Artikel Pendidikan Terpopuler
-
Mendefinisikan Indonesia: Teknologi, Budaya Menulis dan Demokratisasi Pengetahuan
Aldo Sunaryo, 13-09-2009 (840 hits) -
Ajari Anak-anak Bangsa Melestarikan Alam Indonesia
Wiji Suprayogi, 20-05-2010 (780 hits) -
Belajar Berbicara Di Depan Umum
Melisa Giovani, 18-11-2009 (736 hits) -
Korupsi: Dihukum atau Ditanggulangi?
Setra Yappi, 14-06-2009 (673 hits) -
Kisah Tentang Nasi Jagung, Samgyeobsal dan Semangkuk Leberknödelsuppe
Fadillah Putra, 14-06-2009 (413 hits) -
Pendidikan: "Buat Genap-genap Sajalah Mas"
Wiji Suprayogi, 02-08-2010 (146 hits) -
Pengetahuan vs Pengalaman
Joshua Agusta, 09-07-2010 (126 hits)
| Pengetahuan vs Pengalaman |
|
|
Judul di atas menggeneralisasikan penyebab konflik yang sering terjadi antara generasi; orangtua-anak, dosen-mahasiswa, guru-murid, atasan-bawahan, dan sebagainya. Yang tua merasa bahwa mereka telah makan asam garam, telah merasakan dan mengetahui segala sesuatu yang dipikirkan atau diinginkan oleh orang lain. Yang muda merasa bahwa mereka telah banyak belajar, sudah mengetahui tentang segala sesuatu yang ada di bawah matahari. Apabila mereka berargumen satu sama lain, sering terjadi konflik di mana masing-masing merasa bahwa dirinya yang paling benar. Tanpa disadari sebenarnya konflik tersebut terjadi karena adanya pandangan dari masing-masing pelaku (tua dan muda) yang saling merendahkan satu sama lain. Yang tua menganggap bahwa yang muda tidak mengerti apa-apa karena belum berpengalaman dan "masih bau kencur" kata kebanyakan orang, sedangkan yang muda menganggap bahwa yang tua tidak tahu apa-apa karena sudah kuno dan ketinggalan zaman, atau secara sarkastik dapat dikatan sebagai "sudah karatan". Tidak heran, perdebatan antara 2 generasi ini biasa berakhir dengan kalimat "Dengar ya, saya itu sudah pernah jadi kamu, sedangkan kamu belum pernah jadi saya. Jadi, dengarkan saya!" kata orang yang lebih tua. Pada akhirnya, yang muda akan menjawab, "Apa kata lu, dah..", yang pada akhirnya tidak menghasilkan sesuatu untuk ditangkap esensinya karena keduanya hanya berdebat dan tidak mendengarkan satu sama lain. Bukannya saya tidak pernah beradu argumen dengan orang tua yang ada di sekitar saya. Orangtua, guru, pembina, senior, pendeta, maupun dosen yang pernah mengajar/membimbing saya pasti sudah pernah saya debat, dan biasanya reaksinya berbeda-beda. Ada yang kebingungan, ada yang diam, ada yang menjawab walaupun jawabannya tidak dapat saya terima kemudian saya debat lagi, ada yang dapat menjawab dengan rasional dan saya terima, atau jawaban yang saya paling kesal untuk mendengarnya, seperti "telan sajalah dulu, belum waktunya kamu mengerti", atau jawaban seperti yang sudah saya ilustrasikan pada paragraf sebelumnya. Kembali saya akan menggarisbawahi pernyataan bahwa kaum tua dan muda sama-sama memiliki pandangan yang saling merendahkan. Orangtua kebanyakan akan memandang anak-anak didiknya, atau secara umum kaum pemuda, sebagai "makhluk yang tidak tahu apa-apa" atau "sering menanyakan pertanyaan yang tidak-tidak". Dan memang benar, pada kenyataannya, seringkali banyak pemuda memberikan pertanyaan yang tidak perlu dijawab, tidak ada jawabannya, tidak berarti untuk dijawab, atau bermaksud untuk "mematikan" si orang tua. Dan setelah dipikirkan, mungkin hal inilah yang menyebabkan stagnansi dari bangsa kita. Rakyat Indonesia sangatlah menuntut demokrasi untuk dijalankan dalam pemerintahan. Mereka semua selalu menuntut supaya hak mereka memberikan aspirasi didengar oleh para petinggi negara. Sayangnya mayoritas rakyat Indonesia masihlah under-educated - belum terdidik dengan baik. Sebagian besar dari mereka masih mendasarkan argumen atau aspirasinya atas dasar kepentingan pribadi ataupun golongan dan bertentangan dengan hakekat demokrasi. Para petinggi, di sisi lain, memiliki pandangan yang merendahkan terhadap rakyat Indonesia. Mereka menganggap apabila aspirasi rakyat Indonesia didengarkan satu per satu maka akan membuang-buang waktu dan mengurangi produktivitas kerja mereka. Aspirasi yang mereka dengarkan hanyalah rekayasa yang dibentuk oleh DPR kita yang sebenarnya bukan merupakan aspirasi yang berdasar atas keadaan rakyat Indonesia yang sebenarnya. Sebenarnya alasan dari petinggi-petinggi negara itu bisa diterima. Pasalnya, sebagian besar rakyat Indonesia sudah merasa tahu bagaimana memimpin suatu negara. Di lain pihak, para petinggi merasa memiliki pengalaman dalam memimpin negara dan menganggap bahwa rakyat Indonesia tidak mengerti apa-apa tentang kondisi negara & politik. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat tidak ditampung seutuhnya. Sampailah kita pada suatu pemikiran lagi yakni manakah yang lebih penting - pengetahuan ataukah pengalaman? Jawabannya mungkin terdengar klise tapi memang benar - "sama-sama penting". Mungkin kalau mendengar jawaban ini sebagian besar orang akan mengatakan "cape deeeehh..". Namun perlu dicatat bahwa pengalaman dan pengetahuan harus terintegrasi. Pengetahuan yang rendah tidak akan membawa kita pada pengalaman yang baik sedangkan kurang pengalaman juga akan membuat kita menjadi kurang pengetahuan. Oleh karena itu, marilah kita sebagai kaum intelektual Indonesia bisa menyampaikan aspirasi kita dengan rasa toleransi dan compassion, namun pada saat yang sama tidak mengkompromikan idealisme kita. Banyak dari kita yang terkadang beraspirasi tanpa mempertimbangkan seluruh variabel yang ada, sehingga aspirasi yang diberikan cenderung absurd dan insipid. Bagaimana kita memberikan aspirasi yang kritis dan berkharisma pada saat yang sama? Menambah wawasan, namun tanpa mengurangi respek terhadap pengalaman. Mungkin mindset seperti ini dapat membantu memajukan rakyat Indonesia dari segi intelektualitas dan etika. Image: http://www.flickr.com/photos/fchouse/2558524917/ |


