
Saya tidak pernah diajarkan cara menulis selama 13 tahun saya mengenyam pendidikan di Indonesia. Hal ini menambahkan keheranan dan juga kekaguman saya bagi orang-orang Indonesia yang bisa fasih menulis untuk berbagai majalah ataupun surat kabar, darimanakah mereka belajar untuk menulis? Sebagai seorang keturunan Cina, saya juga dididik untuk mengutamakan perkembangan ilmu menghitung atau sains saya. Saya hanya akan punya masa depan jika saya masuk kelas IPA ketika SMU. Belajar sains di Indonesia, saya tidak menulis. Saya menghitung, menghapal rumus, atau menjawab beratus-ratus pertanyaan pilihan ganda, tetapi tidak pernah saya diminta untuk berargumen, menjelaskan jalan pikiran saya, dalam bentuk tulisan. Pada tahun 2002, saya meninggalkan Indonesia untuk berkuliah di Amerika Serikat; saya tidak dapat menulis dalam bahasa Indonesia.
Selama berkuliah di Amerika Serikat, ada beberapa hal tentang menulis yang saya pelajari. Hal pertama adalah bahwa kemampuan menulis dipengaruhi oleh kebiasaan membaca. Bagaimana mau menulis kalau membaca saja jarang? Di sekolah, kegiatan utamanya adalah mencatat. Guru akan menghabiskan waktu pelajaran menuliskan catatan di papan tulis kapur (kebiasaan ini berubah sedikit ketika SMP, guru akan menunjuk salah satu siswa untuk menuliskan di papan, sementara guru melakukan hal lain seperti menilai hasil ulangan... atau tertidur), sementara kami semua menyalin tulisan di papan ke buku catatan kami masing-masing. Catatan pun biasanya bukan berupa kalimat yang lengkap, tetapi sekedar kata-kata, atau terkadang kalimat singkat, yang seharusnya membantu kami siswa-siswi untuk “memahami” pelajaran tersebut. Untuk pelajaran sains, kami beruntung bila bisa mendapatkan catatan lebih dari sekedar rumus-rumus.
Bila kita mulai melihat ke statistika, tidak jelas bahwa siswa-siswa Indonesia memiliki kemampuan menulis atau tidak. Berdasar data dari UNICEF, 99 persen anak-anak di Indonesia dapat membaca dan menulis, juga data dari depdiknas melaporkan bahwa 60 persen sekolah menengah pertama di Indonesia memiliki sarana perpustakaan. Saya pribadi, sebagai siswa hasil pendidikan Indonesia, merasakan langsung bahwa kurikulum pendidikan Indonesia memiliki komponen menulis yang sangat minim. Saya percaya bahwa pengalaman ini juga dirasakan oleh sebagian besar mantan siswa Indonesia lainnya (S.Pd, 2008).