|
Robert Ongko
|
|
04-10-2009
|
|
|
|
Yaw, seorang tukang kayu di Ghana, Afrika sedang ingin mengembangkan bisnis pengecatannya. Bapak yang mempunyai dua putri ini sedang bingung bagaimana dia bisa mendapatkan pinjaman uang. Meminjam uang dari bank lebih banyak masalah daripada untungnya, bunga yang tinggi, butuh jaminan juga, mana untung dagang juga pas-pas an juga. Yaw berpikir kalau dia bisa mendapatkan cukup dana untuk memberi materi cat dalam bentuk bulk dia bisa memperbesar bisnis pengecatan dia. Di tengah-tengah kebingungannya, dia menemukan Kiva, sebuah institusi microlending dari Amerika Serikat. Cara bekerja Kiva adalah dengan memberi pinjaman dana kepada pemilik-pemilik bisnis kecil di negara-negara berkembang atau belum berkembang, seperti Afrika, Amerika Latin, India dan sebagainya. Para pemilik bisnis kecil ini sudah terlebih dahulu disaring oleh Partner Kiva di negara tersebut untuk melihat kalau bisnis-bisnis ini dapat berjalan atau berpotensi untuk hidup. Dengan demikian bisnis-bisnis tersebut bisa membayar kembali pinjaman mereka. Apakah itu microlending? Microlending adalah pinjaman-pinjaman dana kecil untuk para pengusaha yang kurang mampu untuk memberi mereka kesempatan untuk mengembangkan usaha mereka. Para pengusaha kecil ini sering kali tidak mempunyai jaminan, sumber pendapatan yang mantap atau kredit yang bagus yang membuat mereka susah untuk meminjam uang dari bank. Microlending adalah alat untuk mengembangkan sosial ekonomi di negara-negara berkembang atau negara kelas tiga. Ini adalah diagram cara kerja microlending Kiva: Orang-orang seperti kita yang mau meminjamkan dana (kreditor) bisa melihat profil-profil pengusaha di situw web Kiva dan memilih pengusaha itu. Mereka bisa meminjamkan dana dalam kelipatan $25 USD melalui kartu kredit atau Paypal. Kiva akan mengumpulkan dana-dana tersebut dan kemudian menyebarkannya ke Partner-Partner mereka di negara masing-masing. Partner Kiva kemudian menyebarkan dana tersebut kepada pengusaha-pengusaha yang sudah memenuhi syarat. Partner mereka juga kadang kala menyediakan pelatihan dan bantuan lain yang akan membuat bisnis pengusaha itu menjadi sukses. Pengusaha-pengusaha tersebut, waktu demi waktu, sedikit-sedikit membayar kembali pinjaman mereka. Kemajuan pembayaran itu dan berita yang lain bisa dilihat di situs web Kiva. Ketika kreditor mendapatkan uang mereka kembali, mereka bisa meminjamkan kepada pengusaha-pengusaha lain. Siklus ini akan bisa berputar terus.
 Menurut statistik hanya 2% dari peminjam Kiva yang tidak bisa membayar pinjaman kembali. Menurut saya itu presentase yang cukup bagus. Juga kreditor biasanya meminjamkan dana dalam jumlah kecil untuk mengurangi resiko, akan tetapi karena banyak kreditor untuk satu pengusaha, pengusaha itu bisa memenuhi dana yang mereka butuhkan, yang bisanya di bawah $1000 USD. Apa kemudian untungnya buat kreditor? Mereka khan sebenarnya tidak menerima bunga apa-apa dari peminjaman ini. Sesuai dengan prinsip microlending, pada kreditor mendapatkan kepuasan dari kemampuan untuk membantu orang-orang yang berkurangan. Kreditor mendapatkan kepuasan dari melihat bahwa mereka bisa memperbaiki hidup orang lain, memberi mereka kesempatan untuk mendapatkan hidup yang layak dan sejahtera.
Coba kita bayangkan kalau Kiva atau organisasi microlending yang lain mempunyai Partner-Partner lebih banyak di Indonesia untuk membantu bisnis-bisnis kecil di Indonesia. Pengusaha-pengusaha kecil di Indonesia bisa menjalankan bisnis mereka, seperti para nelayan, toko kelontong, tukang jahit, pengerajin, dsb., tanpa harus meminjam uang dari bank yang berbunga tinggi atau dari lintah darat yang ingin mengekang hidup mereka. Para pengusaha kecil tersebut bisa mempunyai kondisi hidup yang baik, mereka bisa mempunyai bisnis yang bisa berjalan terus dan bisa mencukupi kebutuhan keluarga mereka, bisa mampu membawa keluarga mereka yang sakit ke dokter atau membiayai anak-anak mereka ke sekolah. 
Mungkin teman-teman yang berada di Indonesia yang terbeban dengan nasib pengusaha kecil di Indonesia bisa menjadi Partner di Indonesia untuk organisasi microlending. Dengan digabung bersama koperasi unit desa, konsep microlending ini akan memberi alternatif dan suplemen buat para pengusaha kecil di Indonesia. Juga, teman-teman lain yang mempunyai keuangan lebih mungkin bisa membantu dana organisasi microlending untuk meningkatkan kesejahteraan pengusaha bisnis-bisnis kecil di Indonesia. Seperti kata pepatah: āSedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit.ā Semakin banyak orang-orang yang ingin membantu bisnis kecil di Indonesia, semakin cepat meningkat kesejahteraan mereka.
|
|
Melisa Giovani dan Winny Pratiwi
|
|
17-08-2009
|
|
|
|
Dalam sepuluh tahun terakhir, warga dunia sepertinya semakin marak membeli makanan organik. Penjualan global makanan organik terhitung $22.75 bilyar pada tahun 2007, dengan pertumbuhan lebih dari dua kali lipat dibanding lima tahun sebelumnya.[i] Konsumen utama makanan organik di dunia adalah warga-warga negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis. Apa sih maksudnya makanan organik? Kata āorganikā artinya cara para petani menanam dan memproses produk pertanian (termasuk hewan ternak) dengan tujuan untuk melindungi alam dan berupaya mengurangi polusi udara. Pupuk tanaman organik terbuat dari produk alami seperti kompos dan kotoran hewan. Untuk mencegah hama, petani menggunakan bantuan serangga dan burung yang memang sumber makanannya adalah hama-hama tersebut. Ternak organik diberikan makanan alamiah yang seimbang, tidak dibatasi oleh kandang, dan tempat peternakan yang bersih. [ii] Masih belum ada bukti bahwa makanan organik lebih bergizi dibanding buah, sayur, dan produk hewan biasa. Bahkan, soal rasa pun, kebanyakan orang tidak bisa membedakannya. Satu fakta kuat yang mendorong orang untuk memilih makanan organik adalah kepedulian mereka untuk menjaga lingkungan. Praktek menanam tanaman dan menternakkan hewan dengan metode organik memang terbukti mengurangi polusi udara dan menghemat penggunaan air dan tanah. Melihat peningkatan permintaan makanan organik di negara-negara maju, bagaimana dengan perkembangan pasar makanan organik di Indonesia? Ternyata permintaan konsumen untuk makanan organik di Indonesia juga turut meningkat. Menurut Yayasan Bina Sarana Bakti, salah satu produser buah dan sayur-sayuran organik terbesar di Jawa Barat, permintaan dalam negeri meningkat dari 70 ton di tahun 2001 menjadi 100 ton di tahun 2004. Permintaan makanan organik lebih banyak datang dari penduduk di kota-kota besar di Indonesia, di mana penduduknya memiliki tingkat penghasilan dan tingkat kesadaran akan kesehatan yang lebih tinggi.[iii]Dan juga, untuk mendapatkan makanan organik ternyata bukanlah hal yang sulit bagi penduduk Indonesia. Banyak petani-petani Indonesia yang lebih memilih pertanian cara tradisional dan tidak menggunakan bahan-bahan kimia. Hal ini dikarenakan mahalnya harga pupuk buatan dan pestisida, sehingga para petani tidak mampu untuk membelinya.[iv] Ketersediaan makanan organik juga dipermudah dengan bermunculannya distributor buah dan sayur-sayuran organik di kota-kota besar di Indonesia yang menyediakan jasa antar langsung ke depan pintu para konsumen.[v] Prospek yang bagus untuk pasar makanan organik bukan? Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah mengapa belum semua penduduk Indonesia mengkonsumsi makanan organik? Harga makanan organik yang lebih tinggi adalah salah satu kendala yang paling jelas, melihat tingkat kemiskinan penduduk Indonesia yang masih tinggi. Kendala yang lain adalah masih kurangnya gerakan-gerakan kepedulian lingkungan di Indonesia dan pemasaran publikasi yang menjelaskan bahwa permintaan makanan organik dari konsumen dapat berpengaruh besar untuk pelestarian lingkungan. Keberadaan para petani organik sangat bergantung kepada permintaan konsumen yang dapat melindungi pasar buah dan sayur-sayuran organik karenanya lemahnya perlindungan pemerintah atas hak-hak petani untuk menentukan harga jual hasil jerih payah mereka. Untungnya, krisis ekonomi kali ini telah memaksa sebagian petani yang biasanya menggunakan pupuk buatan untuk memilih pupuk alami.[vi] Petani tidak hanya mengurangi ongkos produksi panganan, tetapi mereka juga bisa mendapat keuntungan margin yang jauh lebih besar karena hasil panen yang dilabel sebagai produk organik. Tentunya dengan lebih banyaknya produksi hasil panen organik, konsumen juga mulai bisa tertarik untuk membeli produk organik. Untuk mengurangi pandangan negatif konsumen tentang harga produk organik yang biasanya 30% lebih mahal dibanding harga produk biasa, pemerintah hendaknya turun tangan dalam mempromosikan faedah produk organik yang dapat membantu melestarikan lingkungan kita. Kampanye nasional yang sebesar kampanye keluarga berencana dua puluh tahun yang silam mungkin bisa diterapkan. Pertemuan kecil di kelurahan atau balai kota bisa dilaksanakan untuk menyampaikan pengetahuan makanan organik kepada rakyat. Indonesia juga bisa belajar dari Amerika Serikat yang supermarketnya menyisipkan informasi nutrisi di atas rak produk organik tersebut. Subsidi untuk pupuk atau makanan ternak juga bisa diberikan kepada petani yang bercocok tanam atau mengembang biakkan produk organik. Tampaknya masa depan makanan organik di Indonesia bisa ditingkatkan hingga setara dengan negara-negara lain yang telah lama mengkomsumsi makanan organik. Hal ini dapat terjadi jika pemerintah bisa memberikan sarana moneter dan marketing yang pantas untuk menyokong pertumbuhan makanan organik tersebut.Tentunya kita sebagai warga Indonesia juga harus lebih terbuka untuk mencoba produk yang relatif baru di telinga kita tersebut. Marilah kita mulai membeli makanan organik, yang di jangka panjang bisa membantu melestarikan tanah air ini. Dengan itu, kita juga secara tidak langsung memberikan kesempatan kepada generasi anak cucu kita untuk menikmati keindahan tanah air kita yang subur ini.
|
|
Fadillah Putra
|
|
13-06-2009
|
|
|
|
(Lanjutan dari Ikan Layur di Kawah Ijen -1 )
Dalam banyak sisi tentu kita adalah semata āgroupiesā dari konser besar ekonomi dunia ini. Semenjak kolonialisme, perang dunia (I dan II) dan berujung pada diberlakukannya Bretton Woods system Amerika telah menjadi ālead vocalā sekaligus pimpinan band raksasa ini. Sementara, negara-negara seperti Kanada, Eropa Barat, Australia dan Jepang adalah para ābacking vocalā nya (dalam istilah Immanuel Wallernstein ālead vocalā = āthe coreā, ābacking vocalā = āalliesā dan āgroupiesā = āperipheryā). Sementara, Kuba, Myanmar, Lybia, Korea Utara, dan belakangan Venezuela, Iran, dan Bolivia adalah sekelompok orang yang kebetulan tak berselera dengan aliran musik yang dimainkan. Aliran musik yang dimainkan band ini adalah liberalisme pasar, yang percaya bahwa pasar bebas akan memberikan alokasi yang tepat pada sumber daya yang dimiliki oleh sebuah sistem. Tugas negara adalah semata-mata menjamin agar pasar dapat bergerak secara bebas dan natural tanpa hambatan. Ibarat sungai, tugas negara hanya membersihkan serta menyingkirkan tumpukan sampah, pohon tumbang, dan bebatuan di dalam sungai itu yang akan menghambat mengalirnya air ekonomi secara bebas. Hal-hal serupa korupsi, tata pemerintahan yang buruk, kekacauan politik, diktatoriansme, Marxisme, dsb adalah bagian dari sampah, dahan kering dan bebatuan yang harus di singkirkan. Itulah tugas negara! Tak boleh lebih dan tak boleh kurang. Agar semua orang dapat menikmati musik ini, si penyanyi membagi-bagikan hadiah pada setiap pembeli kasetnya. Hadiahnya bukan ākondomā seperti yang dilakukan Julia Perez, melainkan aliran modal (ācapital inflowā). Judul dari album mereka ini adalah āWashington Consensus.ā Dan memang terbukti, para penggemar dan terlebih para āgroupiesā band ini mendapatkan insentif secara langsung di tahun 1990-an. Penggemarnya pun dari berbagai kalangan mulai dari tukang jagal semacam Suharto hingga putri anggun nan baik hati semacam Corazon Aquino. Distributor dari album āWashington Consensusā ini adalah lembaga-lembaga internasional, termasuk IMF dan the World Bank. Dan mereka selalu memasang menteri-menteri ekonomi di tiap negara-negara āgroupiesā yang bisa dengan baik menyanyikan lagu liberalisme di negaranya masing-masing, tentunya secara ālips-singā. Malaysia pada akhir dekade 1990an diwakili oleh Anwar Ibrahim, yang kemudian harus disingkirkan oleh Mahathir Muhammad sebab ia menjadi penghalang kebijakan Mahathir yang āanti-IMFā pada saat itu. Sebagai ālips-singerā yang baik, sarat utamanya adalah: jangan bernyanyi! Cukup gerak-gerakan saja bibir mengikuti langgam yang sudah pakem. Tak peduli semerdu apapun suaranya, sepintar apapun dalam berimprovisasi: ājust dont sing, okay?!ā Dalam hal ini, karena tugas seorang mentri adalah memikirkan untuk membuat kebijakan, dari analogi ālips-singerā tadi, maka tugas menteri perekonomian di negara-negara āgroupiesā hanya satu saja: Jangan Berpikir! Tentu saja, pekerjaan untuk ātidak berpikirā itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Perlu sekolah sampai ke Wharton School of Economics University of Pennsylvania dan/atau University of Illinois Urbana-Campaign untuk bisa melakukannya dengan baik. Seperti halnya para āgroupiesā band yang rela memberikan segala yang dimilikinya demi sang idola, negara-negara āgroupiesā termasuk Indonesia pun demikian. Juga, para penyanyi latar, harus mendukung agar sang ālead vocalā tetap eksis di pentas. Sebab bila sang ālead vocalā tampil buruk dan tidak lagi populer, maka mereka semua pun akan terkena getahnya. Dalam hal ini, ākeamananā adalah insentif utama dari sistem global ekonomi-politik tersebut. Sehingga, sesungguhnya ada mekanisme kesalingtergantungan antara ketiga level itu. Kesalingtrgantungan yang diikat oleh kebutuhan akan ārasa amanā. Sistem ini mengingatkanku saat menonton program-progam di āNational Geographic Channelā tentang bagaimana binatang-binatang mengelola komunitas mereka. Sang kepala singa memberika proteksi pada singa betina dan singa jantan yang jadi cecunguknya. Lantas, kalau Indonesia adalah groupies, mungkinkah kita menjadi penyanyi utama. Mungkin saja, tapi sayangnya dunia ini bukanlah pementasan āIndonesian Idolā yang bisa mengubah pengamen menjadi bintang dalam sekejap. Perlu ada penelaahan sejarah yang hati-hati dan sungguh-sungguh memetik pelajaran dari proses transisi dan sebab perpindahan kekuasaan hegemonik global mulai dari Mesopotamia, Roma, Persia, London sampai New York City. Tentunya tiap jaman memiliki konteks yang berbeda-beda. Sehingga pelajaran dari satu jaman tak bisa serta-merta diterapkan dijaman lainnya. Penggunaan US$ sebagai satu-satunya alat tukar perdaganan internasional, sistem finansial global dan penguasaan senjata nuklir, adalah hal-hal yang tak pernah terjadi di penggalan periodisasi kekuasaan dunia jaman dulu. Inilah yang membuat kekuasaan hegemon di jaman ini sepertinya menjadi lebih sulit bergeser. Tapi setidaknya kita dapat menjadi āgroupiesā yang lebih bermartabat. Sesungguhnya ada dua jenis āgroupies.ā Ada yang murahan hingga sulit dibedakan apakah sesungguhnya ia āgroupiesā ataukah pelacur. Tetapi ada pula groupies yang terhormat, bermartabat dan berbakat. Yang siapa tahu suatu saat bisa diangkat jadi penyanyi latar. Tentu pilihan yang kedualah yang terasa rasional untuk jangka pendek dan menengah. Tapi, tentu saja, hal-hal stategis semacam hanya bisa mulai dilakukan setelah Indonesia tak lagi disibukkan proses rebutan mainan antara SBY, Mega, Prabowo, Wiranto, dll. Tetapi meskipun demikian, katakanlah kita telah berhasil menjadi āgroupiesā bermartabat semacam Malaysia, Taiwan atau Afsel, hal ini bukan berarti keidakadilan menjadi hilang. Proses eksploitasi yang dilakukan hegemon tetap terus terjadi. Hegemon terus menjual ārasa takutā untuk terus menghisap madu ketergantungan para penggemarnya itu. Bila dulu ia menjual ketakutan akan diktatorianisme Uni Soviet, sekarang mereka menjual ketakutan akan Terorisme. Nanti entah apalagi. Hegemon akan terus menciptakan musuh-musuh bersama untuk melestarikan rasa takut itu. Sistem dunia yang primitif yang tak jauh beda dengan cara-cara binatang mempertahankan komunitasnya ini tetap berlangsung hingga di abad XXI sekarang ini. Dibangun di atas menara-menara gading perguruan tinggi diseantero bumi. Mereka yang terus saja memproduksi kelas-kelas terdidik merasa bahwa akal, rasionalitas, individualitas, gelar doktor dan keprofesoran adalah puncak pencapaian filosofis tertinggi dalam kehidupan. Kelas yang merasa pantas mendapatkan rejeki dan status lebih layak ketimbang para pemancing ikan layur, penyabit gabah dan pengangkut belerang. Di luar hujan telah reda, tapi tak ada setetespun air bisa direguk untuk melepaskan dahaga akan keadilan.
East Austin, April 2009
|
|
Fadillah Putra
|
|
13-06-2009
|
|
|
|
Di Austin, hujan adalah pertanda akan datangnya musim panas. Sebagian besar orang pasti akan menyambut musim ini dengan riang gembira. Sebab mereka dapat mengekspresikan diri secara lebih bebas dan terbuka. Tanpa perlu balutan-balutan tebal yang menutupi bagian-bagian tubuh nan indah pemberian alam. Jujur saja, aku pun turut bahagia karenanya. Tapi hujan dipagi ini terasa berbeda. Ia hadir bagai jutaan onak yang disiramkan dari neraka dan menghujami dinding-dinding kamarku. Lalu mencabik-cabik lubuk kerinduanku pada kampung dan tiga bidadari jelita dibalik dunia. Di sudut kamar aku tertatih mencari-cari akal yang masuk akal tentang mengapa aku harus meninggalkan mereka selama bertahun. Kuliah, tesis, gelar master. Lantas apa? Aku teringat para nelayan giat di Pantai Teleng yang pergi dengan mata berbinar dan pulang dengan senyum lebar membawakan seikat ikan layur untuk keluarga tercinta. Terkenang wajah tenang petani yang menyeret sepeda tua bertimbun segunung gabah, membawanya pulang ke rumah. Atau kisah para pencari belerang di Kawah Ijen yang yang harus naik turun gunung tertinggi di pulau Jawa itu dua kali sehari, memanggul beban 80 kilogram di pundak demi mendapatkan uang tiga puluh ribu perak, untuk menghidupi istri dan anak. Mereka terlalu mulia untuk diperbandingkan denganku yang setiap hari hanya duduk-duduk saja di ruang kelas ber AC, sambil sesekali terbata menyampaikan gagasan yang tak tertata. Atau seharian memelototi layar kristal cair elektrik yang menawarkan ribuan ragam nafsu tak bertekstur. Kerjaanku hanya menghabiskan uang puluhan juta beasiswa tanpa secuilpun merasa sedikitpun berdosa pada ikan layur, gabah dan belerang. Di musim gugur, saat dingin mulai menyelinap kebalik kulit, hujan pun mulai perlahan menyingkir. Ketika itu, di ruang persegi berdinding keras aku mendengar celoteh tentang pilihan rasional dan game theory sebagai acuan bersama bagaimana peradaban seharusnya diatur. Juga omong kosong tentang opportunity cost yang menjadi dasar pilihan orang agar tidak dikatakan bodoh. Hal yang paling menyakitkan kurasakan saat mereka mulai bertanya: āKenapa aku harus datang bertandang jauh-jauh kerumahmu kalau saat itu aku bisa ongkang kaki dirumahku sendiri?ā Orang pintar adalah mereka yang hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Dahsyat! Ingin rasanya melampaui sedikit garis batas āanti-kekerasanā pada mereka, tapi sayang jumlah mereka terlalu banyak. Bukankah ilmu pengetahuan seharusnya bertugas makin mendekatkan realitas dengan idealitas? Seperti James Watt membuat mesin uap di tahun 1784 seiring dengan masa dimana tenaga manusia makin dihargai? Saat banyak kekerasan dan perkosaan di jalanan, bukankah tugas para pakar hukum untuk datang dengan ide brilian untuk menghilangkannya? Saat goulitine menjadi alat pergantian kekuasaan, bukankah lantas cerdik cendikia datang dengan konsep ādemokrasiā? Bukankah gagasan Christine de Pizan di abad kedelapanbelas adalah untuk membuat masyarakat yang lebih adil terhadap kaum perempuan? Ilmu pengetahuan sudah seharusnya menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Di mana, konon, akan membuat kehidupan manusia menjadi makin āber-adabā. Tapi, apakah itu pula yang ada di benak āilmuwanā semacam John von Neumann pengusung āgame theoryā? Saat sekarang kenyataannya orang yang yang mecoba bicara soal kemuliaan pastilah akan mendapat sergahan āah.. itu ākan cuma wishful thinking belakaā, platonik: tukang mimpi. Dengan krisis finansial saat ini, orang yang fasih berbicara soal āspeculative bubbleā pastinya akan laris untuk menjadi narasumber di mana-mana. Tapi ini hanya menjelaskan keadaan, bukan menjawabnya. Seperti dikatakan oleh Hyman P. Minsky, bahwa sistem ekonomi dunia kini sebenarnya dibangun di atas gelembung-gelembung spekulasi. Gelembung-gelembung rapuh yang menahan Bumi seberat 5 triliun biliun kilogram ini. Lagi, jutaan manusia yang mengaku-aku ilmuwan di muka bumi ini tak mampu berbuat banyak. Damai, anak pertamaku, gemar sekali memainkan gelembung-gelembung ini. Pedagang mainan gelembung biasanya membuatnya dari campuran air dan sabun, mungkin ditambah sedikit perwarna. Damai akan tertawa dan meloncat-loncat girang ketika berhasil membuat sebuah gelembung besar yang kemudian melayangl-layang di udara. Di pangkuan istriku, Mulia hanya bisa melihat saja kakaknya bermain-main gelembung. Lalu gelembung itu akan terbang tinggi sampai pada titik tertentu ia tak kuasa menahan tekanan udara, lalu meletus. Bukan hanya tekanan udara yang membuat gelembung itu meletus, tetapi juga substansinya yang makin menipis. Kalau sudah begitu Damai kembali mencoba membuat gelembung baru, atau menyuruh aku dan istriku membuat gelembung-gelembung baru. Tak lebih dan tak kurang, begitulah sistem ekonomi dunia dibangun. Fenomena ini sangatlah sederhana. Ambil contoh pedagang mainan gelembung tadi. Satu pedagang berjualan gelembung di muka sekolah dan mendapatkan untung yang banyak. Hal ini akan menarik pedagang-pedagang lainnya untuk ikut berjualan. Lama-kelamaan penawaran akan melebihi permintaan, yang berakibat keuntungan tidak dapat menutup biaya produksi. Pada saat persaingan bebas yang terjadi, maka semua pedagang akan mengalami kerugian yang sama. Lalu krisis ekonomi di sektor bisnis mainan gelembung pun akan terjadi. Kenyataan ini diamini oleh seluruh ekonom dari berbagai aliran. Hanya saja yang membuat mereka berbeda adalah apa yang terjadi kemudian. Apakah kepala sekolah harus datang dan mengatur kembali tata cara berbisnis mainan gelembung? Apakah orang tua murid harus menambah uang saku, agar anak-anaknya bisa beli lebih banyak mainan gelembung, sehingga para pedagang selamat dari kebangkrutan? Ataukah dibiarkan saja, dengan keyakinan bahwa pasar akan stabil dengan sendirinya (self-fulfiling stability). Model ekonomi primitif serupa ini terjadi di seluruh sektor dalam sistem ekonomi global hari ini. Di Amerika Serikat terjadi gelembung spekulasi di sektor perumahan atau āhousing bubbleā. Sebuah rumah yang dibeli dengan harga $160,000 di tahun 1996 dalam waktu tujuh tahun melonjak harganya menjadi $445,000 atau mengalami kenaikan sebesar 178%. Tentu hal ini sangat menggiurkan. Orang berbondong-bondong melakukan hal yang sama, membeli rumah sebagai bagian dari bisnis. Bahkan harian Washington Post dibulan April 2006 pernah memberitakan bahwa ada orang yang membeli dalam menjual rumah pada hari yang sama! Akibatnya tabungan di bank pun menurun drastis, sebab semua uang habis berputar di bisnis jual beli rumah. Dan, secara ironis, akibatnya harga rumah menjadi makin mahal. Sebab keinginan orang untuk membeli rumah (untuk dijual kembali, bukan untuk ditinggali) meningkat tajam. Pada titik kenaikan harga tertentu, harga rumah menjadi terlalu mahal bagi pembeli, terutama jika dibandingkan dengan harga sewa. Karena harga yang secara relatif mahal ini, orang pun makin malas membeli rumah, dan berpikir lebih baik menyewa saja. Sehingga permintaan akan rumah merosot tajam. Inilah titik di mana gelembung itu meletus. Yang tinggal kemudian adalah jutaan orang yang memiliki rumah, tapi tak bisa menjualnya sebab tak ada orang yang mau membeli, dan tak punya tabungan. Likuiditas membeku. Sejak tahun 2007 harga rumah di Amerika turun sebesar 30%. Jadi, kalau anda membeli rumah seharga 600 juta rupiah di tahun 2004 maka anda hanya akan mampu menjualnya seharga 420 juta rupiah ditahun 2007, atau rugi sebesar 180 juta! Bisa dihitung berapa total kerugian bila dianggap saja ada 20 juta orang Amerika yang melakukan bisnis semacam ini. Belum termasuk multiplier effects nya. Sekali lagi, āeconomic bubbleā semacam ini terjadi di mana-mana diseluruh penjuru dunia dan di berbagai sektor. Pemenang Nobel Ekonomi 2008, Paul Krugman, juga pernah bercerita tentang gelembung finansial di negara dunia ketiga sebagai sebab krisis ekonomi 1997. Lalu ādot-com bubbleā yang berakibat rontoknya bisnis internet di dunia pada tahun 2000. Kembali pada contoh āhousing bubbleā di Amerika, sebagian dari kita lalu akan bertanya, dari mana orang-orang itu mendapatkan uang untuk menjalankan bisnis instan semacam jual beli rumah ini? Tentu jawabnya adalah dari pinjaman bank (mortgage), dari sistem finansial. Masyarakat mengajukan kredit pada bank untuk membeli rumah, dengan harapan akan membayarnya setelah berhasil menjual rumah itu kembali, dan meraup untung. Lantas, dari mana bank mendapatkan uang untuk memberi pinjaman pada orang-orang ini, jawabannya sungguh diluar dugaan: dengan meminjam uang ke bank lain! Ini disebut dengan proses sekuritisasi. Tentu saja nama yang sangat aneh dan paradoks; sebab ini adalah sistem yang sama sekali tidak aman. Dengan sistem finansial semacam ini, kebangkrutan di satu bank bisa dengan cepat menular ke bank-lain. Parahnya, sistem finansial yang rapuh dan saling tergantung ini telah terinternasionalisasi dengan pusatnya adalah Amerika Serikat! Di mana para cerdik pandai, ekonom, ilmuwan, filosof, dll berada saat hal-hal ini terjadi? Amerika dan Inggris adalah negara-negara yang seringkali di klaim memiliki kampus-kampus dan professor-professor terbaik di dunia, tapi justru dari dua negara inilah sistem ekonomi yang rapuh itu lahir. Ilmu pengetahuan sama sekali tidak menawarkan dan memberikan apa-apa. Lantas apa sebenarnya yang disebut ber-adab (ācivilizeā) dan proses memberadabkan (ācivilizationā) itu? Ilmuwan-ilmuwan semacam Paul Krugman, Dean Baker, James K. Galbraith, William Black dll mungkin akan berkata lantang: ākami sudah mengingatkan sejak jauh-jauh hari, tapi mereka (katakanlah kepala bank sentral Amerika/the Fed Alan Greenspan) tak pernah mendengar!ā Dari apologi semacam itu maka pertanyaanku adalah āMengapa selama ini Alan tak mendengarkan kalian?ā Tentu saja karena gagasan-gagasan mereka tak enak di dengar telinga, karena penuh dengan kekuatiran serta ancaman, dan, pastinya, tak nyaman bagi mengalirnya uang ke kantong. Alan Greenspan lebih mendengarkan omongan Myron Scholes, Robert C. Merton dan John Meriwether para petinggi perusahaan finansial raksasa bernama Long-Term Capital Management (LTCM). Perusahaan perdagangan saham yang menguasai seluruh sirkulasi dagang di Wall Street ini bertabur doktor-doktor paling genius lulusan Harvard, MIT, Stanford dan London School of Economics (LSE). Bahkan dua diantaranya adalah peraih Nobel di bidang ekonomi. Yang bekerja secara konkret menghasilkan milyaran US$ di perputaran saham Dow Jones. Kendati begitu, LTCM rontok juga digilas dungunya sistem finansial global hingga menderita kerugian US$4.6 milyar diakhir dekade 1990an. Lalu pertanyaannya, siapa yang lebih dungu, sistem finansialnya atau para PhD āgeniusā itu? Lantas bagaimana dengan Indonesia?
(Bersambung ke Ikan Layur di Kawah Ijen - 2)
|
|
|