Artikel Pendidikan Terpopuler
-
Mendefinisikan Indonesia: Teknologi, Budaya Menulis dan Demokratisasi Pengetahuan
Aldo Sunaryo, 13-09-2009 (840 hits) -
Ajari Anak-anak Bangsa Melestarikan Alam Indonesia
Wiji Suprayogi, 20-05-2010 (779 hits) -
Belajar Berbicara Di Depan Umum
Melisa Giovani, 18-11-2009 (736 hits) -
Korupsi: Dihukum atau Ditanggulangi?
Setra Yappi, 14-06-2009 (673 hits) -
Kisah Tentang Nasi Jagung, Samgyeobsal dan Semangkuk Leberknödelsuppe
Fadillah Putra, 14-06-2009 (413 hits) -
Pendidikan: "Buat Genap-genap Sajalah Mas"
Wiji Suprayogi, 02-08-2010 (146 hits) -
Pengetahuan vs Pengalaman
Joshua Agusta, 09-07-2010 (125 hits)
| Belajar Berbicara Di Depan Umum |
|
|
Seorang teman mengajakku datang ke pertemuan informasi tentang Toastmasters, sebuah klub pidato yang cabangnya baru didirikan di alma materku. Karena ingin memberikan dukungan untuk temanku yang merupakan salah satu anggota inti Toastmasters, aku akhirnya datang tanpa mempunyai harapan yang berlebihan. Toh, aku juga seorang alumni yang tidak diwajibkan untuk menjadi anggota klub tersebut.
Kesan pertamaku? Sangat kagum dengan organisasi pertemuan yang efisien. Semua orang yang datang diberikan selembar kertas dengan jadwal pertemuan yang cukup padat untuk satu jam selanjutnya. Pendidik- pendidik klub sekolah kami datang dan menunjukkan kebolehannya dengan memberikan pidato singkat tentang mengapa mereka akhirnya ikut serta dalam Toastmasters. Yang paling mengesankan untukku ada sesi Topik Meja (Table Topics), di mana seseorang dilemparkan suatu pertanyaan sembarang dan diberikan waktu dua menit untuk memberikan jawaban yang mengena dan tidak bertele-tele. Saat pertemuan berakhir, tanpa pikir panjang aku menulis formulir pendaftaran keanggotaan Toastmasters. Setelah melakukan sedikit riset tentang klub pidato ini, aku akhirnya mengetahui bahwa Toastmasters dimulai sekitar 85 tahun yang silam di Santa Ana, Californiadengan tujuan untuk melatih seorang individu seni pidato dan bagaimana mengetuai sebuah pertemuan1. Memang pertemuan Toastmasters dibuat sedemikian rupa seperti klub sosial untuk melepaskan ketegangan anggotanya yang mungkin tidak terlalu berani berbicara di depan umum. Saat ini, terdapat 12,500 klub dan lebih dari 250,000 anggota di 106 negara. Aku juga baru tahu dari sahabat pena di Tangerang bahwa Toastmasters juga ada di Indonesia! Dia sendiri adalah seorang anggota Toastmasters lokal di daerahnya dan beraspirasi untuk menjadi pembicara yang lebih mengesankan. Wah, sepertinya makin banyak orang di dunia yang ingin mengetahui bagaimana cara berpidato yang baik di depan umum. Pertemuan klub pidato ini selalu dimulai oleh Toastmaster, panggilan beken pemimpin pertemuan tersebut dengan memperkenalkan presiden klub kami dan dilanjutkan oleh 3 pidato oleh anggotanya. Setiap pembicara diberikan waktu 6 menit untuk menyelesaikan pidatonya dan akan diberikan evaluasi oleh 3 anggota Toastmasters lainnya. Setiap evaluasi juga diberikan jangka waktu 2 sampai 3 menit. Lalu, sesi favoritku, Topik Meja, dimulai dan orang-orang yang sama sekali belum berbicara dalam pertemuan itu akan diberikan pertanyaan yang mungkin sedikit di luar angan-angan mereka. Kadang ada pertanyaan aneh seperti “Apakah arti kalimat ketidaktahuan adalah suatu kebahagiaan?”, “Jika anda hanya diberikan 1 hari lagi untuk hidup, apakah yang anda akan lakukan?”, atau “Apakah kata di dalam Bahasa Inggris yang paling kamu tidak sukai?”. Jawaban tidak perlu masuk akal, yang penting adalah bagaimana cara anda menjawab pertanyaan tersebut. Pertemuan akhirnya diselesaikan oleh 3 juru evaluasi: “opsir” waktu, yang memberi tahukan waktu yang digunakan pembicara untuk menyelesaikan topiknya; “opsir” penghitung “ah” yang menghitung berapa “ah”, “mm”, dan kata-kata janggal lainnya yang seharusnya tidak ditaruh di dalam kalimat sang pembicara, dan “opsir” tata bahasa yang memberikan komentar tentang susunan kata ataupun kalimat pembicara yang tidak tepat. Setelah mengikuti 5 pertemuan Toastmasters, aku merasa lebih percaya diri saat maju di depan umum. Memang aku adalah seorang supel yang suka berbincang-bincang tentang topik apa saja secara lisan, tapi aku selalu sedikit gugup saat ditunjuk untuk berbicara lepas tanpa persiapan. Aku juga mulai bisa mengumpulkan ide-ide yang aku ingin bicarakan secara singkat sebelum aku mulai berbicara. Aku rasa topik yang kubawa semakin terorganisasi rapi dan tidak terlalu bertele-tele. Aku sendiri juga mulai sadar dari saran “opsir” penghitung “ah” bahwa aku suka memasukan “mm” saat sedang memikirkan poin selanjutnya yang akan aku bahas. Kesadaran ini membuatku menyisipkan selaan hening sebagai alternatif lain penggunakan kata sela “um”. Aku sarankan teman-teman yang ingin belajar untuk berkomunikasi lebih berkesan dan berarti untuk mengikuti Toastmasters. Selain bisa ber-network dengan orang-orang profesional lainnya yang juga ingin belajar untuk berpidato yang baik, anda juga bisa bertumbuh untuk menjadi pembicara yang lebih efektif. 1 http://www.toastmasters.org/FunctionalMenuCategories/CompanyInformation/History.aspx |

