menikmati. Penggemar film umum ataupun independen bisa mengacungkan sedikitnya satu jempol.
 
 
Thanksgiving
Melisa Giovani   
12-11-2009
( 2 Votes )

Daging KalkunKalau Lebaran adalah liburan di mana orang Indonesia yang bekerja di luar kota maupun pulau mudik pulang kampung, Thanksgiving adalah liburan orang Amerika untuk mudik ke tempat asal mereka masing-masing dan bertemu dengan sanak saudara yang mungkin sudah lama tidak bersua.

Jadi, apa sih perayaan Thanksgiving itu? Dimulai di tahun 1621 di mana penduduk  Plymouth Colony, Massachusetts  merayakan pesta panen setelah musim dingin yang membuat panen tahun sebelumnya gagal, hari puji syukur ini akhirnya diformalitaskan oleh presiden pertama Amerika Serikat, George Washington, pada tahun 17891. Hari besar ini kemudian ditetapkan pada Kamis terakhir bulan November setiap tahunnya.

Perayaan Thanksgiving tentunya terasa kurang tanpa daging kalkun. Tradisi makan unggas besar ini konon dimulai dari penyantapan 4 ekor daging kalkun yang menjadi hidangan warga Plymouth Colony untuk pesta perayaan Thanksgiving pertama itu2. Tentu saja buah ataupun sayuran yang masih bertumbuh pada musim dingin menjadi santapan langganan lainnya. Setiap keluarga selalu mempersiapkan pai labu, pastel (casserole) kacang panjang atau jagung, hidangan kentang, dan saus cranberry yang biasanya dituangi di atas daging kalkun.

Satu hal yang aku pelajari dari hari besar ini adalah makanan selalu sengaja dipersiapkan lebih dari cukup untuk sekeluarga. Mungkin ada keluarga yang melakukan tradisi ini agar bisa menyimpan sisa makanan untuk 2 minggu selanjutnya (Daging kalkun yang mempunyai tryptophan3, zat yang  dikenal bisa membuat orang mengantuk, mungkin membuat orang malas memasak untuk beberapa saat) atau sisa makanan tersebut bisa dimasak kembali untuk menjadi hidangan meja makan baru. Tapi aku percaya bahwa begitu banyaknya sajian Thanksgiving ini pula yang menjadi alasan keluarga bule untuk mengundang tamu-tamu lain yang mungkin tidak bernasib sebaik mereka  di mana mereka bisa berkumpul dan bersantap dengan orang-orang yang mereka cintai. Toh, makna perayaan Thanksgiving adalah memberikan syukur untuk apa yang setiap orang dapatkan tahun itu.

Lalu bagaimana dengan Mel, orang Indonesia yang barusan tahu muluk-muluk soal Thanksgiving 7 tahun yang silam? Dimulai dengan keingin tahuan yang akhirnya menjadi sedikit kekecewaan karena tidak ada teman bule yang mengundang makan santapan Thanksgiving di rumah mereka, akupun bersepakat untuk memulai tradisi ini di rumahku sendiri. Kuarsipkan semua resep-resep Thanksgiving yang kutemukan di majalah. Selang 1 minggu sebelum Thanksgiving, aku telah menyodorkan undangan ke semua teman-teman internasionalku yang sama malangnya denganku, tidak mempunyai acara apa-apa saat Thanksgiving. Untungnya ada 1 teman bule yang tidak jadi mudik ke Massachusetts dan rela untuk menjadi salah satu koki bala bantuan. Dengan tidur kurang dari 4 jam (karena memasak daging kalkun memerlukan waktu lebih dari 10 jam dan oven harus selalu diperhatikan agar daging kalkun tidak terlalu keras saat matang) dan 6 jam memasak hidangan lainnya, semua makananpun tertata rapi di meja makan dan teman-teman internasionalku pun berbondong-bondong datang dan menyantap makanan bersama. Oh ya, tidak lupa kami juga saling membagi cerita tentang apa yang kami syukuri untuk tahun itu sebelum mulai santapan.

Thanksgiving pertamaku itu telah terjadi 4 tahun yang silam. Sejak saat itu, aku sudah menjadi tuan rumah pesta hari raya besar ini 2 kali. Apakah aku akan menyelenggarakan perjamuan makan ini untuk tahun 2009? Sepertinya tidak. Karena tahun ini aku telah mendapatkan 2 undangan dari teman buleku (Hore! Akhirnya!) untuk datang ke perjamuan mereka. Inilah waktuku untuk bersantai dan menikmati percakapan dengan orang-orang yang kusayangi.

Jadi apa yang aku syukuri untuk tahun ini? Dipikir-pikir lumayan banyak juga. Menyelesaikan sekolah yang menurutku cukup menantang, mendapatkan pekerjaan part-time di ekonomi yang kurang menggembirakan dengan majikan yang sangat baik, beserta kedatangan adikku ke Amerika. Kurasa Thanksgiving kali ini akan bermakna seperti 3 perayaan Thanksgiving sebelumnya.

Apakah yang anda akan lakukan untuk liburan Thanksgiving tahun ini?