Artikel Pendidikan Terpopuler

  1. Mendefinisikan Indonesia: Teknologi, Budaya Menulis dan Demokratisasi Pengetahuan
    Aldo Sunaryo, 13-09-2009 (840 hits)
  2. Ajari Anak-anak Bangsa Melestarikan Alam Indonesia
    Wiji Suprayogi, 20-05-2010 (779 hits)
  3. Belajar Berbicara Di Depan Umum
    Melisa Giovani, 18-11-2009 (735 hits)
  4. Korupsi: Dihukum atau Ditanggulangi?
    Setra Yappi, 14-06-2009 (673 hits)
  5. Kisah Tentang Nasi Jagung, Samgyeobsal dan Semangkuk Leberknödelsuppe
    Fadillah Putra, 14-06-2009 (413 hits)
  6. Pendidikan: "Buat Genap-genap Sajalah Mas"
    Wiji Suprayogi, 02-08-2010 (146 hits)
  7. Pengetahuan vs Pengalaman
    Joshua Agusta, 09-07-2010 (125 hits)

Pendidikan
Pendidikan: "Buat Genap-genap Sajalah Mas"
Wiji Suprayogi   
02-08-2010
( 4 Votes )

Saya berkenalan dengan seorang pegawai negeri yang baru saja melanjutkan kuliah ke jenjang sarjana utama (S2). Dia sangat senang dengan hal itu. Saya pikir perasaaan senangnya itu timbul karena dia akan mendapatkan pengetahuan baru dan bisa belajar lagi. Dan saya berfikir dengan pengetahuannya itu dia akan menularkannya kepada orang lain terus akhirnya menjadikan masyarakat di sekitarnya menjadi lebih pandai dan mempunyai moral yang lebih baik. Di samping itu dengan kemampuannya yang baru saya berfikir dia akan lebih profesional dan bisa mengatasi berbagai permasalahan yang timbul di lingkungan kerjanya dengan lebih baik. Tetapi ternyata pikiran saya itu lain dengan pikirannya. Teman saya tadi berfikir praktis saja. “Buat genap-genap sajalah Mas”. Rupanya dia kuliah ini hanya menjalankan kewajiban saja supaya dia bisa naik pangkat dan bisa bertambah gajinya dan kemudian jenjang kariernya terus naik. Jadi akhirnya menurut dia, jalani saja apa yang ada di dalam perkuliahan secepat mungkin dan tidak usah dalam-dalam ketika mengerjakan tugas. Bahkan kalau perlu tugasnya dikerjakan oleh orang lain.

Cerita seperti teman saya tadi banyak terjadi di sekitar kita. Bahwa sekolah adalah kewajiban saja merupakan hal yang lumrah dan biasa. Jadi sekolah hanyalah pengisi waktu luang sebelum nanti nganggur atau bekerja. Begitu istilah banyak orang. Tentu saja tidak semua orang seperti itu, tapi keadaan itu memang ada dan terjadi di masyarakat kita.

Rupanya dalam masyarakat kita ada kenyataan bahwa makna pendidikan bergeser jauh dari harapan yang seharusnya ditimbulkan karena pendidikan itu. “Harapan kalau kita mengenyam pendidikan sederhananya adalah supaya kita bisa menjadi lebih pandai dan juga supaya generasi kita menjadi lebih baik sehingga kehidupan kita juga bisa menjadi lebih bermakna. Menjadikan manusia lebih berkualitas”, begitu kata teman yang pegawai negeri tadi. Kenyataannya adalah seperti komentar teman saya ini, maksudnya mereka tahu dan hapal di luar kepala manfaat dan pentingnya pendidikan tapi menjalankannya dengan makna yang sungguh sangat berbeda.

Teman saya tadi tahu arti pendidikan untuk apa, tapi dia menjalankannya dengan arti ekonomis yaitu untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar dan jabatan yang lebih baik. Memang pendidikan membuat seseorang bisa mempunyai akses yang lebih baik kepada kemampuan ekonomi tetapi jika motifnya hanya untuk jabatan dan akses ekonomi tadi jelas akan mengabaikan hal-hal lain. Dari sini sudah jelas kan mengapa ada begitu banyak orang membeli gelar dan juga ada begitu banyak mahasiswa membeli skripsi? Karena memang motifnya bukan untuk belajar.

Dalam sistem kerja di beberapa instansi baik swasta maupun negeri, memang orang yang berpendidikan lebih tinggi akan mendapatkan jabatan serta akses ekonomi yang lebih baik. Bahkan kadang tanpa ada tes alias secara langsung dapat menduduki jabatan tertentu. Siapa sih yang tidak iri dengan keadaan itu?

Di sisi lain, keadaan itu justru juga memperlihatkan adanya kesenjangan ekonomi di dalam masyarakat kita. Kita bisa melihat, orang-orang yang bisa mencapai keadaan berpendidikan tinggi biasanya adalah orang-orang yang akses ekonominya baik dan orang-orang yang bisa membeli ijasah adalah orang yang kaya. Bukankah hal ini dapat diartikan jabatan sangat berhubungan erat dengan kepemilikan modal dan artinya ada sebagian orang yang tidak bisa mencapai hal itu? Faktanya hanya sedikit orang yang bisa membeli gelar tadi.

Maka jalan pintas yang diambil sebagian orang, mereka kemudian berlomba-lomba mengatasi kesenjangan itu dengan membeli gelar, bagaimana pun caranya. Supaya derajatnya naik dan akses ekonominya jadi naik. Bukankah hal ini bukti bahwa orang mengabaikan proses untuk mencapai taraf tertentu dan hal ini juga dipicu karena adanya kesenjangan yang sangat sulit dihapus? Enak kan kalau ada jalan pintas? Cuma akhirnya semua hanya berputar-putar saja dan yang miskin tetap miskin karena yang sudah punya pasti akan mempertahankan keadaanya sekarang. Tentu saja cara mempertahankan kedudukan itu  dilakukan dengan cara-cara yang cerdas. Lha mereka sudah berpendidikan kan?

Sudahkah dengan begitu kita menjadi sadar pendidikan? Jelas dong, kita sudah sadar. Kalau tidak sadar tentunya kita tidak sekolah. Bukankah keinginan untuk memperoleh gelar untuk sebuah jabatan menandakan bahwa kita benar-benar sadar bahwa pendidikan sangat bermanfaat bagi kehidupan? Masalahnya memang menjadi jelas, apakah pendidikan hanya berarti sebatas materi? Dan persoalan lain menjadi jelas juga, bahwa bagi sebagian besar kita sekolah hanyalah untuk menunggu nganggur. Kalau tidak memiliki akses, materi alias modal, ya  kemungkinan besarnya jelas nganggur kan? Jadi sekolah hanya untuk menunggu nganggur tadi, karena setelah lulus diperlukan uang untuk mencari kerja dan kedudukan dalam pekerjaan.

 

 
Pengetahuan vs Pengalaman
Joshua Agusta   
09-07-2010
( 1 Vote )

Judul di atas menggeneralisasikan penyebab konflik yang sering terjadi antara generasi; orangtua-anak, dosen-mahasiswa, guru-murid, atasan-bawahan, dan sebagainya. Yang tua merasa bahwa mereka telah makan asam garam, telah merasakan dan mengetahui segala sesuatu yang dipikirkan atau diinginkan oleh orang lain. Yang muda merasa bahwa mereka telah banyak belajar, sudah mengetahui tentang segala sesuatu yang ada di bawah matahari. Apabila mereka berargumen satu sama lain, sering terjadi konflik di mana masing-masing merasa bahwa dirinya yang paling benar.

Tanpa disadari sebenarnya konflik tersebut terjadi karena adanya pandangan dari masing-masing pelaku (tua dan muda) yang saling merendahkan satu sama lain. Yang tua menganggap bahwa yang muda tidak mengerti apa-apa karena belum berpengalaman dan "masih bau kencur" kata kebanyakan orang, sedangkan yang muda menganggap bahwa yang tua tidak tahu apa-apa karena sudah kuno dan ketinggalan zaman, atau secara sarkastik dapat dikatan sebagai "sudah karatan". Tidak heran, perdebatan antara 2 generasi ini biasa berakhir dengan kalimat "Dengar ya, saya itu sudah pernah jadi kamu, sedangkan kamu belum pernah jadi saya. Jadi, dengarkan saya!" kata orang yang lebih tua. Pada akhirnya, yang muda akan menjawab, "Apa kata lu, dah..", yang pada akhirnya tidak menghasilkan sesuatu untuk ditangkap esensinya karena keduanya hanya berdebat dan tidak mendengarkan satu sama lain.

Bukannya saya tidak pernah beradu argumen dengan orang tua yang ada di sekitar saya. Orangtua, guru, pembina, senior, pendeta, maupun dosen yang pernah mengajar/membimbing saya pasti sudah pernah saya debat, dan biasanya reaksinya berbeda-beda. Ada yang kebingungan, ada yang diam, ada yang menjawab walaupun jawabannya tidak dapat saya terima kemudian saya debat lagi, ada yang dapat menjawab dengan rasional dan saya terima, atau jawaban yang saya paling kesal untuk mendengarnya, seperti "telan sajalah dulu, belum waktunya kamu mengerti", atau jawaban seperti yang sudah saya ilustrasikan pada paragraf sebelumnya.

Kembali saya akan menggarisbawahi pernyataan bahwa kaum tua dan muda sama-sama memiliki pandangan yang saling merendahkan. Orangtua kebanyakan akan memandang anak-anak didiknya, atau secara umum kaum pemuda, sebagai "makhluk yang tidak tahu apa-apa" atau "sering menanyakan pertanyaan yang tidak-tidak". Dan memang benar, pada kenyataannya, seringkali banyak pemuda memberikan pertanyaan yang tidak perlu dijawab, tidak ada jawabannya, tidak berarti untuk dijawab, atau bermaksud untuk "mematikan" si orang tua. Dan setelah dipikirkan, mungkin hal inilah yang menyebabkan stagnansi dari bangsa kita.

Rakyat Indonesia sangatlah menuntut demokrasi untuk dijalankan dalam pemerintahan. Mereka semua selalu menuntut supaya hak mereka memberikan aspirasi didengar oleh para petinggi negara. Sayangnya mayoritas rakyat Indonesia masihlah under-educated - belum terdidik dengan baik. Sebagian besar dari mereka masih mendasarkan argumen atau aspirasinya atas dasar kepentingan pribadi ataupun golongan dan bertentangan dengan hakekat demokrasi. Para petinggi, di sisi lain, memiliki pandangan yang merendahkan terhadap rakyat Indonesia. Mereka menganggap apabila aspirasi rakyat Indonesia didengarkan satu per satu maka akan membuang-buang waktu dan mengurangi produktivitas kerja mereka. Aspirasi yang mereka dengarkan hanyalah rekayasa yang dibentuk oleh DPR kita yang sebenarnya bukan merupakan aspirasi yang berdasar atas keadaan rakyat Indonesia yang sebenarnya. Sebenarnya alasan dari petinggi-petinggi negara itu bisa diterima. Pasalnya, sebagian besar rakyat Indonesia sudah merasa tahu bagaimana memimpin suatu negara. Di lain pihak, para petinggi merasa memiliki pengalaman dalam memimpin negara dan menganggap bahwa rakyat Indonesia tidak mengerti apa-apa tentang kondisi negara & politik. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat tidak ditampung seutuhnya.

Sampailah kita pada suatu pemikiran lagi yakni manakah yang lebih penting - pengetahuan ataukah pengalaman? Jawabannya mungkin terdengar klise tapi memang benar - "sama-sama penting". Mungkin kalau mendengar jawaban ini sebagian besar orang akan mengatakan "cape deeeehh..". Namun perlu dicatat bahwa pengalaman dan pengetahuan harus terintegrasi. Pengetahuan yang rendah tidak akan membawa kita pada pengalaman yang baik sedangkan kurang pengalaman juga akan membuat kita menjadi kurang pengetahuan.

Oleh karena itu, marilah kita sebagai kaum intelektual Indonesia bisa menyampaikan aspirasi kita dengan rasa toleransi dan compassion, namun pada saat yang sama tidak mengkompromikan idealisme kita. Banyak dari kita yang terkadang beraspirasi tanpa mempertimbangkan seluruh variabel yang ada, sehingga aspirasi yang diberikan cenderung absurd dan insipid. Bagaimana kita memberikan aspirasi yang kritis dan berkharisma pada saat yang sama? Menambah wawasan, namun tanpa mengurangi respek terhadap pengalaman. Mungkin mindset seperti ini dapat membantu memajukan rakyat Indonesia dari segi intelektualitas dan etika.

Image: http://www.flickr.com/photos/fchouse/2558524917/

 
Ajari Anak-anak Bangsa Melestarikan Alam Indonesia
Wiji Suprayogi   
20-05-2010
( 4 Votes )
hutan
Dalam keseharian kita, alam sering dianggap sebagai sesuatu yang berjalan dengan sendirinya. Jika ada kerusakan maka semua hal akan dengan sendirinya memperbaiki diri. Tidak ada usaha yang perlu dikerjakan untuk memperbaiki atau mencegahnya. Pola pikir seperti ini membuat banyak orang menjadi pasrah dan tidak berusaha untuk menganalisa persoalan di balik bencana atau kerusakan tadi. Memang ada beberapa kejadian yang berada di luar jangkauan pikiran manusia, tapi saya percaya sebagian dari penyebab bencana dan kerusakan alam adalah kesalahan dalam me-manage alam dan juga anggapan yang keliru terhadap pengelolaan alam.

Sebenarnya ketidaktahuan masyarakat tersebut dapat kita runut dalam kejadian-kejadian sederhana di sekitar kita. Dalam kehidupan sehari-hari (dalam konteks Jawa, karena saya tinggal di Jawa) saya sering melihat masyarakat alergi sekali dengan begitu banyaknya pohon yang bergerumbul. “Ditebang saja biar terang dan luas pandangannya”, begitu solusinya. Bukan bagaimana mengolahnya supaya menarik dan menyejukkan. Maka, tak begitu mengherankan ketika seorang penduduk di daerah yang hutannya dijarah bilang, “Tapi malah padang kok mas, ulane dha lunga” (Tapi malah terang kok mas, ularnya pergi semua). Hanya saja mereka kemudian kalang kabut ketika hewan-hewan liar merusak lahan pertanian dan merusak berbagai tanaman yang ada. Perkiraan mereka, hewan-hewan itu sedang diperintah untuk mengganggu manusia oleh kekuatan supranatural yang menguasai tempat itu. Mereka kesulitan menerima kenyataan bahwa hewan-hewan tersebut lari/marah karena tempat tinggal dan sumber makanan mereka di hutan dibabat habis. Yang justru ada dalam pikiran mereka, bagaimana membasmi hewan-hewan liar tadi supaya tidak menakutkan dan mengganggu bukan memperbaiki sumber masalahnya. Dalam cerita pewayangan, komik, ataupun dongeng, hutan adalah tempat orang jahat yang harus ditaklukkan dan ditebangi. Tidak mengherankan juga jika dalam kehidupan sehari-hari yang namanya selokan jarang sekali diperhatikan dan pembuangan sampah atau limbah air diperlakukan tanpa perhitungan yang masak. Bahkan cenderung tidak dipelihara sama sekali.

Kasus lain, berkali-kali saya mendapat kesempatan tinggal lama di lokasi penjarahan hutan atau daerah yang kering dan gundul (di Jawa). Berkali-kali pula saya mendapati betapa masyarakat tidak begitu peduli dengan penjarahan atau keadaan alam tersebut. Banyak yang tidak merasa kehilangan walau sekarang tidak dijumpai lagi pohon jati yang hanya bisa dirangkul oleh tiga orang. Bahkan bagi mereka, semua itu adalah sebuah kewajaran. Banyak di antara mereka bilang “Wis biasa Mas, wis jamane, mengke nggih pulih malih” (Sudah biasa Mas, sudah jamannya, nanti juga hutannya pulih lagi). Hanya sedikit orang yang mengeluh kehilangan hutan. Itu pun hanya keluhan, “Sekarang jadi tidak hijau lagi”, tanpa tahu harus berbuat apa. Seorang Pegawai Perhutani yang bertugas di sebuah lokasi penjarahan di Jawa Tengah bilang, “Itu kan siklus, dulu sekitar tahun 50-an juga ada penjarahan seperti itu. Nanti kan tumbuh lagi”. Jadi semua itu adalah hal wajar dan tak perlu dipikirkan masak-masak.

Kenyataan ini semakin diperparah dengan berkuasanya kepentingan ekonomi. Orang jadi tidak peduli lagi dengan keadaan hutan ketika berbagai kekayaan hutan ternyata dapat mereka tukar dengan uang yang berlimpah. Hutan selalu dianggap sebagai sebuah tempat untuk mengeruk uang sebanyak mungkin. Emas hijau, begitu kata para Pegawai Perhutani. Rasa memilikinya adalah memiliki untuk dieksploitasi. “Tanah-tanahku sendiri kok, mau dibabat atau dibiarkan ya terserah aku” begitu alasan yang sering saya dengar dari masyarakat. Bagi sebagian penduduk, hutan yang ditebangi berarti juga terbukanya lahan baru bagi pertanian. Banyak yang tidak sadar kalau lahan itu tidak akan terus-menerus produktif dan jika dibiarkan terus tanpa ada perawatan kembali justru dapat menghilangkan sumber kehidupan yang lain yaitu air.

Sampai di sini kita akan menjumpai kenyataan bahwa masyarakat gagal mengerti bagaimana hutan ikut menjaga keutuhan alam di sekelilingnya dan ikut menjaga mereka dari bencana alam. Kesimpulan saya, tidak ada dalam pemikiran mereka bagaimana suatu ekosistem dengan berbagai unsur-unsurnya bekerja saling mendukung. Tidak terdapat pengertian yang mendalam mengenai pentingnya pengelolaan alam yang berkesinambungan.

Bagi saya hal ini berkaitan erat dengan pendidikan kita. Mungkin juga salah satu kegagalan pendidikan. Masyarakat selama ini jarang bahkan mungkin tidak pernah diberi pendidikan mengenai pelestarian alam secara mendalam. Jika pun ada, maka pendidikan tersebut dalam hemat saya hanya di permukaan saja. Bahkan saya menjumpai pembelajaran—yang dilakukan entah oleh siapa—dengan menyebarkan isu yang kurang sehat. Di Gunung Kidul—Yogyakarta, saya menjumpai beredarnya isu bahwa jika mereka menebang pohon sembarangan maka mereka akan terkena musibah seperti hewan piaraannya mati atau anaknya diculik. Hal seperti ini jelas tidak mendidik karena tidak memberikan pemahaman apa pun mengenai pelestarian alam. Tentu saja isu ini segera rontok ketika para penjarah justru bisa bergerak seenak hati.

Di sekolah-sekolah sama saja. Tidak ada pembelajaran yang khusus dan mendalam mengenai pelestarian alam. Anak-anak justru dibuai dengan pelajaran eksak dan teknologi untuk mengeksploitasi alam tanpa ditanamkan dalam diri mereka pentingnya hutan dan menjaga alam. Seorang guru di daerah Kulon Progo—Yogyakarta pernah menertawakan saya dan bilang “Buat apa Mas mengurusi alam, wong nanti pohonnya itu kan tumbuh sendiri lagi, yang penting siswanya pinter dan maju”. Dalam pengertiannya siswa yang pandai dan maju tidak perlu mengetahui pentingnya pemeliharaan alam bagi hidup ini. Saya pun pernah menjumpai Guru mengajarkan topik erosi hanya dengan menyuruh siswa menulis ulang tulisan dari buku paket padahal di samping bangunan sekolah baru saja ada tanah longsor.

Saya melihat sekolah menjadi tempat yang penting untuk menciptakan dan melaksanakan sebuah sistem pembelajaran pentingnya pemeliharaan alam. Di sinilah berbagai pembelajaran tersebut dapat dilaksanakan dengan intens dan dalam jangka waktu yang lama. Dasar pemikirannya, pemahaman tentang pemeliharaan alam adalah sebuah gaya hidup; bagian dari kebudayaan yang harus dipelajari sebagai bagian dari keseharian sejak usia kanak-kanak. Semestinya hasilnya akan menjadi lebih baik jika pemahaman tersebut sudah tertanam sejak kecil dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pola pikir masyarakat. Sekolah dapat menjadi tempat ideal untuk menanamkan pengertian tersebut sejak kanak-kanak.

Diperlukan kurikulum khusus untuk menciptakan sistem pembelajaran tersebut. Penyusunan Kurikulum itu seharusnya dilandasi dengan pemikiran bagaimana menciptakan sistem pembelajaran yang menyenangkan dan menarik minat anak didik untuk mempelajarinya. Ada beberapa hal yang semestinya diperhatikan dalam menciptakan pembelajaran tersebut agar siswa betul-betul menyenangi, menghayati, melaksanakan, dan terlibat dalam proses pelestarian alam ini yaitu (empat poin ide di bawah saya kembangkan dari tulisan Dr. Suroso, dalam Seminar Pendidikan Guru Kristen Jogjakarta, Dedikasi dan Profesionalitas Guru Kristen, Jogjakarta 23 Februari 2003):

A. Pembelajaran itu harus membentuk jiwa eksploratif siswa
Siswa yang memiliki jiwa eksploratif akan menemukan jalan untuk setiap persoalan yang ia jumpai termasuk setiap persoalan dalam pelestarian alam.

B. Kegiatan Kreatif
Kegiatan kreatif merupakan sisi lain dari satu mata uang jiwa eksploratif. Jika siswa eksploratif maka dia akan kreatif. Siswa kreatif tidak mudah putus asa dan selalu memikirkan cara baru dalam melestarikan alam ini.

C. Kegiatan Integral
Ditandai oleh keberhasilan siswa yang utuh jiwanya. Ia tidak gampang bingung, tidak mudah kehilangan rasa percaya diri dan tidak meninggalkan sopan santun. Artinya siswa tersebut mengerti betul apa yang akan dia lakukan terhadap alam ini. Tidak bimbang dan tidak ragu pula dalam bertindak jika ada penyelewengan dalam prosedur pengelolaan alam.

Semua itu harus ditopang dengan buku-buku yang baik dan guru-guru yang mencintai alam serta menganggap muridnya sebagai subyek. Percuma saja jika diciptakan sistem yang baik tetapi disampaikan dengan bahasa yang buruk dalam buku-buku pendukung pelajaran. Semakin percuma lagi jika pelajaran itu diajarkan oleh guru yang tahunya hanya memberi komando dan bergaya seperti birokrat atau instruktur ulung. Pendidikan yang mengharuskan siswa menjadi subyek butuh guru yang mandiri, dapat menjadi pendamping anak dalam memekarkan diri.
 
Pada akhirnya memang diperlukan kerja sama yang sangat erat dari semua unsur yang ada di dalam masyarakat baik itu dari siswa, orang tua, guru, LSM, maupun pemerintah. Tidak ada gunanya kita menyusun kurikulum yang bagus tapi ternyata ketika siswa sampai di luar sekolah justru masyarakat tidak mendukung hal tersebut. Diperlukan kesungguhan dari semua pihak untuk memulai pembelajaran ini. Dengan adanya sinergi dari berbagai pihak tersebut diharapkan sistem pembelajaran tersebut lebih mudah disosialisasikan dan tertanam dengan lebih baik dalam pikiran masayarakat. Tetapi menurut saya titik tolaknya tetaplah pembelajaran di sekolah-sekolah guna menciptakan generasi-generasi muda yang betul-betul sadar akan pentingnya pelestarian alam.
 
 
 
Belajar Berbicara Di Depan Umum
Melisa Giovani   
17-11-2009
( 2 Votes )
Seorang teman mengajakku datang ke pertemuan informasi tentang Toastmasters, sebuah klub pidato yang cabangnya baru didirikan di alma materku. Karena ingin memberikan dukungan untuk temanku yang merupakan salah satu anggota inti Toastmasters, aku akhirnya datang tanpa mempunyai harapan yang berlebihan. Toh, aku juga seorang alumni yang tidak diwajibkan untuk menjadi anggota klub tersebut.

Kesan pertamaku? Sangat kagum dengan organisasi pertemuan yang efisien. Semua orang yang datang diberikan selembar kertas dengan jadwal pertemuan yang cukup padat untuk satu jam selanjutnya. Pendidik- pendidik klub sekolah kami datang dan menunjukkan kebolehannya dengan memberikan pidato singkat tentang mengapa mereka akhirnya ikut serta dalam Toastmasters. Yang paling mengesankan untukku ada sesi Topik Meja (Table Topics), di mana seseorang dilemparkan suatu pertanyaan sembarang dan diberikan waktu dua menit untuk memberikan jawaban yang mengena dan tidak bertele-tele. Saat pertemuan berakhir, tanpa pikir panjang aku menulis formulir pendaftaran keanggotaan Toastmasters.

Setelah melakukan sedikit riset tentang klub pidato ini, aku akhirnya mengetahui bahwa Toastmasters dimulai sekitar 85 tahun yang silam di Santa Ana, Californiadengan tujuan untuk melatih seorang individu seni pidato dan bagaimana mengetuai sebuah pertemuan1. Memang pertemuan Toastmasters dibuat sedemikian rupa seperti klub sosial untuk melepaskan ketegangan anggotanya yang mungkin tidak terlalu berani berbicara di depan umum. Saat ini, terdapat 12,500 klub dan lebih dari 250,000 anggota di 106 negara. Aku juga baru tahu dari sahabat pena di Tangerang bahwa Toastmasters juga ada di Indonesia! Dia sendiri adalah seorang anggota Toastmasters lokal di daerahnya dan beraspirasi untuk menjadi pembicara yang lebih mengesankan. Wah, sepertinya makin banyak orang di dunia yang ingin mengetahui bagaimana cara berpidato yang baik di depan umum.

Pertemuan klub pidato ini selalu dimulai oleh Toastmaster, panggilan beken pemimpin pertemuan tersebut dengan memperkenalkan presiden klub kami dan dilanjutkan oleh 3 pidato oleh anggotanya. Setiap pembicara diberikan waktu 6 menit untuk menyelesaikan pidatonya dan akan diberikan evaluasi oleh 3 anggota Toastmasters lainnya. Setiap evaluasi juga diberikan jangka waktu 2 sampai 3 menit. Lalu, sesi favoritku, Topik Meja, dimulai dan orang-orang yang sama sekali belum berbicara dalam pertemuan itu akan diberikan pertanyaan yang mungkin sedikit di luar angan-angan mereka. Kadang ada pertanyaan aneh seperti “Apakah arti kalimat ketidaktahuan adalah suatu kebahagiaan?”, “Jika anda hanya diberikan 1 hari lagi untuk hidup, apakah yang anda akan lakukan?”, atau “Apakah kata di dalam Bahasa Inggris yang paling kamu tidak sukai?”. Jawaban tidak perlu masuk akal, yang penting adalah bagaimana cara anda menjawab pertanyaan tersebut. Pertemuan akhirnya diselesaikan oleh 3 juru evaluasi: “opsir” waktu, yang memberi tahukan waktu yang digunakan pembicara untuk menyelesaikan topiknya; “opsir” penghitung “ah” yang menghitung berapa “ah”, “mm”, dan kata-kata janggal lainnya yang seharusnya tidak ditaruh di dalam kalimat sang pembicara, dan “opsir” tata bahasa yang memberikan komentar tentang susunan kata ataupun kalimat pembicara yang tidak tepat.

Setelah mengikuti 5 pertemuan Toastmasters, aku merasa lebih percaya diri saat maju di depan umum. Memang aku adalah seorang supel yang suka berbincang-bincang tentang topik apa saja secara lisan, tapi aku selalu sedikit gugup saat ditunjuk untuk berbicara lepas tanpa persiapan. Aku juga mulai bisa mengumpulkan ide-ide yang aku ingin bicarakan secara singkat sebelum aku mulai berbicara. Aku rasa topik yang kubawa semakin terorganisasi rapi dan tidak terlalu bertele-tele. Aku sendiri juga mulai sadar dari saran “opsir” penghitung “ah” bahwa aku suka memasukan “mm” saat sedang memikirkan poin selanjutnya yang akan aku bahas. Kesadaran ini membuatku menyisipkan selaan hening sebagai alternatif lain penggunakan kata sela “um”.

Aku sarankan teman-teman yang ingin belajar untuk berkomunikasi lebih berkesan dan berarti untuk mengikuti Toastmasters. Selain bisa ber-network dengan orang-orang profesional lainnya yang juga ingin belajar untuk berpidato yang baik, anda juga bisa bertumbuh untuk menjadi pembicara yang lebih efektif.

1 http://www.toastmasters.org/FunctionalMenuCategories/CompanyInformation/History.aspx
 
Mendefinisikan Indonesia: Teknologi, Budaya Menulis dan Demokratisasi Pengetahuan
Aldo Sunaryo   
13-09-2009
( 6 Votes )
Image is courtesy of tnarik of Flickr
Saya tidak pernah diajarkan cara menulis selama 13 tahun saya mengenyam pendidikan di Indonesia. Hal ini menambahkan keheranan dan juga kekaguman saya bagi orang-orang Indonesia yang bisa fasih menulis untuk berbagai majalah ataupun surat kabar, darimanakah mereka belajar untuk menulis? Sebagai seorang keturunan Cina, saya juga dididik untuk mengutamakan perkembangan ilmu menghitung atau sains saya. Saya hanya akan punya masa depan jika saya masuk kelas IPA ketika SMU. Belajar sains di Indonesia, saya tidak menulis. Saya menghitung, menghapal rumus, atau menjawab beratus-ratus pertanyaan pilihan ganda, tetapi tidak pernah saya diminta untuk berargumen, menjelaskan jalan pikiran saya, dalam bentuk tulisan. Pada tahun 2002, saya meninggalkan Indonesia untuk berkuliah di Amerika Serikat; saya tidak dapat menulis dalam bahasa Indonesia.
 
Selama berkuliah di Amerika Serikat, ada beberapa hal tentang menulis yang saya pelajari. Hal pertama adalah bahwa kemampuan menulis dipengaruhi oleh kebiasaan membaca. Bagaimana mau menulis kalau membaca saja jarang? Di sekolah, kegiatan utamanya adalah mencatat. Guru akan menghabiskan waktu pelajaran menuliskan catatan di papan tulis kapur (kebiasaan ini berubah sedikit ketika SMP, guru akan menunjuk salah satu siswa untuk menuliskan di papan, sementara guru melakukan hal lain seperti menilai hasil ulangan... atau tertidur), sementara kami semua menyalin tulisan di papan ke buku catatan kami masing-masing. Catatan pun biasanya bukan berupa kalimat yang lengkap, tetapi sekedar kata-kata, atau terkadang kalimat singkat, yang seharusnya membantu kami siswa-siswi untuk “memahami” pelajaran tersebut. Untuk pelajaran sains, kami beruntung bila bisa mendapatkan catatan lebih dari sekedar rumus-rumus. 
 
Bila kita mulai melihat ke statistika, tidak jelas bahwa siswa-siswa Indonesia memiliki kemampuan menulis atau tidak. Berdasar data dari UNICEF, 99 persen anak-anak di Indonesia dapat membaca dan menulis,  juga data dari depdiknas melaporkan bahwa 60 persen sekolah menengah pertama di Indonesia memiliki sarana perpustakaan. Saya pribadi, sebagai siswa hasil pendidikan Indonesia, merasakan langsung bahwa  kurikulum pendidikan Indonesia memiliki komponen menulis yang sangat minim. Saya percaya bahwa pengalaman ini juga dirasakan oleh sebagian besar mantan siswa Indonesia lainnya (S.Pd, 2008). 
 
Menuliskan Identitas Bangsa
Semasa saya SMA, terjadi suatu fenomena yang menarik. Sekolah saya yang terdiri dari campuran siswa-siswa dari berbagai ras, keturunan dan agama dapat menunjukan persatuan diantara siswa-siswanya – tidak terjadi kesenjangan ataupun konflik yang disebabkan oleh agama ataupun ras. Siswa-siswa lebih merasakan identitas bersama sebagai anggota dari sekolah yang sama ketimbang menonjolkan perbedaan warna kulit atau kesenjangan ekonomi. Persaudaraan terjadi diantara kami, siswa-siswa keturunan cina dan pribumi, kaya dan miskin, dan kami menjadi “Men for and with others”. Persatuan diantara siswa-siswa SMU saya hanya dapat terjadi karena kami memiliki identitas sebagai siswa dari satu sekolah yang sama. Apakah warga-warga Indonesia memiliki identitas yang sama sebagai manusia sebangsa dan setanah air, seperti apa yang kita setiap kali kumandangkan pada upacara bendera?
 
Berdasarkan "The New Oxford American Dictionary", definisi sebuah bangsa adalah sekelompok orang yang memiliki sejarah, budaya, bahasa, etnis bersama dan bisa diperdebatkan bahwa satu-satunya hal yang dimiliki bersama oleh rakyat Indonesia adalah bahasa. Budaya, etnis, dan bahkan sejarah antara golongan etnis di Indonesia masih terisolir antara satu dengan yang lainnya sampai hari ini. Situasi geografis Indonesia yang berupa pulau-pulau menyebabkan sulitnya untuk terjadi percampuran budaya dan etnis. Pengalaman sejarah pun tidak dirasakan bersama antar kelompok etnis, karena situasi geografis. Rakyat Jawa tidak merasakan keterbelakagan infrastruktur di Irian Jaya atau rakyat Batam tidak menghadapi bahaya dari pemberontakan GAM yang diderita rakyat Aceh. Bahasa Indonesia, yang dipakai oleh seluruh rakyat Indonesia, bisa menjadi kendaraan dalam pembentukan identitas bersama bangsa Indonesia. Melalui berita, seluruh rakyat Indonesia dapat merasakan derita ataupun pencapaian dari kelompok tertentu sebagai derita atau pencapaian yang patut ditanggung atau dirayakan oleh seluruh rakyat Indonesia. (Anderson, 1991)

Sejarah yang juga menjadi komponen pembentukan identitas bangsa Indonesia pun masih tersamar, terutama karena andil pemerintahan Orde Baru. Sejak Reformasi Indonesia, mulai bermunculan beberapa buku-buku yang mencoba untuk menjabarkan sejarah Indonesia dari sudut pandang lain, tetapi masih belum ada satu versi yang dianggap kebenaran dan tetaplah yang diajarkan di sekolah-sekolah masih mengikuti apa yang dituliskan oleh Orde Baru. Dapat dikatakan bahwa versi “formal” dari suatu sejarah adalah apa yang tertuliskan, meskipun terkadang apa yang masih lisan adalah yang lebih benar. Melalui tulisan, rakyat di Sumatra dapat tahu fakta yang sama yang diketahui oleh rakyat Jawa, rakyat Papua dapat percaya akan sejarah yang sama dengan yang dipercayai oleh rakyat Sulawesi, dan seterusnya. Apabila kebenaran hanya tetap dalam bentuk lisan, maka sulit untuk seluruh rakyat Indonesia yang dipisahkan oleh jarak geografis ataupun rakyat Indonesia antar generasi yang dipisahkan waktu untuk dapat percaya akan kebenaran dan fakta yang sama. Media tertulis, lain dengan media lisan seperti radio, dapat melampaui jurang waktu. Generasi muda Indonesia tidak dapat mendengarkan berita radio seperti yang didengar oleh angkatan pejuang ’45, tetapi dapat membaca surat deklarasi kemerdekaan yang dikumandangkan Soekarno. 
 
Tulisan, terutama tulisan sejarah, adalah media yang penting untuk pembentukan identitas bangsa. Masalah yang dihadapi bangsa Indonesia adalah tulisan sejarah yang saat ini ada bukanlah sejarah Indonesia yang lengkap atau sebenarnya, tetapi hasil rekayasa dan manipulasi pemerintahan Orde Baru. Untuk membentuk dan mengembalikan identitas bangsa Indonesia dari sisi sejarah, dibutuhkan kerja sama diantara sejarahwan, aktifis politik, peneliti budaya, dll untuk menuliskan sejarah lengkap Indonesia namun hal ini sangat sulit apabila siswa tidak diperkenalkan dan dibiasakan menulis, ataupun dihargai bila menyukai ilmu sosial (yang dianggap lebih tidak berharga ketimbang ilmu sains atau bisnis).

Demokratisasi Pengetahuan
Melalui Internet atau teknologi komunikasi tulisan masal lainnya, persebaran tulisan yang berisi berita, fakta dan pengetahuan dapat menjangkau rakyat Indonesia secara lebih menyeluruh. Trend user-driven content, atau yang sering dinamai Web 2.0, memberikan setiap individu dengan akses Internet untuk memberikan kontribusi dalam propagasi informasi di Internet.  Ensiklopedia bebas seperti Wikipedia menyebarkan pengetahuan secara luas, dan karena bebas biaya, satu-satunya syarat untuk mendapatkan informasi tersebut adalah hanya akses Internet.
 
Pada hari ini, 31 Juli 2009, portal budaya di Wikipedia Indonesia berisi “Halloween” sebagai artikel pilihan dan “Melville Jean Herskovits” sebagai budayawan pilihan. Kedua artikel tersebut berada di halaman depan sejak ditulisnya portal budaya pada tahun 2007. Tidakkah ironis bahwa artikel halaman depan portal budaya Wikipedia Indonesia  tidak pernah artikel yang bersangkutan dengan Indonesia? Tidakkah Indonesia memiliki budaya dan budayawan sendiri yang pantas menempati halaman depan portal budaya Wikipedia Indonesia? Di subkategori “Budaya Indonesia” terdapat 55 artikel, tetapi sebagian besar adalah artikel yang sangat singkat, yang tidak serinci artikel “Halloween” yang berupa terjemahan dari artikel dalam bahasa Inggris di Wikipedia Inggris. Kelompok “Sastra Indonesia” di Facebook memiliki 153 pengikut pada saat ini dan ini menunjukkan bahwa paling tidak ada 153 orang Indonesia yang memiliki akses Internet dan juga tertarik akan sastra Indonesia. Dengan kerja sama, tentu kelompok ini bisa mengembangkan artikel-artikel sastra Indonesia di Wikipedia Indonesia. Tentunya terdapat kelompok-kelompok lain dengan minat lain di dunia Internet yang juga dapat menuliskan tentang minatnya di Wikipedia Indonesia, namun lemahnya budaya tulisan di Indonesia menjadi penghambat terjadinya formalisasi dan propagasi masal pengetahuan, fakta dan berita melalui media tulisan.
 
Apakah membaca dan menulis dapat menjadi komponen yang signifikan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia? Kurikulum pendidikan di Indonesia  sukar untuk dikembangkan karena kurikulum ini harus dapat diterapkan oleh sekolah-sekolah baik yang miskin maupun yang berkecukupan. Penyediaan buku atau bahan bacaan lainnya dapat menjadi tantangan bagi sekolah-sekolah yang melayani siswa di kalangan masyarakat miskin. Untuk daerah-daerah miskin, penyediaan perpustakaan publik atau swasta menjadi lebih penting karena ketidakmampuan masyarakat sekitarnya untuk memiliki buku-buku atau akses Internet. Disinilah salah satu kesempatan masyarakat kalangan atas Indonesia untuk dapat berpartisipasi dalam pengembangan bangsa, meskipun penyediaan pustaka, komputer dan akses Internet tidak menghasilkan keuntungan langsung bagi bisnis-bisnis di Indonesia. Kemampuan membaca dan menulis adalah fondasi dari pembentukan identitas bangsa. Masyarakat yang beridentitas akan menghasilkan atmosfir yang damai, menunjang pertumbuhan ekonomi bangsa, mengundang investasi asing, dan pada akhirnya akan menguntungkan pengusaha Indonesia; jika saja pengusaha-pengusaha Indonesia dapat memulai memikirkan investasi yang tidak mendatangkan laba instan – uang cepat dan mudah.

Karya Terkutip
  • Anderson, B. (1991). Imagined communities : reflections on the origin and spread of nationalism. London: Verso.
  • Janopoulos, M. (1986). The Relationship of Pleasure Reading and Second Language Writing Proficiency. TESOL Quarterly, Vol. 20, No. 4 , 763-768.
  • MEMBUDAYAKAN MENULIS DI KALANGAN SISWA. (2008, September 23). Dipetik 08 18, 2009, dari Blog Pak Saadi: http://paksaadi.blogspot.com/2008/09/membudayakan-menulis-di-kalangan-siswa.html
  • Publikasi Internasional Ilmuwan Indonesia Sangat Rendah. (2008, November 26). Dipetik Agustus 2009, dari Departemen Pendidikan Nasional: http://dikti.go.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=233