Artikel Ekonomi Terpopuler

  1. Beli Makanan Organik Atau Tidak?
    Melisa Giovani dan Winny Pratiwi, 18-08-2009 (759 hits)
  2. Microlending: Solusi Bisnis Wirausaha Indonesia
    Robert Ongko, 04-10-2009 (726 hits)
  3. Ikan Layur di Kawah Ijen
    Fadillah Putra, 14-06-2009 (700 hits)

Arsip Ekonomi

Ikan Layur di Kawah Ijen
Fadillah Putra    13-06-2009  
( 4 Votes )
  

Di Austin, hujan adalah pertanda akan datangnya musim panas. Sebagian besar orang pasti akan menyambut musim ini dengan riang gembira. Sebab mereka dapat mengekspresikan diri secara lebih bebas dan terbuka. Tanpa perlu balutan-balutan tebal yang menutupi bagian-bagian tubuh nan indah pemberian alam. Jujur saja, aku pun turut bahagia karenanya.
 
Tapi hujan dipagi ini terasa berbeda. Ia hadir bagai jutaan onak yang disiramkan dari neraka dan menghujami dinding-dinding kamarku. Lalu mencabik-cabik lubuk kerinduanku pada kampung dan tiga bidadari jelita dibalik dunia. Di sudut kamar aku tertatih mencari-cari akal yang masuk akal tentang mengapa aku harus meninggalkan mereka selama bertahun. Kuliah, tesis, gelar master. Lantas apa?
 
Aku teringat para nelayan giat di Pantai Teleng yang pergi dengan mata berbinar dan pulang dengan senyum lebar membawakan seikat ikan layur untuk keluarga tercinta. Terkenang wajah tenang petani yang menyeret sepeda tua bertimbun segunung gabah, membawanya pulang ke rumah. Atau kisah para pencari belerang di Kawah Ijen yang yang harus naik turun gunung tertinggi di pulau Jawa itu dua kali sehari, memanggul beban 80 kilogram di pundak demi mendapatkan uang tiga puluh ribu perak, untuk menghidupi istri dan anak.
 
Mereka terlalu mulia untuk diperbandingkan denganku yang setiap hari hanya duduk-duduk saja di ruang kelas ber AC, sambil sesekali terbata menyampaikan gagasan yang tak tertata. Atau seharian memelototi layar kristal cair elektrik yang menawarkan ribuan ragam nafsu tak bertekstur. Kerjaanku hanya menghabiskan uang puluhan juta beasiswa tanpa secuilpun merasa sedikitpun berdosa pada ikan layur, gabah dan belerang.
 
Di musim gugur, saat dingin mulai menyelinap kebalik kulit, hujan pun mulai perlahan menyingkir. Ketika itu, di ruang persegi berdinding keras aku mendengar celoteh tentang pilihan rasional dan game theory sebagai acuan bersama bagaimana peradaban seharusnya diatur. Juga omong kosong tentang opportunity cost yang menjadi dasar pilihan orang agar tidak dikatakan bodoh. Hal yang paling menyakitkan kurasakan saat mereka mulai bertanya: ā€œKenapa aku harus datang bertandang jauh-jauh kerumahmu kalau saat itu aku bisa ongkang kaki dirumahku sendiri?ā€ Orang pintar adalah mereka yang hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Dahsyat! Ingin rasanya melampaui sedikit garis batas ā€œanti-kekerasanā€ pada mereka, tapi sayang jumlah mereka terlalu banyak.
 
Bukankah ilmu pengetahuan seharusnya bertugas makin mendekatkan realitas dengan idealitas? Seperti James Watt membuat mesin uap di tahun 1784 seiring dengan masa dimana tenaga manusia makin dihargai? Saat banyak kekerasan dan perkosaan di jalanan, bukankah tugas para pakar hukum untuk datang dengan ide brilian untuk menghilangkannya? Saat goulitine menjadi alat pergantian kekuasaan, bukankah lantas cerdik cendikia datang dengan konsep ā€˜demokrasi’? Bukankah gagasan Christine de Pizan di abad kedelapanbelas adalah untuk membuat masyarakat yang lebih adil terhadap kaum perempuan?
 
Ilmu pengetahuan sudah seharusnya menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Di mana, konon, akan membuat kehidupan manusia menjadi makin ā€œber-adabā€.
 
Tapi, apakah itu pula yang ada di benak ā€œilmuwanā€ semacam John von Neumann pengusung ā€œgame theoryā€? Saat sekarang kenyataannya orang yang yang mecoba bicara soal kemuliaan pastilah akan mendapat sergahan ā€œah.. itu ā€˜kan cuma wishful thinking belakaā€, platonik: tukang mimpi.
 
Dengan krisis finansial saat ini, orang yang fasih berbicara soal ā€œspeculative bubbleā€ pastinya akan laris untuk menjadi narasumber di mana-mana. Tapi ini hanya menjelaskan keadaan, bukan menjawabnya. Seperti dikatakan oleh Hyman P. Minsky, bahwa sistem ekonomi dunia kini sebenarnya dibangun di atas gelembung-gelembung spekulasi. Gelembung-gelembung rapuh yang menahan Bumi seberat 5 triliun biliun kilogram ini. Lagi, jutaan manusia yang mengaku-aku ilmuwan di muka bumi ini tak mampu berbuat banyak.
 
Damai, anak pertamaku, gemar sekali memainkan gelembung-gelembung ini. Pedagang mainan gelembung biasanya membuatnya dari campuran air dan sabun, mungkin ditambah sedikit perwarna. Damai akan tertawa dan meloncat-loncat girang ketika berhasil membuat sebuah gelembung besar yang kemudian melayangl-layang di udara. Di pangkuan istriku, Mulia hanya bisa melihat saja kakaknya bermain-main gelembung.
 
Lalu gelembung itu akan terbang tinggi sampai pada titik tertentu ia tak kuasa menahan tekanan udara, lalu meletus. Bukan hanya tekanan udara yang membuat gelembung itu meletus, tetapi juga substansinya yang makin menipis. Kalau sudah begitu Damai kembali mencoba membuat gelembung baru, atau menyuruh aku dan istriku membuat gelembung-gelembung baru.
 
Tak lebih dan tak kurang, begitulah sistem ekonomi dunia dibangun. Fenomena ini sangatlah sederhana. Ambil contoh pedagang mainan gelembung tadi. Satu pedagang berjualan gelembung di muka sekolah dan mendapatkan untung yang banyak. Hal ini akan menarik pedagang-pedagang lainnya untuk ikut berjualan. Lama-kelamaan penawaran akan melebihi permintaan, yang berakibat keuntungan tidak dapat menutup biaya produksi. Pada saat persaingan bebas yang terjadi, maka semua pedagang akan mengalami kerugian yang sama. Lalu krisis ekonomi di sektor bisnis mainan gelembung pun akan terjadi.
 
Kenyataan ini diamini oleh seluruh ekonom dari berbagai aliran. Hanya saja yang membuat mereka berbeda adalah apa yang terjadi kemudian. Apakah kepala sekolah harus datang dan mengatur kembali tata cara berbisnis mainan gelembung? Apakah orang tua murid harus menambah uang saku, agar anak-anaknya bisa beli lebih banyak mainan gelembung, sehingga para pedagang selamat dari kebangkrutan? Ataukah dibiarkan saja, dengan keyakinan bahwa pasar akan stabil dengan sendirinya (self-fulfiling stability).
 
Model ekonomi primitif serupa ini terjadi di seluruh sektor dalam sistem ekonomi global hari ini. Di Amerika Serikat terjadi gelembung spekulasi di sektor perumahan atau ā€œhousing bubbleā€. Sebuah rumah yang dibeli dengan harga $160,000 di tahun 1996 dalam waktu tujuh tahun melonjak harganya menjadi $445,000 atau mengalami kenaikan sebesar 178%. Tentu hal ini sangat menggiurkan. Orang berbondong-bondong melakukan hal yang sama, membeli rumah sebagai bagian dari bisnis. Bahkan harian Washington Post dibulan April 2006 pernah memberitakan bahwa ada orang yang membeli dalam menjual rumah pada hari yang sama! Akibatnya tabungan di bank pun menurun drastis, sebab semua uang habis berputar di bisnis jual beli rumah. Dan, secara ironis, akibatnya harga rumah menjadi makin mahal. Sebab keinginan orang untuk membeli rumah (untuk dijual kembali, bukan untuk ditinggali) meningkat tajam. Pada titik kenaikan harga tertentu, harga rumah menjadi terlalu mahal bagi pembeli, terutama jika dibandingkan dengan harga sewa. Karena harga yang secara relatif mahal ini, orang pun makin malas membeli rumah, dan berpikir lebih baik menyewa saja. Sehingga permintaan akan rumah merosot tajam. Inilah titik di mana gelembung itu meletus.
 
Yang tinggal kemudian adalah jutaan orang yang memiliki rumah, tapi tak bisa menjualnya sebab tak ada orang yang mau membeli, dan tak punya tabungan. Likuiditas membeku. Sejak tahun 2007 harga rumah di Amerika turun sebesar 30%. Jadi, kalau anda membeli rumah seharga 600 juta rupiah di tahun 2004 maka anda hanya akan mampu menjualnya seharga 420 juta rupiah ditahun 2007, atau rugi sebesar 180 juta! Bisa dihitung berapa total kerugian bila dianggap saja ada 20 juta orang Amerika yang melakukan bisnis semacam ini. Belum termasuk multiplier effects nya.
 
Sekali lagi, ā€œeconomic bubbleā€ semacam ini terjadi di mana-mana diseluruh penjuru dunia dan di berbagai sektor. Pemenang Nobel Ekonomi 2008, Paul Krugman, juga pernah bercerita tentang gelembung finansial di negara dunia ketiga sebagai sebab krisis ekonomi 1997. Lalu ā€œdot-com bubbleā€ yang berakibat rontoknya bisnis internet di dunia pada tahun 2000.
 
Kembali pada contoh ā€œhousing bubbleā€ di Amerika, sebagian dari kita lalu akan bertanya, dari mana orang-orang itu mendapatkan uang untuk menjalankan bisnis instan semacam jual beli rumah ini? Tentu jawabnya adalah dari pinjaman bank (mortgage), dari sistem finansial. Masyarakat mengajukan kredit pada bank untuk membeli rumah, dengan harapan akan membayarnya setelah berhasil menjual rumah itu kembali, dan meraup untung.
 
Lantas, dari mana bank mendapatkan uang untuk memberi pinjaman pada orang-orang ini, jawabannya sungguh diluar dugaan: dengan meminjam uang ke bank lain! Ini disebut dengan proses sekuritisasi. Tentu saja nama yang sangat aneh dan paradoks; sebab ini adalah sistem yang sama sekali tidak aman. Dengan sistem finansial semacam ini, kebangkrutan di satu bank bisa dengan cepat menular ke bank-lain. Parahnya, sistem finansial yang rapuh dan saling tergantung ini telah terinternasionalisasi dengan pusatnya adalah Amerika Serikat!
 
Di mana para cerdik pandai, ekonom, ilmuwan, filosof, dll berada saat hal-hal ini terjadi? Amerika dan Inggris adalah negara-negara yang seringkali di klaim memiliki kampus-kampus dan professor-professor terbaik di dunia, tapi justru dari dua negara inilah sistem ekonomi yang rapuh itu lahir. Ilmu pengetahuan sama sekali tidak menawarkan dan memberikan apa-apa. Lantas apa sebenarnya yang disebut ber-adab (ā€œcivilizeā€) dan proses memberadabkan (ā€œcivilizationā€) itu?
 
Ilmuwan-ilmuwan semacam Paul Krugman, Dean Baker, James K. Galbraith, William Black dll mungkin akan berkata lantang: ā€œkami sudah mengingatkan sejak jauh-jauh hari, tapi mereka (katakanlah kepala bank sentral Amerika/the Fed Alan Greenspan) tak pernah mendengar!ā€ Dari apologi semacam itu maka pertanyaanku adalah ā€œMengapa selama ini Alan tak mendengarkan kalian?ā€ Tentu saja karena gagasan-gagasan mereka tak enak di dengar telinga, karena penuh dengan kekuatiran serta ancaman, dan, pastinya, tak nyaman bagi mengalirnya uang ke kantong.
 
Alan Greenspan lebih mendengarkan omongan Myron Scholes, Robert C. Merton dan John Meriwether para petinggi perusahaan finansial raksasa bernama Long-Term Capital Management (LTCM). Perusahaan perdagangan saham yang menguasai seluruh sirkulasi dagang di Wall Street ini bertabur doktor-doktor paling genius lulusan Harvard, MIT, Stanford dan London School of Economics (LSE). Bahkan dua diantaranya adalah peraih Nobel di bidang ekonomi. Yang bekerja secara konkret menghasilkan milyaran US$ di perputaran saham Dow Jones.
 
Kendati begitu, LTCM rontok juga digilas dungunya sistem finansial global hingga menderita kerugian US$4.6 milyar diakhir dekade 1990an. Lalu pertanyaannya, siapa yang lebih dungu, sistem finansialnya atau para PhD ā€œgeniusā€ itu?
 
Lantas bagaimana dengan Indonesia?


(Bersambung ke Ikan Layur di Kawah Ijen - 2)

Comments
Add New
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.