|
Meyrien Janevine
|
|
09-08-2010
|
|
|
Pada tanggal 31 Juli 2010 pekan lalu, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan masyarakat Indonesia di Los Angeles mengadakan “Festival Indonesia 2010” dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke-65 dan merayakan 20 Tahun hubungan Sister City Jakarta-Los Angeles. Festival yang bertemakan “A Presentation of Remarkable Indonesia for LA and Its Surroundings” tersebut mendapat dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta dan City of Los Angeles serta negara-negara tetangga ASEAN lainnya seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina. Acara yang dihadiri oleh sekitar 10.000 orang baik dari komunitas Indonesia di LA maupun komunitas lainnya berlangsung dari jam 10 pagi hingga 10 malam di kawasan gedung konsulat Indonesia di LA. Secara khusus jalan Mariposa ditutup untuk kenyamanan.
Festival Indonesia 2010 mencakup tiga komponen yaitu: pertunjukan seni dan budaya, bazaar makanan, pameran barang dan jasa oleh perusahaan-perusahaan asal Indonesia maupun Amerika dan mancanegara. Terdapat 32 stan yang mengisi sepanjang jalan, salah satunya adalah World Harvest, partner dari organisasi KeongMas.
World Harvest menyediakan sarana bagi KeongMas untuk mengumpulkan dana dalam pengembangan program baru KeongMas: MITRA, suatu proyek pengembangan dari program beasiswa ICONS. Dana didapat dari penjualan Boneka Nusantara karya Eka Yunita, seorang pengrajin yang juga sukses menerbitkan buku menjahit di Indonesia. Selain itu, ButikBatik juga turut berpartisipasi dengan menjual batik tulis sutra, demi mendukung pengusaha batik kecil di Pekalongan. Dengan keikutsertaan KeongMas dan ButikBatik, kehadiran stan World Harvest untuk pertama kalinya di Indonesian Festival ini mendapat sambutan baik dari masyarakat di Los Angeles. Ini mengingatkan kita akan pentingnya peran pendidikan dan pengusaha kecil dalam upaya membangun masyarakat yang memajukan bangsa.
World Harvest adalah sebuah organisasi nirlaba kemanusiaan internasional yang berfokus pada bantuan pasca bencana alam dan pembangunan masyarakat. Saat ini World Harvest bersama dengan KeongMas tengah membicarakan potensi kegiatan atau program yang dapat dilakukan bersama untuk membawa dampak yang lebih luas di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut mengenai World Harvest, kunjungi http://www.worldharvest.cc
|
|
Karolin Somali
|
|
09-08-2010
|
|
|
|
Indonesian Festival 2010 adalah acara tahunan yang diselenggarakan di Mariposa Ave, Los Angeles, CA untuk memperingati kemerdekaan negara Indonesia yang ke-65 tahun dan persahabatan ke-20 tahun antara Jakarta-Los Angeles. Acara ini diorganisir oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia Los Angeles (KJRI LA). Acara dibuka di jalan Mariposa dengan iring-iringan Reog Ponorogo (Singa barong) yang dibedahi dengan apik oleh grup Siskandar tepat jam 10 pagi. Orang-orang yang sedang berjalan-jalan di daerah skitar merasa tergugah menyaksikan adanya Reog dan bertanya-tanya ada apa gerangan yang sedang terjadi. Ini memang sudah direncanakan untuk menarik perhatian orang-orang. Acara lalu dilanjutkan dengan penampilan Pencak Silat oleh Nabil Suharto, dan tari-tarian Manduda Batak, Tari Badinding, Tari Caca Marica, Tari Kipas, Tari Baris. Kehadiran grup tari, yang diterbangkan langsung dari DKI Jakarta, menampilkan tarian Kembang Topeng dengan sangat memukau. Mereka terlihat sangat professional dan serasi. Tarian ini mengisahkan keriangan gadis-gadis Betawi. Ada adegan mereka tertawa bersama sambil menengok-nengok kebelakang dan tersipu-sipu berlari ke sudut lainnya. Rasa ini memang tim khusus yang dikirim DKI Jakarta untuk keliling negara-negara menarikan budaya negara kita ini. Turut tampil pula adalah Gamelan Bali yang dilakoni oleh Bapak Made. Mereka latihan rutin setiap minggu di Cal Arts dan University of California Los Angeles (UCLA) oleh Professor Wenten. Gamelan Jawa dan Gamelan Bali mempunyai beberapa perbedaan dari sisi teknik dan penerapannya. Warna musik Gamelan Jawa bernuansa lebih tradisional dan formal, sedangkan Gamelan Bali lebih dinamis dan banyak gerakan dari pemainnya. Yang mengagumkan adalah kebanyakan pemain gamelan adalah orang asing, tercatat Hirotako Inuzuka (yang dilingkari hitam) adalah orang Jepang, penabuh gong (baju putih) adalah Jim Gonzales, orang Mexico dan juga sekelompok warga Amerika yang rajin datang latihan tiap minggu jauh-jauh dari San Diego (sekitar 3 jam perjalanan mobil). Kita patut berbangga bahwa banyak orang asing tertarik untuk mempelajari budaya kita sendiri. Salah satu booth yang menarik adalah World Harvest yang bekerjasama dengan KeongMas (organisasi nirlaba dari Indonesia). Mereka menjual boneka-boneka pengantin dari berbagai daerah Indonesia, seperti pengantin Aceh, Batak, dll. Mereka tidak hanya duduk di booth saja, namun juga turun ke jalanan menawar-nawarkan boneka tersebut. Juga dijual di booth tersebut adalalah batik Pekalongan. Bahannya tipis sejuk dan tidak terlalu panjang, ideal untuk dijadikan syal.    Ada juga yang menjual Batik (Indra Aris Batik), caranya unik, jadi seperti jualan tile. Batiknya tidak ada, yang ada hanya pola-nya saja. Batik ini bukan diimport dari Indonesia, tapi dibuat langsung oleh artis batik yang namanya Ferril Nawir, beliau berkata bahwa kanvasnya bukan dari kertas namun kain, air dan warna dilebur menjadi suatu karya seni bernama batik. Studionya ada di downtown LA. Lalu ada juga yang menjual keris, dan ibu-ibu Darmawanita KJRI jualan batik dari Indonesia dimulai dari $35 ke-atas. Yang mengejutkan ada juga meja yang didedikasikan untuk orang Utan, untuk terus menghimbau pengunjung untuk melestarikan orang utan di Indonesia. Booth-booth makanan sebangsa Simpang Asia, Bali Island, Chiky, Satay Heidi ramai berjualan dan membuat macet jalanan oleh antrian orang-orang. Yang paling laris adalah martabak manis (terang bulan). Di Simpang Asia, mereka menjual setengah dus juga $6.99 (Cuma dapat 4 potong segitiga) dan 1 dus $16, kalau di Chicky mereka menjual langsung 1 dus. Saat saya ingin beli sekitar jam 3 sore, martabak sudah laris habis dijual. Chiky juga menjual gado-gado dan es cendol. Tip Top Mart menjual dengan harga diskon kacang Garuda dan teh botol (6 biji hanya $2). Terus ada yang jualan jamu (Ny. Meneer). Saya baru tahu kalau Ny. Meneer tidak hanya menjual jamu-jamuan dan minyak kayu putih, tetapi juga ada obat kuatnya. Acara dibuka secara resmi di panggung utama (di dalam lapangan parkir KJRI). Kata sambutan dari Bapak KonJen Subijaksono Sujono juga Sheriff Lee Baca, LA County Sheriff. Terdenger juga isu kalau Secret Service ikut juga terlibat menjaga keamanan Pihak KJRI sangat teliti mempersiapkan acara tahun ini. Tahun ini mereka menyewa Spiderman bubble playground untuk anak-anak. Ada satu bintang tamu yang sudah ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia di LA datang juga sekitar jam 6 sore dari San Fransisco (beliau ada tampil di Indonesian Day juga di Bay area) adalah: HEDI YUNUS. Penyanyi jebolan Kahitna Band asal Bandung. Hedi membuka booth dimana pengunjung bisa membeli CD terbaru. Ibu-ibu dan berbagai anak remaja cukup histeris untuk berfoto dengan Hedi. Pada saat dia tampil, Hedi mengajak pengunjung untuk membeli CD terbarunya, karena hasil penjualannya akan disumbangkan untuk anak yatim piatu. Setelah itu masyarakat Indonesia joget bersama, goyang dangdut sampai sekitar jam 11 malam. Malam yang berkesan karena Bapak KonJen Subijaksono Sujono sudah habis masa jabatannya di Los Angeles, jadi beliau akan meninggalkan Los Angeles pada tanggal 5 September 2010 nanti. Indonesian Festival ini menjadi event terakhir yang Bapak KonJen jalani di Los Angeles. Kami mengucapkan selamat tinggal kepada beliau dan selamat bertugas di tempat yang baru.
|
|
ouda t ena
|
|
26-06-2010
|
|
|
|
Hari musim panas yang hangat mulai gelap. Tiba-tiba hujan rintik-rintik turun, udara musim panas Chicago bagian utara yang hangat berubah menjadi sejuk. Lalu hujan deras mengguyur kota Evanston yang berbatasan dengan Chicago. Di suburb inilah berdiri Universitas Northwestern sejak tahun 1851. Hujan deras yang mengguyur musim panas, hampir seperti hujan bulan Desember di Indonesia tak menyurutkan niat para tamu undangan untuk menghadiri Malam Indonesia yang diselenggarakan oleh Konsulat Jendral Indonesia di Chicago, Direktorat Jendral Pemasaran Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia bekerjasama dengan Philip Kotler Center. Gamelan yang mengalun lembut mengiringi tamu-tamu undangan yang memasuki Dining Hall dengan meja bundar yang diatur mengahadap panggung gamelan. Gamelan Serayu yang dimainkan oleh tim gamelan Konjen RI Chicago yang dipimpim oleh Bapak Ngurah Kertayuda memang sangat mendukung suasana makan malam itu. Bebagai hidangan makan malam segera disajikan dan pertunjukkan tari menemani santap malam para tamu. Desi Anwar Mewawancarai Tamu. (dok. ouda) Nampak hadir dalam acara malam itu adalah Bapak Benny Bahanadewa Konsul Jendral RI di Chicago beserta ibu duduk satu meja dengan Philip dan Nancy Kotler serta Hermawan Kartajaya. Di meja sebelahnya ada Desi Anwar seorang pembawa berita senior TV swasta, Shirley Malinton (Konsul Bidang Informasi dan Pendidikan), dan Agus Buana (Konsul Bidang Ekonomi). Meja lain dipenuhi tamu-tamu undangan para pebisnis dan akademisi dari seputar Illinois. Hermawan Kartajaya memperkenalkan rencana Museum Marketing 3.0 di Ubud (dok. ouda) Empat buah tarian menemani jamuan makan malam itu. Sajian yang pertama adalah tari Cendrawasih yang dibawakan oleh Mirah dan Chika Kertayuda yang menggambarkan keanggunan burung cendrawasih dari Papua. Tari yang kedua adalah tari Topeng Arsa Wijaya dari Bali yang ditarikan oleh Janet. Tarian yang ketiga adalah adalah tari Yapong ciptaan Bagong Kusidiarjo (alm.) yang ditampilkan oleh Anna, Nidi, dan Jennifer. Tari topeng lain yang lain adalah tari Topeng Kelana dari Jawa Barat yang ditampilkan oleh Teresa Parod. Mirah dan Chika Kertayuda kembali tampil membawakan tari Ganjen yang menutup rangkaian acara tarian dan gamelan. Acara utama dimulai dengan sambutan dari Direktur Jendral Pemasaran, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata yang menjelaskan sekilas tentang pariwisata di Indonesia. Sesudah itu Prof. Philip Kotler menjelaskan secara singkat buku Marketing 3.0 yang ditulis bersama Hermawan Kartajawa (yang juga seorang kompasianer) dan Iwan Setiawan. Prof. Philip Kotler adalah seorang ahli marketing terkemuka di dunia dari Kellogg School of Management dan oleh Wall Street Journal dijuluki sebagai 6 pemikir bisnis paling berpengaruh di dunia. Sedangkan Hermawan Kartajaya adalah sosok ahli marketing yang tidak asing lagi yang menurut Chartered Institute of Marketing Inggris adalah salah satu suhu yang membentuk masa depan marketing. Bermain Angklung Bersama (dok. ouda) Menurut Prof. Philip ini adalah era marketing 3.0 dimana konsumen mencari solusi atas berbagai masalah untuk bisa membuat dunia yang mengglobal ini sebuah dunia yang lebih baik. Dalam dunia yang carut marut ini, konsumen senantiasa mencari produk dari perusahaan yang memenuhi kebutuhan keadilan sosial, ekonomi, dan ramah lingkungan. Konsumen senantiasa mencari produk dari perusahaan yang bisa membuat perbedaan, yang berdampak positif dalam semua aspeknya. Pada kesempatan berikutnya Hermawan Kartajaya memaparkan rencana pendirian Museum Marketing 3.0 di Ubud, Bali. Museum ini akan memasukkan perusahaan-perusahaan yang memenuhi criteria Marketing 3.0 yaitu membawa dampak pada keadilan ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam visi, misi, dan nilainya. Peserta Malam Indonesia ini mendapatkan souvenir buku ‘Ubud the Spirit of Bali’ tulisan Hermawan Kartajaya bersama Bembi Dwi Indrio. Semoga buku ini bisa saya kupas dalam tulisan berikutnya. Acara ditutup dengan permainan angklung. Semua peserta mendapat souvenir berupa sebuah angklung dan berkesempatan memainkannya bersama sebelum pulang. Sebelum pulang para tamu antri untuk mendapatkan tanda tangan pada buku ‘Marketing 3.0’ dan ‘Ubud the Spirit of Bali’ dari para penulisnya. (artikel ini juga dipublish di Kompasiana)  Prof. Philip Kotler dan Ouda (dok. ouda)
|
|
Marcella Einsteins
|
|
02-06-2010
|
|
|
|
Dunia musik Tanah Air kembali berduka. Legenda musik keroncong Gesang Martohartono tutup usia pada hari Kamis, 20 Mei 2010 pukul 18.07 di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo.1 Beliau berusia 92 tahun dan ironisnya, hari kepergian Gesang itu bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Seniman santun dan berpenampilan sederhana yang terkenal lewat lagu Bengawan Solo ini tak kuat menahan sakit yang dideritanya terlebih karena umurnya yang sudah renta. Ia mengalami gangguan pada saluran kencingnya dan menderita lemah jantung.
Memang kematian Gesang tidak terlalu mengejutkan mengingat usianya yang kian mendekati seabad. Tetapi hal ini cukup menyentak banyak orang. Rasa kehilangan dialami para penggemarnya di berbagai penjuru dunia. Tak banyak seniman Indonesia yang mampu menghasilkan karya yang mendunia. Kita patut berbangga karena lagu Bengawan Solo sudah terkenal di manca negara dan sudah diperbaharui dalam 3 bahasa. Terus terang saya sendiri bukan penikmat musik keroncong. Tetapi saya hafal lagu Bengawan Solo. Terlepas dari pelajaran seni musik yang saya dapatkan pada masa berseragam merah putih, lagu Bengawan Solo juga dapat saya dengar di tempat karaoke langganan keluargaku. Kebetulan kakek saya sangat hobi bernyanyi lagu keroncong. Pernah suatu kali saya mengajaknya untuk berkaraoke bersama seluruh keluarga. Merekapun kemudian memilih lagu kesukaannya masing-masing. Tiba giliran kakek saya, sudah saya pastikan bahwa beliau akan memilih lagu keroncong favoritnya karya Didi Kempot sebagai lagu pembukaan. Namun dugaan saya salah. Ketika saya bertanya “Kung-kung2, mau nyanyi lagu apa?”. Beliau dengan mantap menyebutkan “Bengawan Solo”. Jarang-jarang ada seorang kakek berusia di atas kepala 9 yang bisa menyanyikan lagu keroncong dengan luwes. Penglihatan yang sudah tidak tajam lagi membuatnya harus mendekatkan kepala ke layar televisi untuk melihat teks lagu. Tapi jangan salah, tembangannya sungguh terpadu apik dengan alur musik lagu. Melihat kung-kungku bernyanyi, aku mulai berpikir seindah apa Sungai Bengawan yang menjadi inspirasi Mbah Gesang pada jaman itu sehingga beliau dapat menciptakan sebuah lagu yang kemudian tersohor sampai ke manca negara. Konon, lagu ini diciptakan dalam kurun waktu 6 bulan. Pada kenyataannya kondisi Sungai Bengawan sekarang sangat memprihatinkan karena sungai ini tidak lagi dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari karena polusi. Pada akhir hayatnya, Gesang berpesan untuk melestarikan musik keroncong. Pesan tersebut disampaikan kepada orang-orang yang ada di sekitar ranjang kematiannya. Semoga musik keroncong tidak hilang ditelan bumi karena sedikit sekali generasi muda yang mau melanjutkan warisan kebudayaan terutama musik keroncong.
Selamat jalan, Pak Gesang! Semoga Tuhan menempatkan engkau di sisi KananNya.
|
|
Emmanuel Jefferson
|
|
19-04-2010
|
|
|
 Pada April 10, 2010, di kota kampus West Lafayette, rumah bagi Purdue University, digelar Indonesian Food & Festival (IndoFoodFest) dengan bertemakan "Culture: Cuisines and Living Literature". Acara tahunan ini salah satu acara terbesar yang diadakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias). Sekitar 200 orang yang hadir bisa menikmati pertunjukan kebudayaan klasik dan modern serta menikmati hidangan makanan yang dimasak sendiri oleh mahasiswa Indonesia. Yang hadir ada dari mahasiswa/i sampai fakultas dan masyarakat setempat, dari warga Amerika, Jepang, Malaysia, Cina sampai masyarakat Indonesia sendiri. Yang menarik dari pertunjukan tahun ini adalah dimana ada suatu kombinasi yang menarik antara seni klasik dan budaya modern Indonesia. Acara dimulai dengan penampilan Barita P. Siregar, salah satu warga Indonesia yang bekerja di Hawaiian Hut Restaurant. Barita membawakan lagu Aku Cinta Kau dan Dia oleh Ahmad Dhani dengan diiringi oleh band dari Permias Purdue. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Chicago ikut memberi pertunjukan 2 tarian, Tari Payung dari Sumatera Barat dan Tari Wirayuda dari Bali. Tari Payung menggambarkan interaksi sepasang kekasih yang dilambangkan dengan payung, sedangkan Tari Wirayuda menunjukkan persiapan sekelompok prajurit Bali Dwipa yang bersiap-siap ke medan perang.
Permias Purdue pun tidak mau kalah menariknya. Mereka menampilkan Cerita Loro Jonggrang dari Jawa Tengah, dengan sentuhan komedi, props yang menarik, dialog dan musik , serta dengan bahasa Inggris, sehingga penonton dapat mengerti. Untuk ajang interaksi, penonton diajak untuk lomba makan kerupuk putih, seperti layaknya ketika perayaan HUT RI. Siapa sangka ternyata orang Amerika bisa memenangkan lomba ini mengalahkan 2 orang Indonesia yang juga ikutan lomba. Fashion show yang ditampilkan juga tidak seperti fashion show pada umumnya yang menampilkan pakaian daerah. Kali ini fashion show menampilkan pakaian modern dengan sentuhan traditional seperti batik dan perhiasan. Acara ditutup dengan sajian musik khas Indonesia, apalagi kalau bukan dangdut. Band Permias mengajak penonton untuk berjoget bersama dengan lantunan lagu Kopi Dangdut. Terlihat beberapa orang bule pun ikut asyik berjoget. Bagaimana tanggapan pembaca mengenai pertunjukan-pertunjukan di IndoFoodFest ini? Silahkan menuliskan komentar anda di bawah atau di link youtube kami. Yang namanya Indonesian Food & Festival, pasti tidak lengkap dengan presentasi makanan. Makanan Indonesia salah satu hal dari Indonesia yang tidak bisa lepas dari budaya dan hal yang harus dicobai oleh masyarakat asing. Semua makanan yang disajikan disiapkan secara spesial oleh mahasiswa Indonesia sendiri. Untuk makanan pembuka, disajikan Bakwan Jagung, Bakwan Goreng, Krupuk Udang dan Kerupuk Bawang. Sebagai hidangan utama, pengunjung bisa memilih Nasi Campur, Nasi Kuning atau Ketoprak. Sebagai pemanis di akhir hidangan, Ketan Hitam, Martabak Manis, Angsle dan Es Cincau pun siap dihidangkan.
Menurut Wis Limiadi, ketua acara IndoFoodFest 2010, acara tahun ini ingin menunjukkan bahwa budaya Indonesia bukanlah budaya yang kuno atau ketinggalan jaman. "Tujuan awal dari komite adalah agar Indonesian Food Festival 2010 dapat menunjukkan budaya Indonesia dengan konsep yang entertaining. Budaya Indonesia bukanlah budaya yang stagnant melainkan budaya yang sungguh dinamis". Konsep acara pun tidak seperti biasanya dimana hanya sekedar mempertunjukkan pertunjukan. "Dalam Indonesian Food Festival 2010, Sie. Acara mencoba memberi inovasi-inovasi yang memberi warna baru dalam acara ini. Konsep acara IndoFoodFest kali ini berbentuk suatu narasi cerita seorang turis dari US yang sedang berlibur ke Indonesia. Konsep ini merupakan sesuatu yang baru dan banyak respon positif yang kami terima."
Reaksi dari penonton pun sangat positif. "Saya suka pertunjukan Fashion Show karena mengkombinasikan sejarah, budaya dan modern". Ada pula yang sangat menikmati Tari Wirayuda dan musik dangdut. Makanan seperti Nasi Kuning dan Ketoprak pun cukup populer. Menurut Barita P. Siregar, salah satu performer di acara ini, "Ini salah satu pertunjukan terbaik untuk Indonesia yang pernah saya tonton, sangat lucu dan menghibur".
IndoFoodFest ini sangat memberi kesan yang berarti buat para pengunjung, tidak hanya menghibur lewat pertunjukan budaya, tetapi juga meng-educate masyarakat asing tentang budaya Indonesia melalui poster-poster, booth informasi tentang budaya Indonesia, serta sajian makanan khas Indonesia.
Berikut video interview dengan pengunjung yang diliput oleh KeongMas:
|
|
|