Artikel Pendidikan Terpopuler

  1. Mendefinisikan Indonesia: Teknologi, Budaya Menulis dan Demokratisasi Pengetahuan
    Aldo Sunaryo, 13-09-2009 (840 hits)
  2. Ajari Anak-anak Bangsa Melestarikan Alam Indonesia
    Wiji Suprayogi, 20-05-2010 (777 hits)
  3. Belajar Berbicara Di Depan Umum
    Melisa Giovani, 18-11-2009 (735 hits)
  4. Korupsi: Dihukum atau Ditanggulangi?
    Setra Yappi, 14-06-2009 (673 hits)
  5. Kisah Tentang Nasi Jagung, Samgyeobsal dan Semangkuk Leberknödelsuppe
    Fadillah Putra, 14-06-2009 (413 hits)
  6. Pendidikan: "Buat Genap-genap Sajalah Mas"
    Wiji Suprayogi, 02-08-2010 (146 hits)
  7. Pengetahuan vs Pengalaman
    Joshua Agusta, 09-07-2010 (124 hits)

Mendefinisikan Indonesia: Teknologi, Budaya Menulis dan Demokratisasi Pengetahuan
Aldo Sunaryo    13-09-2009  
( 6 Votes )

Article Index
Mendefinisikan Indonesia: Teknologi, Budaya Menulis dan Demokratisasi Pengetahuan
Menuliskan Identitas Bangsa
Demokratisasi Pengetahuan
All Pages
  
Image is courtesy of tnarik of Flickr
Saya tidak pernah diajarkan cara menulis selama 13 tahun saya mengenyam pendidikan di Indonesia. Hal ini menambahkan keheranan dan juga kekaguman saya bagi orang-orang Indonesia yang bisa fasih menulis untuk berbagai majalah ataupun surat kabar, darimanakah mereka belajar untuk menulis? Sebagai seorang keturunan Cina, saya juga dididik untuk mengutamakan perkembangan ilmu menghitung atau sains saya. Saya hanya akan punya masa depan jika saya masuk kelas IPA ketika SMU. Belajar sains di Indonesia, saya tidak menulis. Saya menghitung, menghapal rumus, atau menjawab beratus-ratus pertanyaan pilihan ganda, tetapi tidak pernah saya diminta untuk berargumen, menjelaskan jalan pikiran saya, dalam bentuk tulisan. Pada tahun 2002, saya meninggalkan Indonesia untuk berkuliah di Amerika Serikat; saya tidak dapat menulis dalam bahasa Indonesia.
 
Selama berkuliah di Amerika Serikat, ada beberapa hal tentang menulis yang saya pelajari. Hal pertama adalah bahwa kemampuan menulis dipengaruhi oleh kebiasaan membaca. Bagaimana mau menulis kalau membaca saja jarang? Di sekolah, kegiatan utamanya adalah mencatat. Guru akan menghabiskan waktu pelajaran menuliskan catatan di papan tulis kapur (kebiasaan ini berubah sedikit ketika SMP, guru akan menunjuk salah satu siswa untuk menuliskan di papan, sementara guru melakukan hal lain seperti menilai hasil ulangan... atau tertidur), sementara kami semua menyalin tulisan di papan ke buku catatan kami masing-masing. Catatan pun biasanya bukan berupa kalimat yang lengkap, tetapi sekedar kata-kata, atau terkadang kalimat singkat, yang seharusnya membantu kami siswa-siswi untuk “memahami” pelajaran tersebut. Untuk pelajaran sains, kami beruntung bila bisa mendapatkan catatan lebih dari sekedar rumus-rumus. 
 
Bila kita mulai melihat ke statistika, tidak jelas bahwa siswa-siswa Indonesia memiliki kemampuan menulis atau tidak. Berdasar data dari UNICEF, 99 persen anak-anak di Indonesia dapat membaca dan menulis,  juga data dari depdiknas melaporkan bahwa 60 persen sekolah menengah pertama di Indonesia memiliki sarana perpustakaan. Saya pribadi, sebagai siswa hasil pendidikan Indonesia, merasakan langsung bahwa  kurikulum pendidikan Indonesia memiliki komponen menulis yang sangat minim. Saya percaya bahwa pengalaman ini juga dirasakan oleh sebagian besar mantan siswa Indonesia lainnya (S.Pd, 2008). 
 


Comments
Add New
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Keny Widjaja |14-09-2009 09:08:17
Aldo, grup 'sastra Indonesia' di Facebook siapa yg urus yah? dikirim aja artikel ini ke
mereka, siapa tau respon-nya positif.

Dan bagi teman2 di Indonesia yg mengajar, apa ada masukan mengenai pelajaran 'menulis'
dalam kurikulum2 yg diberlakukan di sekolah teman2?
Handi Cokrojoyo |15-09-2009 03:38:10
Kalo nurut gw, selain bahasa, sebetulnya rakyat indo dipersatukan dengan ideologi dasar
negaranya.

Cuman keduanya ini tentu saja sama-sama hal yang bersifat formal dan teoritis.

Toh agak sulit untuk berbahasa secara baku, dan sikap takut akan hukum orang Indonesia
sangatlah dipertanyakan.

a0z0ra |15-09-2009 17:34:40
Budaya menulis sebenernya skrg ada sih.. tapi accountability dan good critics jarang.
Christianto Sutanto |23-09-2009 18:58:16
@a0z0ra: yg maksudnya sekarang budaya menulis sudah ada itu datang dari mana ya? apa
didukung dari sekolah?

Kalo jaman saya 6-10 tahun lalu, budaya menulis di smp/sma masih belum digalakkan. Ada
juga menulis dalam tahap "mengarang" (baca: ngecap). bukan beropini atau melalu
proses berpikir kritis. Kalo misalnya sekarang sudah lebih didukung, baguslah.

atau mungkin dilihat dari jumlah orang2 indo yg punya blog di internet?

Menurut saya budaya menulis dan membaca ini harus menular ke semua orang, bukan hanya
mereka2 yg emang hobi atau 'udah dari sono nya' suka menulis dan membaca. Jadi mungkin
jalur yg efektif ya lewat sekolah ya.
Handi Cokrojoyo |24-09-2009 00:59:55
masalahnya gw rasa adalah menulis itu butuh usaha dan kurang gaya. ini dua hal
momok masyarakat jaman skrg. kita sukanya mengetik bukan menulis.
Anita Lawudjaja |29-01-2010 06:50:51
sekarang sikap "ga suka nulis formal" makin parah karena bisa copy-paste dari
internet (bukti terlihat dr tugas mahasiswa skrg). sedangkan nulis curhat makin rame gara2
facebook :))
jaya gace |23-08-2010 03:41:53
saya tambahkan sedikit argumen anda tadi, menulis dipengaruhi oleh membaca, sebenarnya
saya suka membaca, tapi berhubung buku, yang dijual di Indonesia rata-rata harganya gak
murah terpaksa saya hanya baca via internet, itupun harus mengeluarkan uang untuk biaya
sewa internet, misalnya novel, untuk bisa beli novel saya harus menyisihkan uang
jajan..karena hobi saya baca novel,makanya untuk pemerintah buku-buku sebaiknya disubsidi
agar rakyat miskin bisa baca. ya minimal lebih murah dari harga sembako.