Artikel Pendidikan Terpopuler
-
Mendefinisikan Indonesia: Teknologi, Budaya Menulis dan Demokratisasi Pengetahuan
Aldo Sunaryo, 13-09-2009 (840 hits) -
Ajari Anak-anak Bangsa Melestarikan Alam Indonesia
Wiji Suprayogi, 20-05-2010 (781 hits) -
Belajar Berbicara Di Depan Umum
Melisa Giovani, 18-11-2009 (736 hits) -
Korupsi: Dihukum atau Ditanggulangi?
Setra Yappi, 14-06-2009 (673 hits) -
Kisah Tentang Nasi Jagung, Samgyeobsal dan Semangkuk Leberknödelsuppe
Fadillah Putra, 14-06-2009 (413 hits) -
Pendidikan: "Buat Genap-genap Sajalah Mas"
Wiji Suprayogi, 02-08-2010 (146 hits) -
Pengetahuan vs Pengalaman
Joshua Agusta, 09-07-2010 (126 hits)
| Ajari Anak-anak Bangsa Melestarikan Alam Indonesia |
|
![]() Dalam keseharian kita, alam sering dianggap sebagai sesuatu yang berjalan dengan sendirinya. Jika ada kerusakan maka semua hal akan dengan sendirinya memperbaiki diri. Tidak ada usaha yang perlu dikerjakan untuk memperbaiki atau mencegahnya. Pola pikir seperti ini membuat banyak orang menjadi pasrah dan tidak berusaha untuk menganalisa persoalan di balik bencana atau kerusakan tadi. Memang ada beberapa kejadian yang berada di luar jangkauan pikiran manusia, tapi saya percaya sebagian dari penyebab bencana dan kerusakan alam adalah kesalahan dalam me-manage alam dan juga anggapan yang keliru terhadap pengelolaan alam. Sebenarnya ketidaktahuan masyarakat tersebut dapat kita runut dalam kejadian-kejadian sederhana di sekitar kita. Dalam kehidupan sehari-hari (dalam konteks Jawa, karena saya tinggal di Jawa) saya sering melihat masyarakat alergi sekali dengan begitu banyaknya pohon yang bergerumbul. “Ditebang saja biar terang dan luas pandangannya”, begitu solusinya. Bukan bagaimana mengolahnya supaya menarik dan menyejukkan. Maka, tak begitu mengherankan ketika seorang penduduk di daerah yang hutannya dijarah bilang, “Tapi malah padang kok mas, ulane dha lunga” (Tapi malah terang kok mas, ularnya pergi semua). Hanya saja mereka kemudian kalang kabut ketika hewan-hewan liar merusak lahan pertanian dan merusak berbagai tanaman yang ada. Perkiraan mereka, hewan-hewan itu sedang diperintah untuk mengganggu manusia oleh kekuatan supranatural yang menguasai tempat itu. Mereka kesulitan menerima kenyataan bahwa hewan-hewan tersebut lari/marah karena tempat tinggal dan sumber makanan mereka di hutan dibabat habis. Yang justru ada dalam pikiran mereka, bagaimana membasmi hewan-hewan liar tadi supaya tidak menakutkan dan mengganggu bukan memperbaiki sumber masalahnya. Dalam cerita pewayangan, komik, ataupun dongeng, hutan adalah tempat orang jahat yang harus ditaklukkan dan ditebangi. Tidak mengherankan juga jika dalam kehidupan sehari-hari yang namanya selokan jarang sekali diperhatikan dan pembuangan sampah atau limbah air diperlakukan tanpa perhitungan yang masak. Bahkan cenderung tidak dipelihara sama sekali. Kasus lain, berkali-kali saya mendapat kesempatan tinggal lama di lokasi penjarahan hutan atau daerah yang kering dan gundul (di Jawa). Berkali-kali pula saya mendapati betapa masyarakat tidak begitu peduli dengan penjarahan atau keadaan alam tersebut. Banyak yang tidak merasa kehilangan walau sekarang tidak dijumpai lagi pohon jati yang hanya bisa dirangkul oleh tiga orang. Bahkan bagi mereka, semua itu adalah sebuah kewajaran. Banyak di antara mereka bilang “Wis biasa Mas, wis jamane, mengke nggih pulih malih” (Sudah biasa Mas, sudah jamannya, nanti juga hutannya pulih lagi). Hanya sedikit orang yang mengeluh kehilangan hutan. Itu pun hanya keluhan, “Sekarang jadi tidak hijau lagi”, tanpa tahu harus berbuat apa. Seorang Pegawai Perhutani yang bertugas di sebuah lokasi penjarahan di Jawa Tengah bilang, “Itu kan siklus, dulu sekitar tahun 50-an juga ada penjarahan seperti itu. Nanti kan tumbuh lagi”. Jadi semua itu adalah hal wajar dan tak perlu dipikirkan masak-masak. Kenyataan ini semakin diperparah dengan berkuasanya kepentingan ekonomi. Orang jadi tidak peduli lagi dengan keadaan hutan ketika berbagai kekayaan hutan ternyata dapat mereka tukar dengan uang yang berlimpah. Hutan selalu dianggap sebagai sebuah tempat untuk mengeruk uang sebanyak mungkin. Emas hijau, begitu kata para Pegawai Perhutani. Rasa memilikinya adalah memiliki untuk dieksploitasi. “Tanah-tanahku sendiri kok, mau dibabat atau dibiarkan ya terserah aku” begitu alasan yang sering saya dengar dari masyarakat. Bagi sebagian penduduk, hutan yang ditebangi berarti juga terbukanya lahan baru bagi pertanian. Banyak yang tidak sadar kalau lahan itu tidak akan terus-menerus produktif dan jika dibiarkan terus tanpa ada perawatan kembali justru dapat menghilangkan sumber kehidupan yang lain yaitu air. Sampai di sini kita akan menjumpai kenyataan bahwa masyarakat gagal mengerti bagaimana hutan ikut menjaga keutuhan alam di sekelilingnya dan ikut menjaga mereka dari bencana alam. Kesimpulan saya, tidak ada dalam pemikiran mereka bagaimana suatu ekosistem dengan berbagai unsur-unsurnya bekerja saling mendukung. Tidak terdapat pengertian yang mendalam mengenai pentingnya pengelolaan alam yang berkesinambungan. Bagi saya hal ini berkaitan erat dengan pendidikan kita. Mungkin juga salah satu kegagalan pendidikan. Masyarakat selama ini jarang bahkan mungkin tidak pernah diberi pendidikan mengenai pelestarian alam secara mendalam. Jika pun ada, maka pendidikan tersebut dalam hemat saya hanya di permukaan saja. Bahkan saya menjumpai pembelajaran—yang dilakukan entah oleh siapa—dengan menyebarkan isu yang kurang sehat. Di Gunung Kidul—Yogyakarta, saya menjumpai beredarnya isu bahwa jika mereka menebang pohon sembarangan maka mereka akan terkena musibah seperti hewan piaraannya mati atau anaknya diculik. Hal seperti ini jelas tidak mendidik karena tidak memberikan pemahaman apa pun mengenai pelestarian alam. Tentu saja isu ini segera rontok ketika para penjarah justru bisa bergerak seenak hati. Di sekolah-sekolah sama saja. Tidak ada pembelajaran yang khusus dan mendalam mengenai pelestarian alam. Anak-anak justru dibuai dengan pelajaran eksak dan teknologi untuk mengeksploitasi alam tanpa ditanamkan dalam diri mereka pentingnya hutan dan menjaga alam. Seorang guru di daerah Kulon Progo—Yogyakarta pernah menertawakan saya dan bilang “Buat apa Mas mengurusi alam, wong nanti pohonnya itu kan tumbuh sendiri lagi, yang penting siswanya pinter dan maju”. Dalam pengertiannya siswa yang pandai dan maju tidak perlu mengetahui pentingnya pemeliharaan alam bagi hidup ini. Saya pun pernah menjumpai Guru mengajarkan topik erosi hanya dengan menyuruh siswa menulis ulang tulisan dari buku paket padahal di samping bangunan sekolah baru saja ada tanah longsor. Saya melihat sekolah menjadi tempat yang penting untuk menciptakan dan melaksanakan sebuah sistem pembelajaran pentingnya pemeliharaan alam. Di sinilah berbagai pembelajaran tersebut dapat dilaksanakan dengan intens dan dalam jangka waktu yang lama. Dasar pemikirannya, pemahaman tentang pemeliharaan alam adalah sebuah gaya hidup; bagian dari kebudayaan yang harus dipelajari sebagai bagian dari keseharian sejak usia kanak-kanak. Semestinya hasilnya akan menjadi lebih baik jika pemahaman tersebut sudah tertanam sejak kecil dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pola pikir masyarakat. Sekolah dapat menjadi tempat ideal untuk menanamkan pengertian tersebut sejak kanak-kanak. Diperlukan kurikulum khusus untuk menciptakan sistem pembelajaran tersebut. Penyusunan Kurikulum itu seharusnya dilandasi dengan pemikiran bagaimana menciptakan sistem pembelajaran yang menyenangkan dan menarik minat anak didik untuk mempelajarinya. Ada beberapa hal yang semestinya diperhatikan dalam menciptakan pembelajaran tersebut agar siswa betul-betul menyenangi, menghayati, melaksanakan, dan terlibat dalam proses pelestarian alam ini yaitu (empat poin ide di bawah saya kembangkan dari tulisan Dr. Suroso, dalam Seminar Pendidikan Guru Kristen Jogjakarta, Dedikasi dan Profesionalitas Guru Kristen, Jogjakarta 23 Februari 2003): A. Pembelajaran itu harus membentuk jiwa eksploratif siswa Siswa yang memiliki jiwa eksploratif akan menemukan jalan untuk setiap persoalan yang ia jumpai termasuk setiap persoalan dalam pelestarian alam. B. Kegiatan Kreatif Kegiatan kreatif merupakan sisi lain dari satu mata uang jiwa eksploratif. Jika siswa eksploratif maka dia akan kreatif. Siswa kreatif tidak mudah putus asa dan selalu memikirkan cara baru dalam melestarikan alam ini. C. Kegiatan Integral Ditandai oleh keberhasilan siswa yang utuh jiwanya. Ia tidak gampang bingung, tidak mudah kehilangan rasa percaya diri dan tidak meninggalkan sopan santun. Artinya siswa tersebut mengerti betul apa yang akan dia lakukan terhadap alam ini. Tidak bimbang dan tidak ragu pula dalam bertindak jika ada penyelewengan dalam prosedur pengelolaan alam. Semua itu harus ditopang dengan buku-buku yang baik dan guru-guru yang mencintai alam serta menganggap muridnya sebagai subyek. Percuma saja jika diciptakan sistem yang baik tetapi disampaikan dengan bahasa yang buruk dalam buku-buku pendukung pelajaran. Semakin percuma lagi jika pelajaran itu diajarkan oleh guru yang tahunya hanya memberi komando dan bergaya seperti birokrat atau instruktur ulung. Pendidikan yang mengharuskan siswa menjadi subyek butuh guru yang mandiri, dapat menjadi pendamping anak dalam memekarkan diri. Pada akhirnya memang diperlukan kerja sama yang sangat erat dari semua unsur yang ada di dalam masyarakat baik itu dari siswa, orang tua, guru, LSM, maupun pemerintah. Tidak ada gunanya kita menyusun kurikulum yang bagus tapi ternyata ketika siswa sampai di luar sekolah justru masyarakat tidak mendukung hal tersebut. Diperlukan kesungguhan dari semua pihak untuk memulai pembelajaran ini. Dengan adanya sinergi dari berbagai pihak tersebut diharapkan sistem pembelajaran tersebut lebih mudah disosialisasikan dan tertanam dengan lebih baik dalam pikiran masayarakat. Tetapi menurut saya titik tolaknya tetaplah pembelajaran di sekolah-sekolah guna menciptakan generasi-generasi muda yang betul-betul sadar akan pentingnya pelestarian alam. |


