
Masih ingat definisi makhluk
sosial di pelajaran kewarganegaraan yang selalu terasa membosankan?
Nyatanya konsep dan tata krama bersosialisasi yang diajarkan oleh
ibu-bapak guru kita tidak begitu membosankan, toh tiap hari kita
mengunakannya. Manusia, bisa dilihat dalam diri masing-masing, tak
mungkin hidup sendiri sepenuhnya tanpa depresi atau gangguan mental.
Masa remaja di Indonesia menunjukkan bahwa definisi gaul itu
identik dengan banyaknya teman di berbagai tempat. Sayangnya sedikit
sekali kita diajarkan wawasan yang luas tentang pergaulan dan
kehidupan sosial di lingkungan yang majemuk. Adanya justru stereotype
atau kecurigaan terhadap sesama dengan warna kulit yang berbeda atau
logat yang kental, dan dari pengalaman sendiri, kebencian terhadap
suku-suku tertentu dengan alasan yang kadang bisa ditertawakan.
Terasa lelah kita dipaksa untuk melupakan banyak kejadian dalam
sejarah di mana kecurigaan dan kebencian semacam ini harus dibayar
dengan nyawa manusia. Salah satunya adalah Holocaust, proyek
pembunuhan masal kaum Yahudi yang dipimpin oleh Hitler. Dengan
generasi muda yang dibiasakan oleh budaya modern untuk acuh tak acuh
terhadap sejarah, hal seperti ini tak banyak diketahui, dipelajari,
atau dibicarakan dewasa ini.
Kata Holocaust
kebanyakan hanya dikenali di negara-negara di mana pembunuhan masal
itu terjadi atau di mana ada kaum Yahudi yang berhasil menyelamatkan
diri. Memang jika kita lacak asal mulanya kita harus kembali ke abad
pertama Masehi. Kaum Yahudi dikenal sebagai pemuka agama sekaligus
intelektual yang sampai sekarang yakin bahwa mereka adalah bangsa
pilihan Tuhan yang Esa. Peperangan filosofi terjadi ketika tokoh
bernama Yesus muncul dalam sejarah yang mengaku bahwa Ialah Tuhan
yang turun ke bumi. Kaum Yahudi meresponi ini dengan mengucilkan dan
memburu semua pengikut Yesus; kisah hidup Rasul Paulus di sejarah
kekristenan membuktikan aksi ini. Dengan waktu, ternyata pertumbuhan
pengikut Yesus dalam jumlah dan kekuatan politik membuat keadaan
berbalik. Pada abad ke 18, kaum Yahudi mulai dikucilkan di
negara-negara berbasis Kristen sebagai penduduk dengan setengah
kewarganegaraan. Penolakan terhadap agama kaum Yahudi, Judaism,
diterjemahkan menjadi gerakan anti-Semitism di Eropa
yang memfokuskan pada ras dibanding agama untuk alasan politik yaitu
toleransi beragama. Alhasil, mereka terpaksa menjadi second-class
citizens dengan kesempatan hidup yang sangat terbatas; mereka
berhasil dituduh sebagai parasit yang serakah dan licik. Mereka
dianggap aneh dengan budayanya yang unik, seperti sunatan dan hari
Sabat tanpa kerja. Filosofi Darwinism pun ikut terbawa arus
ketika para ilmuwan mengajukan bahwa kaum Yahudi adalah kaum yang
lebih rendah, bersama mereka yang tidak berkulit putih dan yang
berkelamin perempuan. Gerakan seperti ini menjamur sehingga tertanam
di jiwa-jiwa para aktivis anti-Semitism yang memanipulasi
kekristenan untuk merekrut pengikut dan berkampanye melawan kaum
Yahudi yang terlanjur menjadi sampah masyarakat. Lalu munculah Hitler
dengan koalisinya yang memulai gerakan pembunuhan kaum parasit
terutama penyandang cacat dan kaum gipsy, yang akhirnya
berlanjut mulai tahun 1941 menjadi kampanye pembunuhan kaum Yahudi di
daerah kekuasaan pemerintahan yang makin meluas. Aksi ini
bertanggungjawab atas hilangnya 6 juta nyawa kaum Yahudi dan relokasi
mereka yang selamat ke berbagai negara di dunia sebagai pengungsi.
Konsep Darwinisme yang percaya akan seleksi alam dan survival of
the fittest, dan juga dasar agama, dimanfaatkan untuk membenarkan
aksi eliminasi manusia yang dianggap tidak berhak untuk hidup atau
menjadi pengganggu. Peristiwa ini sekarang dikenal sebagai Holocaust.
Betapa egoisnya jika kita
berpikir bahwa yang Esa menciptakan manusia-manusia yang bisa kita
anggap lebih rendah. Kekuatan dan bahaya pikiran individual terbukti
tidak bisa diremehkan. Ini membawa kita kembali ke profil Hitler yang
sejak muda terlibat dalam gerakan-gerakan diskriminatif terhadap
Yahudi, dan isu yang sempat beredar menceritakan bahwa masa kecilnya
dalam kemiskinan membuatnya iri hari terhadap kaum Yahudi yang saat
itu berhasil secara ekonomi. Ia awalnya tidak vokal akan konviksinya
yang kemungkinan disebabkan oleh ketakutannya akan dendam yang
nantinya akan kembali padanya. Seiring dengan semakin kuat
kedudukannya di pemerintahan Jerman saat Perang Dunia II, semakin
jelas dari pidato-pidatonya bahwa ia menginginkan kaum Yahudi dibasmi
dengan alasan bahwa mereka (tokoh-tokoh politik di AS) adalah
penyebab Perang Dunia I yang memakan banyak korban. Dengan kemampuan
orasinya, ia meyakinkan rakyat Jerman bahwa perang hanya bisa
dihentikan ketika seluruh Yahudi musnah dari muka bumi. Maka
dimulailah pembunuhan anak-anak, wanita dan pria Yahudi. Militer
Jerman membangun ratusan camp untuk para tawanan Yahudi yang
ditangkap di seluruh daerah kekuasaan Jerman, di mana dibangun
fasilitas-fasilitas medis untuk melakukan berbagai ekperimen brutal
atas mereka dan ruangan-ruangan gas untuk membunuh mereka yang
dimasukkan di dalamnya. Ada juga fasilitas kremasi untuk mayat-mayat
Yahudi yang dibakar secara masal dan lubang-lubang yang digali untuk
menimbun mayat-mayat itu. Banyak film-film di luar sana yang
menggambarkan kehidupan di camp-camp ini, seperti Life is
Beautiful. Mereka yang selamat dari Holocaust dan masih
hidup sampai hari ini bisa menceritakan dengan jelas hasil dari
pikiran individual-individual yang rasis and sempit. Selain Hitler,
banyak lagi perspektif individu lain yang membenarkan Holocaust,
termasuk motivasi para dokter dan anggota militer yang terlibat yang
sampai sekarang adalah misteri.
Kejadian semacam Holocaust
sudah terbukti terjadi lagi dan lagi sampai abad ke-21 ini. Salah
satu yang paling menonjol adalah peperangan antara suku Hutu dan
Tutsi di Rwanda. Beberapa kejadian mirip terjadi di Indonesia
disembunyikan dari media dan tidak dibahas oleh para pemimpin kita.
Jangan sampai kita merasa
lebih benar dari para pelaku Holocaust karena kita pun mampu
melakukan hal yang serupa jika dalam diri kita tertanam nilai-nilai
yang sama, yaitu perasaan superior terhadap sekelompok orang lain
yang berbeda dari kita sendiri. Sampai hari ini kita tidak tahu
dengan jelas siapa yang ada di belakang kejadian Mei 1998, peperangan
antar umat beragama seperti di Maluku dan Poso, dan konflik suku
Dayak dan Madura. Terkesan sempit jika kita meratakan penghakiman
kita terhadap para pelaku ataupun korban kejadian-kejadian tersebut
dengan mengganggap bahwa mereka adalah sekelompok orang dengan latar
belakang tertentu. Buktinya dari segala kelas atau status sosial di
masyarakat kita menemukan komentar-komentar diskriminasi ras di
percakapan pribadi sehari-hari. Dari pengalaman pribadi, orang tua
pun menyalurkan pendapat mereka yang sangat diskrimatif pada
anak-anaknya sehingga ketegangan antar ras berlanjut dari generasi ke
generasi. Para pemimpin negara di Indonesia tak pernah menyatakan
pendapatnya akan toleransi antar SARA atau membawa keadilan pada
mereka yang memprovokasi ketegangan SARA. Polisi dan militer pernah
membiarkan beberapa kerusuhan atas dasar SARA terjadi. Para korban
dan pengungsi melarikan diri dan berbalik dari kampung halaman
sendiri dengan kepahitan yang luar biasa. Kapankah seseorang yang
berpengaruh bisa berbicara pada masyarakat luas di Indonesia tentang
hidup damai di tengah kemajemukan?
Tantangan bagi kita saat ini
adalah melihat ke diri kita masing-masing di mana Holocaust
terjadi secara spiritual dan mempertanyakan segala kecurigaan dan
kebencian yang kita punya sebagai manusia yang harusnya bisa
menggunakan logika. Adanya kebencian terhadap SARA lain pasti pernah
mendorong kita untuk mensimulasikan Holocaust di pikiran kita
yang imajinatif. Umpatan-umpatan dalam hati yang berasal dari
bibit-bibit stereotype yang terlanjur tertanam pastinya sempat
keluar, maka harus dikritisi. Logikanya, yang Kuasa menciptakan kita
dengan tujuan-Nya sendiri maka kita pun tidak berhak menilai
ciptaan-Nya dengan standar kita masing-masing. Kalau memang kita
percaya pada seleksi alam, biarlah alam yang mengerjakan tugasnya.
Dari sisi kemanusiaan dan HAM, salah satu hak asasi tiap individual
adalah hak hidup dan hak merdeka tanpa memandang SARA Pelajaran PPKN
bukanlah bualan belaka jika kita mau dan berani untuk
mengaplikasikannya. Ajaran-ajaran kuno dan wejangan-wejangan tetua
yang berasal dari pengalaman pahit dan stereotype mereka
sebaiknya dipikirkan lagi secara kritis. Kejadian-kejadian di masa
lalu di mana sebagian dari kita adalah korban dari ketengangan SARA
kurang kuat untuk menjadi dasar kita untuk membalaskannya pada orang
lain.
Persatuan Indonesia sudah
dipikiran oleh pendahulu kita yang mewujudkan kemerdekaan NKRI untuk
kita. Mereka yang memanipulasi negara dan merusak persatuan untuk
kepentingan sendiri telah dan sedang dibasmi. Diskusi-diskusi antar
umat beragama sudah terjadi. Kehidupan modern telah mengijinkan hidup
rukun tanpa membeda-bedakan. Mari kita memulai gerakan anti-Holocaust
di kehidupan kita sehari-hari berdasarkan akal sehat dan kemanusiaan.
Yang harus kita bunuh bersama-sama adalah setan-setan spiritual
provokator kebencian dan hantu Holocaust.
|