Artikel Politik Terpopuler

  1. Filipina - Negara tetangga kita yang lain
    Fanny Surjana, 25-10-2009 (772 hits)
  2. Hak Pilih
    Buntoro Sugianto, 14-06-2009 (720 hits)
  3. Polisi dan Ancaman Demokrasi
    Nico Harjanto, 09-11-2009 (607 hits)
  4. Pelajaran dari Pemilu 2009
    Emmanuel Jefferson, 02-08-2009 (528 hits)
  5. Pembantu dan Pemilu
    Buntoro Sugianto, 13-03-2009 (492 hits)
  6. Negeri ‘Yang Penting Proyek’
    Fadillah Putra, 04-01-2010 (477 hits)
  7. Hantu Holocaust: Sosok Kriminal SARA
    Setra Yappi, 29-12-2009 (471 hits)
  8. Sri Mulyani: Mengapa Keluar Jabatan?
    Fanny Surjana, 17-05-2010 (247 hits)
  9. Permusyawaratan Rakyat: Usaha Bersama dalam Mewujudkan Iklim Demokrasi
    Joshua Agusta, 15-08-2010 (102 hits)

Arsip Politik

Hantu Holocaust: Sosok Kriminal SARA
Setra Yappi    28-12-2009  
( 5 Votes )
  

Masih ingat definisi makhluk sosial di pelajaran kewarganegaraan yang selalu terasa membosankan? Nyatanya konsep dan tata krama bersosialisasi yang diajarkan oleh ibu-bapak guru kita tidak begitu membosankan, toh tiap hari kita mengunakannya. Manusia, bisa dilihat dalam diri masing-masing, tak mungkin hidup sendiri sepenuhnya tanpa depresi atau gangguan mental. Masa remaja di Indonesia menunjukkan bahwa definisi gaul itu identik dengan banyaknya teman di berbagai tempat. Sayangnya sedikit sekali kita diajarkan wawasan yang luas tentang pergaulan dan kehidupan sosial di lingkungan yang majemuk. Adanya justru stereotype atau kecurigaan terhadap sesama dengan warna kulit yang berbeda atau logat yang kental, dan dari pengalaman sendiri, kebencian terhadap suku-suku tertentu dengan alasan yang kadang bisa ditertawakan. Terasa lelah kita dipaksa untuk melupakan banyak kejadian dalam sejarah di mana kecurigaan dan kebencian semacam ini harus dibayar dengan nyawa manusia. Salah satunya adalah Holocaust, proyek pembunuhan masal kaum Yahudi yang dipimpin oleh Hitler. Dengan generasi muda yang dibiasakan oleh budaya modern untuk acuh tak acuh terhadap sejarah, hal seperti ini tak banyak diketahui, dipelajari, atau dibicarakan dewasa ini.

Kata Holocaust kebanyakan hanya dikenali di negara-negara di mana pembunuhan masal itu terjadi atau di mana ada kaum Yahudi yang berhasil menyelamatkan diri. Memang jika kita lacak asal mulanya kita harus kembali ke abad pertama Masehi. Kaum Yahudi dikenal sebagai pemuka agama sekaligus intelektual yang sampai sekarang yakin bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan yang Esa. Peperangan filosofi terjadi ketika tokoh bernama Yesus muncul dalam sejarah yang mengaku bahwa Ialah Tuhan yang turun ke bumi. Kaum Yahudi meresponi ini dengan mengucilkan dan memburu semua pengikut Yesus; kisah hidup Rasul Paulus di sejarah kekristenan membuktikan aksi ini. Dengan waktu, ternyata pertumbuhan pengikut Yesus dalam jumlah dan kekuatan politik membuat keadaan berbalik. Pada abad ke 18, kaum Yahudi mulai dikucilkan di negara-negara berbasis Kristen sebagai penduduk dengan setengah kewarganegaraan. Penolakan terhadap agama kaum Yahudi, Judaism, diterjemahkan menjadi gerakan anti-Semitism di Eropa yang memfokuskan pada ras dibanding agama untuk alasan politik yaitu toleransi beragama. Alhasil, mereka terpaksa menjadi second-class citizens dengan kesempatan hidup yang sangat terbatas; mereka berhasil dituduh sebagai parasit yang serakah dan licik. Mereka dianggap aneh dengan budayanya yang unik, seperti sunatan dan hari Sabat tanpa kerja. Filosofi Darwinism pun ikut terbawa arus ketika para ilmuwan mengajukan bahwa kaum Yahudi adalah kaum yang lebih rendah, bersama mereka yang tidak berkulit putih dan yang berkelamin perempuan. Gerakan seperti ini menjamur sehingga tertanam di jiwa-jiwa para aktivis anti-Semitism yang memanipulasi kekristenan untuk merekrut pengikut dan berkampanye melawan kaum Yahudi yang terlanjur menjadi sampah masyarakat. Lalu munculah Hitler dengan koalisinya yang memulai gerakan pembunuhan kaum parasit terutama penyandang cacat dan kaum gipsy, yang akhirnya berlanjut mulai tahun 1941 menjadi kampanye pembunuhan kaum Yahudi di daerah kekuasaan pemerintahan yang makin meluas. Aksi ini bertanggungjawab atas hilangnya 6 juta nyawa kaum Yahudi dan relokasi mereka yang selamat ke berbagai negara di dunia sebagai pengungsi. Konsep Darwinisme yang percaya akan seleksi alam dan survival of the fittest, dan juga dasar agama, dimanfaatkan untuk membenarkan aksi eliminasi manusia yang dianggap tidak berhak untuk hidup atau menjadi pengganggu. Peristiwa ini sekarang dikenal sebagai Holocaust.

Betapa egoisnya jika kita berpikir bahwa yang Esa menciptakan manusia-manusia yang bisa kita anggap lebih rendah. Kekuatan dan bahaya pikiran individual terbukti tidak bisa diremehkan. Ini membawa kita kembali ke profil Hitler yang sejak muda terlibat dalam gerakan-gerakan diskriminatif terhadap Yahudi, dan isu yang sempat beredar menceritakan bahwa masa kecilnya dalam kemiskinan membuatnya iri hari terhadap kaum Yahudi yang saat itu berhasil secara ekonomi. Ia awalnya tidak vokal akan konviksinya yang kemungkinan disebabkan oleh ketakutannya akan dendam yang nantinya akan kembali padanya. Seiring dengan semakin kuat kedudukannya di pemerintahan Jerman saat Perang Dunia II, semakin jelas dari pidato-pidatonya bahwa ia menginginkan kaum Yahudi dibasmi dengan alasan bahwa mereka (tokoh-tokoh politik di AS) adalah penyebab Perang Dunia I yang memakan banyak korban. Dengan kemampuan orasinya, ia meyakinkan rakyat Jerman bahwa perang hanya bisa dihentikan ketika seluruh Yahudi musnah dari muka bumi. Maka dimulailah pembunuhan anak-anak, wanita dan pria Yahudi. Militer Jerman membangun ratusan camp untuk para tawanan Yahudi yang ditangkap di seluruh daerah kekuasaan Jerman, di mana dibangun fasilitas-fasilitas medis untuk melakukan berbagai ekperimen brutal atas mereka dan ruangan-ruangan gas untuk membunuh mereka yang dimasukkan di dalamnya. Ada juga fasilitas kremasi untuk mayat-mayat Yahudi yang dibakar secara masal dan lubang-lubang yang digali untuk menimbun mayat-mayat itu. Banyak film-film di luar sana yang menggambarkan kehidupan di camp-camp ini, seperti Life is Beautiful. Mereka yang selamat dari Holocaust dan masih hidup sampai hari ini bisa menceritakan dengan jelas hasil dari pikiran individual-individual yang rasis and sempit. Selain Hitler, banyak lagi perspektif individu lain yang membenarkan Holocaust, termasuk motivasi para dokter dan anggota militer yang terlibat yang sampai sekarang adalah misteri.

Kejadian semacam Holocaust sudah terbukti terjadi lagi dan lagi sampai abad ke-21 ini. Salah satu yang paling menonjol adalah peperangan antara suku Hutu dan Tutsi di Rwanda. Beberapa kejadian mirip terjadi di Indonesia disembunyikan dari media dan tidak dibahas oleh para pemimpin kita.

Jangan sampai kita merasa lebih benar dari para pelaku Holocaust karena kita pun mampu melakukan hal yang serupa jika dalam diri kita tertanam nilai-nilai yang sama, yaitu perasaan superior terhadap sekelompok orang lain yang berbeda dari kita sendiri. Sampai hari ini kita tidak tahu dengan jelas siapa yang ada di belakang kejadian Mei 1998, peperangan antar umat beragama seperti di Maluku dan Poso, dan konflik suku Dayak dan Madura. Terkesan sempit jika kita meratakan penghakiman kita terhadap para pelaku ataupun korban kejadian-kejadian tersebut dengan mengganggap bahwa mereka adalah sekelompok orang dengan latar belakang tertentu. Buktinya dari segala kelas atau status sosial di masyarakat kita menemukan komentar-komentar diskriminasi ras di percakapan pribadi sehari-hari. Dari pengalaman pribadi, orang tua pun menyalurkan pendapat mereka yang sangat diskrimatif pada anak-anaknya sehingga ketegangan antar ras berlanjut dari generasi ke generasi. Para pemimpin negara di Indonesia tak pernah menyatakan pendapatnya akan toleransi antar SARA atau membawa keadilan pada mereka yang memprovokasi ketegangan SARA. Polisi dan militer pernah membiarkan beberapa kerusuhan atas dasar SARA terjadi. Para korban dan pengungsi melarikan diri dan berbalik dari kampung halaman sendiri dengan kepahitan yang luar biasa. Kapankah seseorang yang berpengaruh bisa berbicara pada masyarakat luas di Indonesia tentang hidup damai di tengah kemajemukan?

Tantangan bagi kita saat ini adalah melihat ke diri kita masing-masing di mana Holocaust terjadi secara spiritual dan mempertanyakan segala kecurigaan dan kebencian yang kita punya sebagai manusia yang harusnya bisa menggunakan logika. Adanya kebencian terhadap SARA lain pasti pernah mendorong kita untuk mensimulasikan Holocaust di pikiran kita yang imajinatif. Umpatan-umpatan dalam hati yang berasal dari bibit-bibit stereotype yang terlanjur tertanam pastinya sempat keluar, maka harus dikritisi. Logikanya, yang Kuasa menciptakan kita dengan tujuan-Nya sendiri maka kita pun tidak berhak menilai ciptaan-Nya dengan standar kita masing-masing. Kalau memang kita percaya pada seleksi alam, biarlah alam yang mengerjakan tugasnya. Dari sisi kemanusiaan dan HAM, salah satu hak asasi tiap individual adalah hak hidup dan hak merdeka tanpa memandang SARA Pelajaran PPKN bukanlah bualan belaka jika kita mau dan berani untuk mengaplikasikannya. Ajaran-ajaran kuno dan wejangan-wejangan tetua yang berasal dari pengalaman pahit dan stereotype mereka sebaiknya dipikirkan lagi secara kritis. Kejadian-kejadian di masa lalu di mana sebagian dari kita adalah korban dari ketengangan SARA kurang kuat untuk menjadi dasar kita untuk membalaskannya pada orang lain.

Persatuan Indonesia sudah dipikiran oleh pendahulu kita yang mewujudkan kemerdekaan NKRI untuk kita. Mereka yang memanipulasi negara dan merusak persatuan untuk kepentingan sendiri telah dan sedang dibasmi. Diskusi-diskusi antar umat beragama sudah terjadi. Kehidupan modern telah mengijinkan hidup rukun tanpa membeda-bedakan. Mari kita memulai gerakan anti-Holocaust di kehidupan kita sehari-hari berdasarkan akal sehat dan kemanusiaan. Yang harus kita bunuh bersama-sama adalah setan-setan spiritual provokator kebencian dan hantu Holocaust.

Comments
Add New
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.